Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

12 December 2018

Sekolah Bukan Tempat Berkompetisi!

Baca Juga



Pendidikan formal wajib dijalankan untuk setiap anak, karena hal itu bisa membuka wawasan pola pikir anak. Dengan terbukanya wawasan tersebut, anak akan mampu menghadapi berbagai masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, pendidikan harus disesuaikan dengan kemampuan anak tiap umurnya. Sayangnya, banyak orang tua menggangap kecerdasan anak adalah tolak ukur dari kesukesan anak. Hal ini menyebabkan tolak ukur anak menjadi terbatas untuk memiliki nilai bagus tanpa memperhatikan kondisi mental anak. 

Akan tetapi sebagian besar orang lebih senang berkompetisi di sekolah saja agar bisa disebut pemenang. Hal ini yang kemudian membuat anak tidak mau bekerja sama dengan yang lain karena ingin menang sendiri dan tidak ingin kemenangannya dilakukan bersama-sama.

Sekolah bukan tempat berkompetisi, bukan juga tempat bersaing. Melainkan tempat untuk belajar. Dalam artian belajar dalam segala cakupan dan pengertian. Ada beberapa wali murid, yang setiap pembagian rapor di sekolah, bertanya-tanya pada guru, anaknya memperoleh juara kelas atau tidak. Mungkin bagi sebagian orang tua, juara kelas anak lebih penting daripada nilai yang tertera di rapor. Sehingga sekolah atau belajar dianggap kompetisi dalam sebuah persaingan.

Belajar itu memang sungguh lebih penting untuk mengajari anak-anak mampu menambah pengetahuan dengan menambah wawasan. Dengan belajar anak bisa memahami banyak hal yang sebelumnya diketahui. Belajar itu bukan mencetak orang menyukai kompetisi lalu lupa bagaimana cara belajar bersaing secara sehat. Hidup memang perlu berkompetisi hingga lahirlah orang-orang terbaik. 

Biarkan anak belajar sesuai kemampuannya. Tidak perlu ada paksaan dari orang tua untuk memberikan pelajaran tambahan berlebihan demi sebuah nilai. Cobalah untuk memahami apakah sang anak memiliki bakat lainnya selain di bidang akademis. Berikan dukungan anak untuk melakukan berbagai kegiatan positif di bawah arahan orang tua. Orang tua juga tidak seharusnya mengekspos kepandaian atau prestasi anak di media sosial, karena bisa terjadinya tekanan mental anak menjadi berkurang dengan adanya daya pikir berlebihan untuk berkompetisi. 

Dewi Ardianti
Program Studi Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: jadiberita.com

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman