mindis.id
Latest News
Wednesday, August 8, 2018

Problematika TKW, Sang Pahlawan Devisa

Baca Juga



MINDIS.ID "Tenaga Kerja Indonesia adalah pahlawan Indonesia”. Ini yang selalu dikatakan oleh pemerintah terhadap para pekerja Indonesia di luar negeri, yang notabene mayoritas adalah seorang perempuan. Dikutip dari katadata.com, sejak tahun 2009 hingga tahun 2015 devisa TKI terus mengalami peningkatan. Bahkan, Indonesia menempatai peringkat 7 negara dengan sumbangan terbesar dari TKI. 

Secara teori, TKI yang notabene mayoritas adalah perempuan ini memang menyumbangkan begitu besar dana untuk negara. Selain itu, TKW juga berhasil memutar roda perekonomian di Indonesia. 
Penulis coba ambil contoh. Seorang bapak bekerja sebagai buruh di pasar yang penghasilannya hanya cukup untuk biaya makan sehari – hari. Namun, sang ibu yang merupakan seorang TKW berhasil mengirim sejumlah uang untuk anak – anaknya sekolah hingga tamat kuliah. Artinya, penghasilan ibu lebih banyak dari pada sang bapak, dan ibu yang berhasil memberikan pendidikan kepada sang anak hingga nantinya diharapkan keluarganya menjadi lebih baik dalam perekonomian.  

Pertanyaan selanjutnya adalah dengan bantuan TKW untuk negara yang sudah begitu besarnya, bahkan digadang – gadang sebagai seorang pahlawan, apakah hak – hak para TKW ini sudah terpenuhi dengan baik? Apakah TKW ini sudah diperlakukan oleh negara selayaknya pahlawan?

Dalam sudut pandang penulis, negara belum berfungsi sebagai mana mestinya dalam melindungi TKW. Hampir setiap tahun ada saja TKW yang mendapat hukuman di negeri Arab Saudi. Dan pemerintah tidak bisa berbuat apa – apa karena memang mereka bekerja di wilayah kekuasaan mereka. Pemerintah seharusnya memiliki posisi tawar untuk melindungi para pekerja migran yang dianggap sebagai “pahlawan” ini. Menurut penulis, pemerintah terkesan hanya diam demi menjaga hubungan baik dengan Arab Saudi.    

Problematika TKW 

Problematika pekerja migran perempuan diluar negeri tentu saja hukum di negara – negara tersebut. Oleh karena itu, sering kali para TKW ini mendapatkan hukuman di negara luar, khususnya Arab Saudi. Pemerintah pun terkadang sulit membantu karena berbagai macam pertimbangan. Ditambah lagi, banyak pekerja ilegal yang membuat pemerintah semakin tidak bisa bertindak. 

Selain itu, salah satu problematika TKW diluar negeri adalah sekembalinya mereka ke dalam negeri, mereka tidak dapat mengakses hasil kerja mereka. Contoh kasus, selama diluar negeri, TKW selalu mengirim uang untuk suami dan keluarganya di Indonesia. Namun, TKW tersebut tidak pernah dilibatkan untuk apa uang itu digunakan.

“Rata – rata TKW itu tidak punya akses terhadap uang yang telah mereka kirim. Mereka tidak pernah dilibatkan terhadap penggunaan uang tersebut. Misalnya, pas pulang ke Indonesia mereka liat ada motor, nah motor itu atas nama suaminya. Sehingga, mereka tetap miskin dan dianggap sebagai ATM saja” menurut Taufik Zulbahry, Komisioner KOMNAS Perempuan 

Women and Development dan Gender and Development

Untuk mengamati tentang perempuan dan pembangunan, maka ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan, namun penulis akan menggunakan 2 pendekatan yaitu Women and Development (WAD) dan Gender and Development (GAD). 

Women and Development adalah pandangan yang menitik beratkan pada eksploitasi pekerja perempuan di negara dunia ketiga. WAD mengasumsikan bahwa perempuan ikut serta secara aktif dalam proses pembangunan di negara – negara berkembang. WAD berusaha menekankan bahwa perempuan termasuk dalam kelas pekerja yang membantu perkembangan sebuah negara. 

Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi pada TKW Indonesia di luar negeri. Secara tidak sadar, tenaga kerja Indonesia di luar negeri mayoritas adalah perempuan. Dan TKI menyumbangkan devisa yang besar untuk negara. Artinya, perempuan menjadi salah satu aktor penting dalam pembangunan Indonesia. 

Selanjutnya ada pula pendekatan Gender and Development (GAD). GAD melihat bahwa sektor produksi dan reproduksi perempuan sebagai sebuah penindasan. GAD juga memandang bahwa perempuan bukan hanya sebagai penerima aktif, melainkan juga dapat sebagai pemberi aktif. Artinya, GAD berusaha meruntuhkan konstruksi sosial dimana perempuan harus mengikuti laki – laki karena hanya sebagai penerima dan laki – laki yang berkuasa karena memberi.

Dalam kasus TKW ini dapat dikatakan bahwa perempuan lebih produktif dari pada laki –lakinya. Alasan utama perempuan menjadi seorang TKW adalah karena kebutuhan keluarga yang tidak tercukupi sehingga ia perlu bekerja. Oleh karena itu, melalui pandanga GAD, perempuan harus memiliki daya tawar dan tidak boleh hanya tinggal diam dalam dominasi laki – laki. Perempuan juga dapat sebagai aktor pemberi, dan bukan hanya sebagai subjek yang diberi. 

Dari kedua pendekatan ini, penulis mengambil kesimpulan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan sebuah negara, khusunya jika dikaitkan dengan TKW yang menyumbang devisa negara sebegitu besarnya. Oleh karena itu, penting untuk memandang perempuan dan TKW sebagai aktor penting dalam pembangunan negara dan negara harus melindungi sebagaimana mestinya.   
  


Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia


Sumber Foto : poskotanews.com  
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Problematika TKW, Sang Pahlawan Devisa Rating: 5 Reviewed By: mindis.id