Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Sunday, January 6, 2019

Perda Larangan Merokok yang Hanya Menjadi Hiasan

Baca Juga



Kebiasaan merokok tampaknya sudah menyebar luas di kalangan masyarakat. Menemukan para perokok juga tak mengenal usia dan profesi. Dari anak-anak hingga orang tua tak luput dari kebiasaan merokok ini. Walaupun sudah banyak himbauan dilarang merokok, namun seolah-olah himbauan tersebut hanya diabaikan begitu saja. 

Sejak tahun 2010, pemerintah sudah membuat aturan yang termaktub dalam undang-undang no. 32 tahun 2010 tentang larangan merokok ditempat umum. Tetapi peraturan ini hanya menjadi hiasan dan tidak dijalankan. Banyak faktor yang harus kembali dilihat, mulai dari perokok, pemenrintah, dan penegakan hukum itu sendiri. 

Jika membahas mengenai peraturan, maka pangkalnya adalah pemerintah. Sejauh ini, sudah ada beberapa hal yang dilakukan pemerintah untuk mengatur para perokok, seperti meningkatkan harga rokok melalui cukai yang terus meningkat, aturan iklan rokok yang tidak boleh disembarang tempat serta tidak boleh memasukan gambar rokok di iklan tersebut, mengaburkan gambar rokok dalam film – film, serta membuat gambar – gambar menakutkan 

Namun bagaimana hasil dari kebijakan ini? Data menunjukan bahwa kebijakan ini hanya sebatas mengatur para perokok, dan belum efektif dalam menurunkan jumlah perokok. Dilansir dari tempo.co, Lebih dari sepertiga atau 36,3 persen penduduk Indonesia saat ini menjadi perokok. 

“Bahkan 20 persen remaja usia 13-15 tahun adalah perokok,” kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek saat membuka Indonesian Conference on Tobacco or Health di Balai Kartini, Jakarta, 15 Mei 2017.

Hal yang lebih mencengangkan, kata Nila, saat ini, remaja laki-laki yang merokok kian meningkat. Data pada tahun lalu memperlihatkan peningkatan jumlah perokok remaja laki-laki mencapai 58,8 persen. “Kebiasaan merokok di Indonesia telah membunuh setidaknya 235 ribu jiwa setiap tahun,”  ujarnya.
Disatu sisi kita dapat melihat bahwa rokok merupakan bahaya bagi kesehatan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa rokok sudah menjadi kebiasan orang Indonesia, dan ironinya, pajak rokok merupakan pemasukan kedua terbesar negara selain minyak. Untuk itu, pemerintah harus terkonsentrasi dalam 2 hal kebijakan, yaitu mengatur tentang perokok dan mengurangi jumlah perokok. 

Untuk mengatur perokok bermula dari menyediakan tempat – tempat khusus merokok. Jika kita berjalan keluar negeri, seperti Hongkong, Singapura, dan Malaysia, kita tidak akan sulit menemukan tempat merokok berbentuk tempat sampah besar. Sehingga para perokok akan merokok ditempat tersebut dan tidak disembarang tempat. 

Yang kedua adalah merevisi denda jika ditemukan perokok sembarangan tempat. Di Indonesia, dendanya merokok sembarangan adalah Rp 50.000.000. Ini angka yang mustahil untuk dibayar seseorang. Seharusnya lebih sedikit namun realistis dan bisa diterapkan. Kita mengambil contoh di Hongkong dimana perokok dikenakan denda 5.000 Dollar hongkong atau setara dengan Rp 10.000.000. Ini angka yang kecil disana dimana upah minimum mereka adalah 13.000 Dollar Hongkong. Jika denda lebih realistis, maka pihak berwajib pun perlu tegas menerapkan aturan ini sehingga tidak akan ada yang merokok disembarang tempat. 

Untuk mengurangi jumlah perokok, pemerintah harus mencoba untuk meningkatkan harga rokok dengan sangat tinggi sehingga yang dapat merokok hanya orang – orang kaya saja. Begitu murahnya harga rokok membuat anak – anak remaja bahkan anak kecil mudah membelinya. Selain itu, perketat pembelian rokok. Warung – warung kecil dilarang menjual rokok dan hanya dijual ditempat tertentu. Dengan begitu, penerapan usia pembelian rokok 17 tahun keatas bisa lebih efektif. 


Dewi Ardianti 
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta 


Sumber gambar : http://www.lubukmaklumat.com

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman