Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Saturday, December 15, 2018

Indonesia Darurat Kekerasan Seksual?

Baca Juga



Di Indonesia kondisi kekerasan seksual sudah sangat memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya laporan kekerasan seksual dari tahun ke tahun serta luasnya sebaran kasus. Selain itu, pelaku juga sudah menyusup dalam lingkungan yang selama ini dianggap aman, seperti rumah, sekolah, dan lingkungan sosial.

Berbagai liputan media baik cetak maupun elektronik melaporkan, pelaku kekerasan tersebut melibatkan remaja dan sebagian kecil lagi adalah anak-anak. Mereka tidak segan melakukan tindak tersebut. Bahkan di antara mereka, ada pula yang bertindak di luar nalar manusia, sehingga berujung hilangnya nyawa sang korban.

Dilansir dari www.idntimes.com pelecehan seksual merujuk pada tindakan bernuansa seksual melalui kontak fisik maupun nonfisik yang ditujukan pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang. Tindakan ini termasuk siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual, sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan, tersinggung, merasa direndahakan martabatnya, hingga menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan jiwa.

Dilansir dari www.gresnes.com pengaturan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengenai perlindungan anak terdapat dalam Pasal 28B ayat (2) menyatakan bahwa Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, kemudian hak-hak yang dimiliki oleh setiap orang atau warga negara, dalam Pasal 28I angka 2 ditetapkan bahwa setiap orang berhak bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan  dari tindakan diskriminatif itu.

Disebutkan pula pada Pasal 28I angka 4 UUD 1945 bahwa negara terutama Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia.

Sering kali, kekerasan atau pelecehan seksual disangkut pautkan dengan pakaian yang digunakan korban. Menurut saya itu sangat tidak benar. Buktinya juga banyak korban yang mengalami pelecehan menggunakan pakaian yang bisa dikatakan sopan. Bisa jadi, memang pelakunya sendiri yang sudah berniat untuk melakukan hal tersebut.

Alih-alih menyalahkan pelaku, seringkali korbannyalah yang disalahkan. Apapun alasannya, perempuan tidak boleh diperkosa atau dilecehkan. Justru korban harus diberi perlindungan bukan dikutuk atau diolok.

Sudah banyak kasus pelecehan di Indonesia, terutama pada anak. Orangtua seharusnya turut andil dalam masalah ini untuk menjaga dan membimbing anaknya. Pemerintah pun seharusnya turut andil, karena sudah banyak kasus seperti ini yang kian hari kian meningkat.

Edukasi tentang seksualitas harus diajarkan kepada anak-anak. Dengan edukasi, mereka akan mengetahui resiko yang ditimbulkan dan bagaimana mencegahnya. Hal tersebut agar anak bisa terhindar dari kasus ini.

Bukan hanya remaja saja yang perlu aktif mencari, namun orangtua, keluarga, dan masyarakat dalam konteks yang lebih luas, perlu aktif mendukung, memberikan arahan, serta menjadi peran model yang tepat. Pemerintah dan masyarakat diharapkan lebih bersatu padu dalam memerangi kasus kekerasan seksual. Sudah sepatutnyalah hukuman ditingkatkan agar memberi efek jera dan mencegah calon-calon pelaku lainnya melakukan hal yang sama.


Merry Christine
Program Studi Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: www.hellosehat.com

1 comment:

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman