mindis.id
Latest News
Tuesday, August 7, 2018

Revolusi Hijau dan Dampaknya Bagi Petani Perempuan Pada Masa Orde Baru

Baca Juga



Setelah pemerintahan orde lama tumbang, rezim ini mewariskan sejumlah permasalahan bagi pemimpin selanjutnya yaitu orde baru. Salah satu permasalahan pelik yang harus dihadapi oleh presiden Soeharto di awal pemerintahannya adalah bagaimana cara meningkatkan perekonomian negara yang berujung pada kesejahteraan rakyat. 

Pemerintah orde baru sadar, untuk dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya, maka penting untuk mengkaji ulang kebijakan – kebijakan negara tentang pangan dan pertanian. Oleh karena itu, pemerintah orde baru mengeluarkan sebuah kebijakan yang diberi nama revolusi hijau. Revolusi hijau adalah sebuah kebijakan pemerintah yang memperluas penggunaan teknologi baru dalam bidang pertanian, misalnya seperti bibit unggul, obat pemberantasan hama, meningkatkan produktivitas beras secara besar – besaran dan lain lain (Fauzi, 1999 : 164).

Women and Development

WAD melihat bahwa faktor gender sering kali tidak diperhatian dalam proses pembangunan yang berdampak pada termarjinalisasikan perempuan. Berasal dari sumbernya, hal ini bisa disebabkan karena kebijakan pemerintah, tafsiran agama, tradisi dan kebiasaan. Selain itu, hal ini juga dapat disebabkan beberapa kejadian, misalnya seperti bencana alam, penggusuran, atau ekspliotasi (Probosiwi, 2013: 44)

Pendekatan ini cocok untuk digunakan dalam melihat bagaimana dampak perempuan akibat dari revolusi hijau yang dicanangkan oleh pemerintah orde baru karena pendekatan ini melihat bahwa perempuan sering kali menjadi korban akibat dari pembangunan dalam suatu negara. Pembangunan yang dilakukan oleh negara terkadang tidak memperhatikan faktor gender di dalamnya.

Penerapan Revolusi Hijau dan Dampaknya 

Revolusi hijau dalam bidang pertanian pada masa orde baru sering disebut dengan Bimas (bimbingan massal), yaitu sebuah bimbingan kepada petani kearah usaha tani yang lebih baik, maju, dan modern. Bimas berintikan penggunaan teknologi yang sering disebut dengan Panca Usaha Tani. Panca Usaha Tani meliputi perbaikan irigasi, pengolahan tanah yang baik, penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk, penggunaan pestisida dan penggunaan – penggunaan alat pertanian modern (Rahayu, 2015: 7). 

Setiap petani di seluruh Indonesia wajib untuk mengikuti penyuluhan Bimas, seperti pembinaan usaha tani, mekanisasi pertanian, dan memperkenalkan teknologi – teknologi baru di bidang pertanian. Revolusi hijau yang diterapkan oleh pemerintah orde baru dapat dikatakan sukses. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya produksi pertanian sekitar 4% per tahun. (Raharko, 1984: 69)

Walaupun dianggap sebagai sebuah kebijakan pemerintah orde baru yang berhasil, namun kebijakan ini ternyata juga membawa dampak negatif bagi para petani khususnya petani perempuan. Masuknya berbagai macam alat pertanian modern membuat posisi perempuan di bidang pertanian mulai tersingkirkan, bahkan hilang (Rahayu, 2015: 10). Perempuan tidak lagi menjadi produktif dan menghasilkan sesuatu akibat dari adanya alat – alat ini. 

Akibat dari terpinggirkannya perempuan dalam bidang pertanian, membuat wanita tidak diikut sertakan dalam pelatihan dan penyulusan Bimas. Sehingga, pertanian kini hanya menjadi milik kaum laki – laki saja. Hal ini tentu berdampak bagi perekonomian wanita tersebut, dimana sebelumnya perempuan memiliki peran cukup krusial dan produktif, kini hilang digantikan oleh alat – alat tersebut. Dari sinilah perempuan mulai mencari pekerjaan lain selain pertanian karena tidak dapat bersaing dalam dunia kerja pertanian (Rahayu, 2015: 10). 

Dampak selanjutnya dari adanya revolusi hijau adalah kesenjangan sosial. Alat – alat produksi hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Jika ada yang ingin menggunakan, maka harus membayar biaya sewa. Terjadi perubahasan sosial dalam masyarakat desa di bidang pertanian, dimana sebelumnya alat – alat produksi dengan mudah di dapat dengan cara pinjam sukarela, kini harus dikomersialisasikan (Rahayu, 2015: 9).


Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia 

Referensi : 

Fauzi, Noer, Petani dan Penguasa, 1999, Yogyakarta:INSITS

Probosiwi, Ratih, Perempuan dan Perannya dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial, dalam Jurnal Kajian Ilmu Administrasi, 2015 

Rahayu, Zuminati, Jurnal : Revolusi Hijau dan Perubahan Sosial Ekonomi Petani Wanita di 
Kabupaten Sleman Tahun 1970 -1984, 2015, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

Raharko, Daman, Transformasi Pertanian, Industrialisasi, dan Kesempatan Kerja, 1984, Jakarta: Universitas Indonesia




Sumber gambar : https://www.idntimes.com/
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Revolusi Hijau dan Dampaknya Bagi Petani Perempuan Pada Masa Orde Baru Rating: 5 Reviewed By: mindis.id