mindis.id
Latest News
Thursday, January 10, 2019

Komentar yang Membunuh!

Baca Juga



Media sosial, topik yang satu ini memang selalu menjadi perbincangan hangat baik secara positif maupun negatif. Media sosial yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat tentu menimbulkan efek yang beragam. Jutaan orang tergabung sebagai pengguna media sosial dan mereka terhubung satu sama lain sebagai orang-orang dunia maya.

Hubungan ini tentu terjadi karena adanya interaksi dan komunikasi satu ataupun dua arah. Satu mengunggah, yang lain mengomentari. Begitu pula sebaliknya. Unggahannya pun beragam mulai dari cuitan tentang kehidupan sehari-hari si penulis, pandangan atau pikiran, unggahan foto, sampai memamerkan gaya hidup semua bisa di unggah di media sosial.

Namun, komenta-komentar inilah yang harus menjadi sorotan tersendiri bagi para pengguna medsos. Tidak ada masalah selama komentar berisikan kalimat dan makna yang positif atau membangun, namun berbeda cerita apabila komentar jahat dilontarkan bahkan sampai menjatuhkan pengguna lain. Apakah komentar jahat itu dapat masuk ke ranah cyber bullying?

Tanpa kita sadari, ketikan yang dilakukan para jari mungkin dapat berdampak hebat pada kejiwaan seseorang. Dengan santainya kita mengetik, menyampaikan kritik, unek-unek, atau rasa tidak suka terhadap postingan seseorang, namun ternyata itu dapat membunuhnya. Maka dari situlah, pentingnya pengetahuan seputar ‘tata cara penyampaian pendapat’ berperan penting. 

Banyak pengguna medsos yang seakan-akan ‘buta’ akan aturan bermain medsos yang telah dibuat pemerintah. Banyak pasal dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang mengatur masyarakat dalam menggunakan medsos. Banyak pula kasus yang terjadi akibat dari pengguna medsos lain yang berdampak pada psikis seseorang. Komentar-komentar jahat yang menjatuhkan itulah yang memungkinkan seseorang merasa terpukul, down, bahkan stress.

Perlukah Semua Diatur?

UU ITE pun pada dasarnya telah mengatur berbagai masalah yang kerap kali ditimbulkan akibat penggunaan medsos secara negatif. Undang-undang ini telah mempunyai pasal mengenai komentar-komentar jahat dan berbahaya. Komentar-komentar berbahaya tersebut antara lain komentar yang mengandung SARA, unsur body shaming, berita hoaks, serta ancaman.

Komentar yang mengandung SARA dan menimbulkan rasa benci atau permusuhan dapat dikenakan pasal 45A ayat (2). Komentar mengandung body shaming atau menghina fisik dan bentuk tubuh dapat dikenakan pasal 27 ayat (3) juncto Pasal 45 ayat (3). Sementara komentar mengenai berita bohong yang merugikan orang lain dapat dikenakan pasal 45A ayat (1). Pun dengan komentar yang mengandung atau bernada ancaman juga dapat dikenakan pasal 45 B.

Dengan peraturan yang detail dan jelas tersebut, seharusnya masyarakat terlebih pengguna medsos dapat bersikap lebih bijak saat berkomentar. Terlalu sulitkah untuk memilih diam daripada mengeluarkan komentar jahat yang menyakiti sesama? Seharusnya pengguna media sosial lebih dahulu mengetahui peraturan dan tata cara bermain sebelum menikmati fasilitas medsos tersebut.

Komentar-komentar jahat yang diluncurkan dari gawai warganet sendiri sebenarnya menjadi penilaian moral masyarakat itu sendiri. Seseorang dapat mudahnya melukai orang lain tanpa perlu bertatap muka atau bahkan mengenal terlebih dahulu. Keadaan ini layaknya menggambarkan kejahatan terselubung karena berdampak pada kesehatan mental orang lain.

Kesehatan mental dan kejiwaan juga perlu diperhatikan dan mendapat fokus dari masyarakat serta pemerintah. Tak ada yang dapat menilai kesehatan mental seseorang, mungkin komentar yang kita anggap sepele akan terasa menyakitkan bagi orang lain. Warganet yang biasa “menghujat ramai-ramai” ini membuat medsos bagai neraka akibat penilaian dan komentar jahat mereka. Satu menghujat, yang lain ikut menghujat walaupun tidak tahu permasalahannya. Ini tentu merupakan cyber bullying yang mengkhawatirkan.

Terlebih apabila melihat pengguna medsos yang beragam. Mulai dari latar belakang, usia, sampai kesehatan yang berdeda-beda antara warganet satu dengan yang lainnya. Bukankah seharusnya ini dapat menjadi fondasi kokoh seperti semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”? Mirisnya, tak sedikit warganet yang malah berlomba-lomba memberikan komentar jahat demi kesenangan personal sampai mencari perhatian.

Maka haruskah semua diatur dengan ketat oleh pemerintah? Haruskah pemerintah membuat pasal-pasal baru yang mengikat pengguna medsos agar lebih bijaksana? Komentar jahat semakin hari rasanya semakin tidak terkendali, saat jatuh korban barulah kompetisi “saling menyalahkan” dimulai. Di mana moral bangsa ini?

Masyarakat harus mengetahui hal-hal penting sebelum menggunakan media sosial seperti tata cara, peraturan, sampai dampak yang ditimbulkan. Pemerintah pun dirasa kurang menyebarkan informasi mengenai peraturan UU ITE itu sendiri kepada masyarakat. Lewat acara-acara sekolah, kampus, sampai kantor, seharusnya bisa menyebarluaskan pasal-pasal penting ini. Penyuluhan akan pentingnya kesehatan mental serta kejiwaan pun rasanya sangat perlu mengingat Indonesia yang belum begitu fokus pada masalah kesehatan satu ini.


Suroyya Rufaidah
Politeknik Negeri Jakarta


Sumber gambar: islamic-center.or.id
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

4 comments:

Item Reviewed: Komentar yang Membunuh! Rating: 5 Reviewed By: mindis.id