mindis.id
Latest News
Thursday, November 29, 2018

Mengenal Sosok Ketua Umum 4 Partai Baru dalam Pemilu 2019

Baca Juga



MINDIS.ID - Pemilu 2019 sudah tinggal menghitung bulan, setiap partai politik mulai menjalankan mesin partainya untuk meraih dukungan para pemilih. Ibarat pasar bebas, Partai Politik sebagai peserta pemilu mencoba menawarkan kebijakan - kebijakannya agar dapat meraih hati para pemilih. Mereka menjual janji.  

Yang menarik dari pemilu 2019 kali ini adalah munculnya para pendatang baru. Total 16 partai telah berhasil lolos terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bersaing di pemilihan umum tahun 2019, 4 diantaranya partai baru yakni Partai Perindo, Partai PSI, Partai Berkarya, dan Partai Garuda. Walaupun partai baru, ternyata 4 sosok dibelakangnya bukanlah wajah baru di kancah perpolitikan tanah air. 

Berikut profil 4 ketua umum partai baru pada pemilu 2019 : 

1. Hary Tanoesoedibjo

    Hary Tanoesoedibjo saat melantik Dewan Pengurus Ranting di Kabupaten Rembang 2016 lalu. Sumber: Okezone.com 

Ketua Umum sekaligus pendiri Partai Persatuan Indonesia atau Perindo lahir di Surabaya, 26 September 1965 dengan nama asli Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo. Pria yang diakrab disapa HT ini dibesarkan di Surabaya dan menjadi lulusan Ottawa University dengan gelar Master of Business Administration. Ia menikah dengan Liliana Tanaja dan memiliki 5 orang anak.

Ia juga dikenal sebagai CEO MNC Group, salah satu grup media terbesar di Indonesia. Sejak tahun 1989 ia menjadi pendiri, pemegang saham, dan Presiden Eksekutif Grup Bhakti Investama yang bergerak dalam bisnis investasi. Sejak pengambil-alihan Bimantara Citra oleh perusahannya yang diubah menjadi Global Mediacom, Hary terjun ke bisnis penyiaran hingga akhirnya menjabat sebagai Presiden Direktur Media Nusantara Citra (MNC) pada tahun 2003 dan merambah ke perusahaan lainnya. Ia termasuk kedalam jajaran orang terkaya urutan ke-22 di Indonesia menurut Majalah Forbes pada tahun 2011.

Perjalanan politik dimulai pada tahun 2011 saat ia bergabung dengan partai Nasdem dan menduduki posisi sebagai Ketua Dewan Pakar dan juga Wakil Ketua Majelis Nasional. Dengan alasan berbeda pandangan mengenai struktur kepengurusan partai, HT keluar pada Januari 2013 dan bergabung dengan partai Hanura kurang dari sebulan setelahnya. Pada 7 Februari 2015 ia mendirikan partai Persatuan Indonesia yang dikenal dengan partai Perindo. Sebelumnya, partai ini merupakan organisasi masyarakat (ormas) yang akhirnya dideklarasikan menjadi partai politik baru yang juga dihadiri oleh para petinggi partai politik lainnya. 

Dengan kekuatan medianya yakni MNC, Hary aktif berupaya mendongkrak popularitas dan elektabilitas partainya dengan mengiklankan serta memberitakan berbagai kegiatan yang dilakukan Perindo secara rutin baik di televisi maupun media cetak dan daring.

2.  Grace Natalie

   Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dibawah kepemimpinan Grace Natalie mencoba merangkul anak muda dan perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu. Sumber : https://telegraf.co.id/

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) didirikan pada tahun 2014 dan diketuai oleh mantan pembawa acara serta jurnalis, Grace Natalie. Perempuan yang pernah bekerja di stasiun televisi SCTV, antv, dan tvOne ini lahir di Jakarta, 4 juli 1982 dengan nama Grace Natalie Louisa. Ia mengenyam pendidikan di SMAK BPK 3 Penabur Jakarta dan mengambil Jurusan Akuntansi di IBII (Institut Bisnis dan Informatika Indonesia). Karier jurnalistiknya dimulai saat ia mengikuti SCTV Goes to Campus dan berhasil lolos ke dalam lima besar di tingkat nasional.

Grace langsung menjajal dunia jurnalistik dan pertelevisian setelah lulus kuliah saat SCTV merekrutnya. Ia kerap kali turun ke lapangan untuk meliput berbagi jenis berita mulai dari kriminal, politik, ekonomi, dan lainnya. Kesulitan beradaptasi dapat ia hadapi karena kecintaannya pada dunia jurnalistik hingga membuat karier nya terus menanjak.

Beberapa kali berpindah stasiun televisi, Grace sendiri telah banyak memiliki pengalaman dengan mewawancarai tokoh ternama serta meliput peristiwa-peristiwa yang beresiko, Namanya juga cukup populer dan dikenal karena sering berlalu lalang di televisi, ia pernah mendapat gelar Anchor of the Year 2008 dan Runner Up Jewel of the Station 2009 versi blog News Anchor Admirer. Pada Juni 2012 ia memutuskan untuk keluar dari tvOne dan menjajal dunia politik pada tahun 2014.

