mindis.id
Latest News
Saturday, November 17, 2018

Kasus Pelecehan Seksual KKN UGM, Ketika Korban Mulai Disalahkan

Baca Juga





Kasus pelecehan seksual yang dialami oleh salah satu mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta, yakni Agni (bukan nama sebenarnya) mencuat ke media. Agni yang menjadi korban pelecehan yang dilakukan oleh teman satu kampusnya, HS terjadi saat kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Pelaku melecehkan Agni pada saat kegiatan KKN di Pulau Seram, Maluku pada 30 Juni 2017. Setelah malam itu, Agni menelepon temannya lalu memberi tahu beberapa pihak terkait tentang kejadian tersebut. Beberapa hari kemudian, HS ditarik dari kegiatan KKN sebagai sanksi yang ia dapatkan.Namun, ketidakadilan justru menimpa Agni. Bukannya pelaku yang mendapat sanksi yang setimpal, malah perempuan itu mendapat nilai C untuk mata kuliah KKN-nya.

Meskipun Agni telah mendapat pendampingan sebagai korban dan pihak kampus telah membuat tim investigasi independen yang terdiri dari 3 anggota perwakilan  dosen masing-masing fakultas yang bersangkutan (FISIPOL, Fakultas Teknik, dan Fakultas Psikologi), tetap saja kasus Agni belum sepenuhnya tuntas walau pelaku sudah dinyatakan bersalah.

Bahkan pelaku terdaftar menjadi calon wisudawan pada November 2018 yang membuat Agni kembali memperjuangkan haknya. Akhirnya, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung UGM memuat laporan pemberitaan setelah berhasil mewawancarai Agni.

Kasus pelecehan seksual pun kembali mencuat ke permukaan atas dukungan mahasiswa yang mengisi petisi tanda tangan agar kasus diusut tuntas. Media sosial pun turut ikut serta dalam membuat kasus ini terungkap ke publik. UGM menjadi sorotan ketika menganggap kasus pelecehan seksual bukan sebagai pelanggaran berat. Setelah ramai menjadi bahan pemberitaan, baru lah UGM membawa kasus ini ke ranah hukum.

Dari Korban Menjadi Yang Disalahkan

Yang menarik dari kasus Agni ini adalah bahwa sering kali ketika perempuan menjadi korban kekerasan seksual, justru perempuan justru yang disalahkan. Dalam kasus Agni, ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Agni melakukannya dengan unsur sama - sama mau. 

Mari kita lihat lebih dalam pada hari kejadian. Agni tidur dengan HS, dengan posisi beda ranjang dan sedikit berjauhan. Lalu HS mulai melancarkan aksinya. Disinilah letak dimana Agni disalahkan dan dianggap "mau" nelakukannya juga karena tidak langsung menolak dan berpura - pura tidur.  

Penulis berpikir, jangan samakan apa yang harus dilakukan Agni dengan kita yang tidak berada diposisinya. menurut penulis, apa yang dilakukan Agni masuk akal karena saat itu dipedalaman. Jika ia berteriak, maka seisi kampung akan mengetahui dan HS bisa jadi amukan massa. Selain masih memikirkan tentang HS, ia juga memikirkan nama baik kelompok KKN nya dan nama baik almamaternya. Namun apa yang Agni terima, ia mendapat nilai C. Patut untuk digaris bawahi, bahwa tidak semua orang bisa berfikir dengan cepat apa yang harus dilakukan. Agni dengan pengalamannya yang minim soal ini mungkin terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa sehingga tidak langsung memberikan perlawanan. 

Selain itu, pelecehan seksual kerap kali dianggap sebagai pelanggaran ringan yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan arti pelecehan seksual itu sendiri. Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa pelecehan seperti catcalling atau perilaku kecil yang dilakukan secara verbal bukanlah pelecehan melainkan gurauan atau candaan semata. 

Pada kasus Agni, salah satu pihak dari UGM juga menganalogikan korban sebagai 'ikan asin yang memancing kucing' kalimat ini seakan menyalahkan Agni dan membenarkan tindakan pelaku yang hanya seperti mengambil kesempatan. Penulis menggaris bawahi bahwa  hormon seks laki - laki dianggap wajar karena ada kesempatan dari perempuan. Lalu mengapa perempuan sering kali balik disalahkan padahal mereka adalah korban?

Penulis berpendapat ini karena adanya budaya patriarki di Indonesia. Dimana ada supremasi laki - laki dan perempuan dianggap manusia kelas dua. pemikiran bahwa perempuan lah yang membuat atau memancing terjadinya pelecehan itu sendiri yang salah, terutama dalam berpakaian. Pakaian seksi dan terbuka dianggap memancing terjadinya pelecehan seksual hingga perkosaan. Paradigma itu membuat masyarakat dan pelaku pelecehan seksual tidak merasa bersalah akan tindakannya dan justru menyalahkan korban. Mari kita balik logikanya, bukankah seharusnya hawa nafsu laki - laki itu yang disalahkan karena tidak bisa dikontrol? dan bukankah dalam setiap agama menjelaskan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual merupakan dosa besar?  

Paradigma yang menyalahkan perempuan inilah yang harus dihilangkan karena dapat menimbulkan tindakan pelecehan. Berawal dari tindakan verbal seperti catcalling sampai berakhir menjadi perkosaan. Setelah pelecehan terjadi, kemudian perempuan yang disalahkan, lalu kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Korban terpuruk,  pelaku masih berkeliaran.

Maka dari itu, kasus pelecehan seksual harus mendapat perhatian lebih bukan hanya oleh aktivis atau lembaga perempuan, namun juga seluruh masyarakat. Kasus juga harus diselesaikan seadil-adilnya, bukan hanya secara kekeluargaan. Menunggu perempuan hingga kehilangan nyawa akibat kejahatan seksual dan hukum baru diberlakukan adalah kesalahan besar. Semua pihak harus turut ikut serta demi menjaga rasa aman bagi perempuan. 




Surroya Rufaidah 
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta 

Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia 



Sumber gambar : http://www.balairungpress.com/

  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kasus Pelecehan Seksual KKN UGM, Ketika Korban Mulai Disalahkan Rating: 5 Reviewed By: mindis.id