mindis.id
Latest News
Monday, December 17, 2018

Mengejar IPK Tinggi atau Pengalaman Kerja?

Baca Juga


MINDIS.ID - Memiliki pekerjaan sesuai impian merupakan hal yang mahasiswa nantikan setelah lulus. Untuk mendapatkannya, mahasiswa menggunakan segala cara agar menjadi lulusan yang berkualitas. Hal itulah membuat perusahaan akan tertarik untuk merekrutnya. 

Namun, kebimbangan akan dirasakan mahasiswa ketika dihadapkan pada dua pilihan antara kejar IPK tinggi atau pengalaman. Lantas, pilihan apa yang mahasiswa prioritaskan?
Sebenarnya, antara IPK tinggi dan pengalaman memiliki sisi positif dan negatif. Dengan memperhatikan itu, setidaknya mahasiswa bisa mengambil langkah apa yang harus mereka jalani demi mendapatkan karier yang indah.

Pertama, IPK tinggi. Sisi positif mengejar IPK tinggi, yaitu mahasiswa semakin semangat belajar dalam kuliah. Selain itu, rata-rata perusahaan memberi syarat lamaran kerja dengan IPK minimal 3,00 atau ada juga yang 2,75. Jika mahasiswa mendapat IPK tinggi atau sesuai targetnya maka sudah memenuhi salah satu syarat perusahaan tersebut. 

Namun, sisi negatifnya ialah perusahaan tak langsung menerima calon karyawan hanya karena IPK tinggi sebab itu sulit terukur. Proses mendapatkan nilai IPK pun bermacam-macam. Mulai dari yang dikenal baik oleh dosen-dosen hingga yang rajin mengumpulkan tugas serta mendapatkan nilai magang dan skripsi sempurna. Hal itu membuat perusahaan tidak menjadikan IPK tinggi sebagai patokan penerimaan karyawan.

National Association of Colleges and Employers (NACE) Amerika pada 2002 memberikan hasil surveinya bahwa IPK bukanlah hal pertama yang perusahaan cari. Posisi IPK pun masih di bawah komunikasi, bekerja tim, etika, dan kejujuran. Oleh sebab itu, IPK bukanlah sebagai patokan.

Disisi lain,  mengejar pengalaman juga memiliki sisi positif, yaitu dengan banyaknya pengalaman, baik di organisasi, event di kampus, maupun di tempat magang, membuat perusahaan bisa melihat kualitas kinerja seseorang. Beberapa pengalaman tersebut bisa terlihat dalam portofolionya. Hal itu membuat banyak perusahan menjadikannya sebagai  patokan dalam penerimaan karyawan.

Akan tetapi, sisi negatif mengejar pengalaman ini ialah terkadang mahasiswa lupa tanggung jawabnya dalam memperbaiki belajar di kuliah karena terlalu banyak mencari pengalaman kerja sehingga nilai IPK pun menjadi turun.

Untuk itulah, baiknya adalah cari universitas yang terdapat mata kuliah atau pembelajaran magang. Sehingga, mahasiswa tidak hanya kuat dalam teori tapi juga praktiknya. Jadi kira – kira skema idealnya adalah, mahasiswa masuk semester satu sampai semester 4 atau 5, belajar dengan sangat rajin guna meraih IPK tinggi. Semester 5 atau 6 biasanya sudah ada program magang. Disini, mahasiswa sebisa mungkin berusaha mengamalkan apa yang telah di pelajari di kampus serta menimba ilmu sebanyak mungkin di tempat magang. Semester 7 sudah menyiapkan tugas akhir dan semester 8 lulus denga IPK tetap tinggi. 

Pemilihan tempat magang juga jangan asal sembarangan. Penting untuk memilih tempat magang yang dapat membuat anda bisa berkembang. Jika Anda asal dalam memilih, bisa jadi sehabis magang Anda tidak akan mendapat ilmu apapun. Selain itu, penting untuk membangun relasi dengan karyawan tetap di tempat magang. Sebab, karyawan tetap perusahaan tersebut yang paling awal mengetahui perihal lowongan kerja. Selain itu, bisa jadi jika ada lowongan kerja, maka mantan anak magang yang diprioritaskan untuk mengisi lowongan tersebut. Jadi, tidak perlu menunggu lama untuk segera mendapat pekerjaan. 

Sudut Pandang Perusahaan 

Lalu, bagaimana dengan sudut pandang perusahaan, apakah memilih karyawan IPK tinggi atau Pengalaman?. Hal ini bergantung dari keterbutuhan perusahaan tersebut. Jika perusahaan tersebut membutuhkan orang yang masih fresh, artinya perusahaan tersebut ingin melatih dan mengembangkan karyawan tersebut, maka IPK tinggi menjadi prioritas. Tapi ada konsekuensinya. Karena belum memiliki pengalaman, maka biasanya HRD akan memberikan penawaran gaji yang paling rendah atau setara dengan Upah Minimum Regional (UMR). 

Namun, ada pula perusahaan yang butuh karyawan dengan cepat dan tidak mau ambil pusing untuk melatih karyawan baru. Karyawan baru yang direkrut wajib hukumnya sudah paham dunia kerja sehingga perusahaan dapat lebih cepat berkembang. Pengalaman yang sudah ada ini juga memiliki harga, sehingga gaji yang akan diperoleh pun bisa dinegosiasikan atau lebih tinggi dari UMR. 

Pada intinya, tidak ada jaminan bahwa yang berpengalaman ataupun IPK tinggi bisa langsung keterima di perusahaan yang diinginkan. Untuk itu, kejar dua – duanya. Baik IPK tinggi maupun pengalaman kerja yang baik.


Vivi Noer Febdra
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta 


Sumber gambar : https://www.pexels.com/
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Mengejar IPK Tinggi atau Pengalaman Kerja? Rating: 5 Reviewed By: mindis.id