Partai yang ia dirikan menargetkan partisipan pada perempuan dan anak muda yang dianggap kurang terwakili kepentingannya di dunia politik. Tokoh-tokoh dalam partainya mengajak anak muda untuk berpartisipasi aktif dalam politik dan mengedepankan perjuangan untuk mereka yang sering kali dikesampingkan. Partai ini juga memiliki jumlah kader perempuan paling banyak yakni 66.6% dengan tokoh ternama seperti Isyana Bagoes Oka, Tsamara Amany, dan desainer Niluh Djelantik yang aktif menyebarkan visi misi partai di media sosial.

3. Tommy Soeharto

   Tommy Soeharto saat menghadiri acara pengambilan nomor urut peserta pemilu 2019 di KPU. Sumber : Liputan6.com 

Dikenal dengan nama Tommy Soeharto, putra dari mantan presiden Republik Indonesia ke-2 yakni Soeharto ini memiliki nama asli Hutomo Mandala Putra. Tommy lahir di Jakarta, 16 Juli 1962 dan memiliki 2 orang anak dari mantan istrinya. Kabarnya, Tommy dianggap sebagai putra favorit Soeharto dan istri karena tingkah gesitnya. Tommy pernah masuk Akademi Penerbangan Sipil lalu melanjutkan kuliah di Amerika Serikat yang tidak selesai karena ia memilih untuk merintis karier bisnisnya.

Catatan masa muda Tommy tak begitu baik, ia dikenal menggemari aktris, kasino, klub malam, dan senang berjudi menurut majalah Time 1999. Ia pun pernah terlibat tindak pidana yang cukup fatal seperti kasus korupsi sampai pembunuhan. Dalam menghadapi skandalnya ia juga dinilai kurang berpartisipasi karena jarang menghadiri sidang, mengaku sakit, sampai absen saat putusan dibacakan.
Pada 26 Juli 2002, Tommy dihukum 15 tahun penjara atas tuduhan pembunuhan, kepemilikan senjata illegal, sampai menghindari penahanan. Kabarnya ia mendapat fasilitas superior di dalam sel tahanan seperti televisi, sofa, kulkas, pendingin ruangan dan lainnya, ia pun pernah kedapatan mengunjungi sebuah lapangan golf ekslusif saat itu. Masa hukumannya pun dikurangi dan ia dibebaskan bersyarat pada 30 oktober 2006 yang digadang-gadang bahwa itu dikarenakan kekuatan uang dan nama keluarganya yang berpengaruh di Indonesia.

Saat berumur 25 tahun, Tommy dan kedua kakaknya menghadiri pelantikan sang ayah sebagai presiden yang dianggap sebagai persiapan untuk menduduki jabatan politik. Ia pun bergabung dengan partai Golkar yang saat itu menjadi parpol terbesar dan pada 1992 ia diangkat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Lama mengabdi pada Golkar dengan berbagai jabatan, Tommy mendirikan Partai Berkarya pada Juli 2016.

Partai Berkarya sendiri merupakan gabungan dari Partai Beringin Karya dan Partai Nasional Republik dengan logo pohon beringin serta latar kuning yang tidak jauh berbeda dengan Golkar. Namun begitu, Tommy mengatakan bahwa partai yang ia dirikan itu bukanlah pecahan Golkar. Tommy percaya bahwa masih banyak masyarakat yang merindukan sosok dan gaya kepemimpinan Soeharto. Oleh karena itu, ia berusaha mengambil hati masyarakat yang menganggap bahwa Soeharto adalah presiden terbaik sampai saat ini. 

4. Ahmad Ridha Sabana

   Ahmad Ridha Sabana bersama Partai Garuda siap untuk memenangi Pemilu 2019. Sumber : Monitor.co.id 

Nama ahmad Ridha Sabana mungkin lebih kurang dikenal berbeda dengan 3 Ketua Umum partai baru lainnya. Ahmad mendirikan Partai Gerakan Perubahan Indonesia atau Partai Garuda pada 16 April 2015 dengan menargetkan anak-anak muda untuk bergabung karena dianggap  lebih mandiri dan memiliki niatan luhur untuk memperbaiki kondisi negeri. Ahmad juga mengakui bahwa mungkin partainya belum diketahui karena tidak gembar-gembor dan lebih fokus melakukan pergerakan di daerah.

Di luar dunia politik, Ahmad Ridha Sabana adalah mantan Presiden Direktur PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), dan seperti diketahui TPI adalah perusahaan milik Siti Hardianti Rukmana alias Mbak Tutut. Hal inilah yang membuat adanya asumsi publik bahwa Partai Garuda memiliki hubungan dengan keluarga cendana yang kemudian disangkal oleh Ahmad. Ia mengatakan bahwa tidak ada satupun mantan pengurus Gerindra yang menjadi pengurus Partai Garuda, serta berbedanya lambang burung garuda di kedua partai.



Surroya Rufaidah 
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta 



Sumber gambar : https://www.youtube.com/adigunadesign 
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Mengenal Sosok Ketua Umum 4 Partai Baru dalam Pemilu 2019 Rating: 5 Reviewed By: mindis.id