mindis.id
Latest News
Friday, August 10, 2018

Terpilihnya Mahathir Tanda Kegagalan Regenerasi Politik Malaysia

Baca Juga


Pada 9 Mei 2018 lalu, Malaysia membuat catatan baru dalam sejarah negaranya. Yaitu terpilihnya kembali Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri mengalahkan perdana menteri Najib Razak. Yang menarik adalah Mahathir Mohamad terpilih menjadi perdana menteri tertua dalam sejarah Malaysia, bahkan perdana menteri tertua di dunia, yaitu berusia 92 tahun. Melihat hal ini, Malaysia seakan – akan kehabisan kader potensial untuk menduduki jabatan tersebut. 

Terpilihnya Mahathir membuat tanda tanya banyak pihak, mengapa Najib Razak bisa dikalahkan oleh oposisi? Mengapa harus Mahathir? Dan apa yang ditawarkan oleh Mahathir? Menurut analisa penulis, alasan mengapa Najib Razak dapat dikalahkan adalah karena situasi politik dan ekonomi yang buruk di Malaysia. Harga bahan pokok terus naik namun Perdana Menteri malah meningkatkan pajak. Selain itu, kasus korupsi yang menjerat perdana menteri Najib Razak juga membuat popularitas dan elektabilitasnya menurun drastis. Kasus ini mencoreng nama baik Malaysia di dunia internasional. 

Lalu pertanyaan selanjutnya, mengapa Mahathir? Apakah tidak ada sosok lain? Malaysia memang seakan kehabisan tokoh politik hingga mengangkat tokoh lama yaitu Mahathir Mohamad. Padahal, Malaysia sejak tahun 2012 sedang mendapat bonus demografi dimana penduduk mayoritas Malaysia berusia antara 20 – 34 tahun. Lalu kemana tokoh – tokoh muda Malaysia?

Penulis berpendapat bahwa hal ini disebabkan karena kegagalan regenerasi politik para kaum tua kepada kaum muda. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Malaysia yang melarang mahasiswanya untuk terlibat aktif dalam sebuah kegiatan politik. Ini tertuang dalam Universities and University Colleges Act. Walaupun, pada tahun 2012 terdapat amandemen akan Undang – Undang ini, namun tetap saja kebebasan politik anak muda sangat dibatasi yaitu hanya dalam ruang lingkup partai politik yang sah. 

Parahnya lagi, dilansir dari BBC.com, sebuah lembaga survei independen asal Malaysia Merdeka Centre merilis bahwa akibat dari kebijakan pemerintah Malaysia ini, anak muda Malaysia menjadi apatis terhadap politik. Bahkan 75% dari total responden menyatakan bahwa apapun yang mereka lakukan tidak akan dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah. 

Kegagalan Regenerasi dan Rekrutmen Partai Politik 

Lalu, bagaimana cara Mahathir Mohamad merekrut dan meraih simpati kelompok muda yang notabene mayoritas dalam daftar pemilih di Malaysia? Berdasarkan teori Alan Ware dalam bukunya Political Paries and Party System, ada 3 cara dalam perekrutan anggota dalam partai politik. Yang pertama adalah Material Incentive, perekrutan seseorang yang dibayar untuk melakukan tugas – tugas kepartaian. Solidarity Incentive, cara ini dilakukan dengan mengambil hati masyarakat umum melalui kegiatan – kegiatan partai politik. Cara ini biasanya dilakukan menjelang pemilihan umum. Yang terakhir adalah Purposive Incentive, yaitu cara perekrutan untuk orang – orang yang memiliki ideologi yang sama ataupun memiliki cara pandang dan program kebijakan yang sama.      

Ketiga cara inilah yang dilakukan oleh Mahathir Mohamad dalam merekrut dan meraih dukungan para kelompok muda. Walaupun apatis, namun kelompok muda Malaysia menginginkan perubahan atas kebijakan pemerintah Malaysia. Dan hal ini tidak akan terlaksana selama perdana menteri masih dipegang oleh Najib Razak. Dengan memanfaatkan peluang inilah Mahathir berusaha merekrut dan menarik simpati masyarakat. Selain itu, gaya kampanye menggunakan sosial media seperti Youtube juga mengindikasikan bahwa kelompok muda ada dibelakang Mahathir Mohamad. 

Namun, melalui cara ini hanya berdampak pada peningkatan partisipasi politik anak muda dalam pemilihan umum. Hak untuk memilihnya tidak berbanding lurus dengan hak untuk dipilih. Berdasarkan buku The New Asian Hemisphere karya Kishore Mahbubani menjelaskan bahwa kemajuan peradaban barat adalah karena adanya budaya meritoktasi. Budaya meritokrasi adalah budaya yang melihat bahwa setiap individu dalam masyarakat adalah sumberdaya yang potensial. Maka, semua dari mereka harus diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri dan berkontribusi dalam masyarakat.  

Jika dikaitkan dengan Malaysia, budaya meritoktasi inilah yang tidak ada dalam kebudayaan Malaysia. Hak – hak politik anak muda dibatasi dengan adanya kebijakan Universities and university Colleges Act, sehingga regenerasi dan rekrutmen politik tidak berjalan dengan semestinya. 

Dampak lainnya dari Universities and university Colleges Act adalah pola rekrutmen dan kaderisasi pada partai politik di Malaysia. Memang benar bahwa partai – partai politik di Malaysia sudah memiliki organisasi sayap partai yang bertugas untuk menjaring para pemilih pemula dan pemuda Malaysia, namun organisasi sayap ini tidak berkembang dan enggan untuk beraktivitas mengingat adanya kebijakan pemerintah Malaysia. Sehingga, para politisi Malaysia lebih senang bermain aman dengan menjaring seseorang yang memiliki modal sosial misalnya pengusaha dari pada merekrut kelompok muda.   


Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik 
Universitas Indonesia 


Sumber Gambar : Popnews.com 
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 comments:

Item Reviewed: Terpilihnya Mahathir Tanda Kegagalan Regenerasi Politik Malaysia Rating: 5 Reviewed By: mindis.id