mindis.id
Latest News
Friday, November 23, 2018

Membaca Kembali Sejarah Perjuangan Perempuan Indonesia

Baca Juga



Cora Vreede Stuers dalam bukunya Sejarah Perempuan Indonesia secara eksplisit menjelaskan tentang cikal bakal gerakan feminis di Indonesia. Dalam bab ini, ia mengatakan bahwa ada 2 tokoh yang menjadi pelopor gerakan feminis, yaitu Kartini dan Dewi Sartika. 

Kartini lebih menyorot kepada posisi perempuan dalam adat Jawa pada masa itu. Ia menolak perempuan untuk diam dan tunduk pada aturan adat yang berlaku, dalam hal ini poligami dan kawin paksa. Ia berpendapat bahwa perempuan punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Kartini melihat bahwa pendidikan menjadi jalan satu – satunya untuk mengatasi ketidakadilan bagi kaum perempuan. Berawal dari kelas kecil dirumahnya, Kartini mengilhami tokoh Belanda, Van Deventer yang akhirnya membangun sekolah – sekolah Kartini setelah ia tiada. 
Setelah Kartini, Cora menyebutkan bahwa peran Dewi Sartika juga tidak kalah penting. Ia mendirikan setidaknya 9 sekolah untuk para perempuan. Ia melihat bahwa akses terhadap pendidikan yang sangat rendah bagi kaum perempuan membuat adanya ketidakadilan bagi kaumnya. Untuk itu, ia berharap dengan perempuan memperoleh pendidikan dapat meningkatkan derajat kaum perempuan.

Organisasi Perempuan di Indonesia 

Setelah pemahaman feminisme awal tumbuh, barulah pada tahun 1912, lahirlah organisasi perempuan dibawah naungan Budi Utomo bernama Putri Mardika. Organisasi ini bertujuan untuk membantu perempuan agar mendapatkan akses pendidikan dan melanjutkan sekolah, memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk berperan aktif di masyarakat, dan memberikan informasi serta menyadarkan kaum perempuan melalui artikel – artikel. Artikel – artikel yang diterbitkan pun bernuansa kesetaraan gender, seperti mengkritik poligami, kawin paksa, dan pernikahan dini. 

Organisasi besar seperti Muhammadiah pun akhirnya mendirikan perkumpulan untuk para wanita, yaitu Aisyiah. Aisyiah berbeda dengan organisasi perempuan lainya. Ia didominasi oleh perempuan kelas menengaH dan lebih fokus pada kajian agama. Setelah itu, muncul beberapa organisasi perempuan lainya, seperti Pawijatan Wanito di Magelang, Wanito Hado di Jepara, dan Wanito Susilo di Jepara yang tetap fokus pada pendidikan perempuan kelas bawah.

Semangat kelompok – kelompok perempuan akhirnya membentuk Kongres Perempuan pertama di Indonesia pada 22 Desember sampai 26 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dicetuskan oleh Nyonya Soekonto, anggota Komite Wanita Utomo, Nyonya Suwardi, istri dari Ki Hajar Dewantara, dan Nona Soejatin, anggota Komite Putri Indonesia. 

Kongres ini membatasi diri dari isu – isu politik. Kongres ini lebih membahas mengenai pendidikan perempuan serta permasalahan perkawinan. Alhasil, kongres ini menghasilkan beberapa poin penting, yaitu jumlah sekolah untuk kaum perempuan harus terus ditingkatkan, penjelasan terkait taklik harus dijelaskan kepada calon mempelai wanita sebelum akad nikah, dan harus membuat peraturan terkait menolong para janda dan yatim piatu. Selain itu, hasil dari kongres ini adalah berdirinya Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI). Selanjutnya, pada kongres kedua  nama PPI berubah Menjadi PPII (Perserikatan Perempuan Istri Indonesia). PPII tergabung atas 30 organisasi perempuan di seluruh Indonesia, baik yang fokus pada agama, pendidikan maupun ekonomi. 

Namun, organisasi ini dikritik oleh organisasi Isteri Sedar. Menurut kelompok ini, PPII tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Sebab, pembahasan tentang poligami tidak pernah dibahas karena poligami diperbolehkan oleh organisasi berbasis agama islam. Untuk itu, organisasi Istri Sedar keluar dari PPII dan mendeklarasikan sebagai organisasi politik. Organisasi ini melihat untuk mengatasi segala permasalahan perempuan maka perempuan harus ikut serta dan berperan aktif dalam politik. Dari sinilah, organisasi – organisasi perempuan lainya mulai sadar terhadap pentingnya perempuan berpolitik dan mendirikan kongres perempuan, yang lebih ikut terlibat dalam politik praktis.

Masih Harus Terus Berjuang 

Jika melihat dari sejarahnya, perempuan Indonesia ternyata masih memiliki perjuangan yang sama sampai hari ini, yaitu menuntut kesetaraan dalams setiap aspek. Yang perlu digaris bawahi adalah kata kesetaraan, artinya feminisme atau perjuangan perempuan bukanlah menjelekan laki - laki tetapi menuntut kesetaraan. 

Musuh utama feminisme dari dahulu sampai saat ini adalah budaya patriarki. Budaya patriarki adalah sebuah konstruk sosial dimana laki - laki lebih dominan dari pada perempuan dan perempuan merupakan manusia kelas dua. Budaya patriarki tercemin dalam berbagai budaya di Indonesia, misalnya istilah jawa yang menyebut perempuan adalah "Konco Wingking", "Surga Nunut Neraka Katut", dan "Masak, Macak, Manak". Untuk itu feminisme lahir. Feminisme ingin mendobrak dan menghancurkan konstruk sosial tersebut.

Walaupun intinya sama, namun isu kesetaraanya berbeda. Misalnya jika dahulu lebih melihat bahwa perempuan memiliki hak untuk menolak kawin paksa dan juga memiliki hak yang sama dengan laki - laki dalam memperoleh pendidikan, maka sekarang perjuangannya berbeda. Seperti hak untuk berpolitik dan menjadi pemimpin atau pun hak untuk tidak menjadi ibu rumah tangga dan memperjuangkan karir. 


Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia   


Sumber : https://elshinta.com/
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Membaca Kembali Sejarah Perjuangan Perempuan Indonesia Rating: 5 Reviewed By: mindis.id