mindis.id
Latest News
Wednesday, August 8, 2018

Pentingnya Keterlibatan Perempuan di Parlemen

Baca Juga



Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah film yang berjudul Miss Sloane (2016), sebuah film yang menggambarkan bagaimana seorang pelobi bekerja untuk men-sahkan undang – undang di Amerika Serikat. Namun, saya tidak akan menyoroti tentang lobi tersebut, tetapi pada isu yang diangkat yaitu isu kepemilikan senjata api. 

Undang – Undang Kepemilikan senjata api dianggap sebagai sebuah isu yang maskulin, artinya sarat akan  kepentingan laki – laki. Namun, yang menarik adalah framing yang berkembang justru datang dari kelompok perempuan Dalam film ini diceritakan bagaimana kelompok feminis membantu sang pelobi agar undang – undang ini dapat digagalkan dan justru menyerukan pengetatan aturan terkait izin kepemilikan senjata api. Kelompok feminis merasa bahwa dengan mudahnya izin kepemilikan senjata api, maka berdampak bagi banyaknya korban jatuh akibat penyalahgunaan senjata api. Dan tentu saja, ibu dari anak dan remaja tersebut yang akan menjadi korbannya.

Keterwakilan Perempuan di Parlemen 

Salah satu hal yang dapat saya petik dari film tersebut adalah bahwa suatu undang – undang sering kali secara tidak sadar justru berdampak pada kelompok perempuan. Untuk itu, penting untuk seorang perempuan terlibat aktif dalam proses pembuatan undang – undang. Tujuannya adalah agar setiap undang – undang yang dibuat dapat mengakomodir kepentingan perempuan dan lebih ramah gender. 

Menurut Nuri Suseno dalam bukunya Representasi Politik: Perkembangan Dari Adjektiva ke Teori (2013), dijelaskan  terdapat 3 bentuk representasi, pertama adalah pictorial representation, atau mereka yang dipilih untuk mewakili harus menyerupai yang diwakilinya. Kedua, theatrical representation, atau wakil yang terpilih harus menafsirkan, berbicara dan bertindak untuk pihak yang diwakilinya. Ketiga, juridical representation, adalah wakil yang terpilih harus bertindak atas nama yang diwakilinya dengan persetujuan demi kepentingan bersama.  

Dalam pembahasan tentang perempuan, maka bentuk representasi yang pertama atau pictorial representation wajib untuk digunakan. Sebab, para kelompok feminis memandang bahwa hampir tidak mungkin laki – laki dapat mengakomodir kepentingan perempuan. Untuk itulah berbagai macam upaya dilakukan agar perempuan dapat terlibat aktif dalam pembuatan undang – undang. Misalnya dengan cara keterwakilan perempuan 30% di parlemen. 

Walaupun sudah disahkan sejak tahun 2003, namun undang – undang ini dapat dikatakan belum sepenuhnya berhasil. Tercatat, pada tahun 2014 – 2019, jumlah perempuan di parlemen hanya 17,32%. Artinya, target minimal 30% perempuan di parlemen belumlah terpenuhi. 

Menuju Pemilu 2019

Mengutip dari seorang sahabat saya bernama Iwan Nurdin, mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia, mengatakan tentang “amnesia masa lalu dan rabun masa depan”. Kata ini sangat bernilai bagi saya jika dikaitkan dengan kondisi perempuan pada hari ini. Maksud kata amnesia masa lalu adalah kelompok perempuan seakan lupa bagaimana perjuangan kelompok perempuan pada masa lalu, dimana kelompok Gerwani dihabisi pada masa orde baru. Selain itu, kelompok perempuan seakan lupa bagaimana perjuangan untuk mensahkan undang – undang keterwakilan perempuan di parlemen. 

Begitu juga dengan rabun masa depan. Sampai saat ini, kuota 30% perempuan hanya dianggap sebagai hiasan saja. Tidak ada aturan yang ketat menyoroti belum berhasil sepenuhnya undang – undang ini dan bagaimana cara agar keterwakilan 30% perempuan di parlemen terpenuhi. Bahkan, DPR dengan tegas menolak draf Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) yang mensyaratkan keterwakilan calon legislatif perempuan bukan hanya ditingkat pusat melainkan sampai ketingkat kabupaten/kota. 

Untuk itulah, dari tulisan ini saya berharap besar kepada para pemilih untuk dapat memilih calon anggota legislatif yang berasal dari kelompok perempuan sehingga jumlah 30% perempuan di parlemen dapat terpenuhi dan saya juga berharap besar terhadap para anggota legislatif perempuan yang nantinya duduk di parlemen untuk dapat menghasilkan undang – undang yang lebih ramah gender. 


Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik 
Pascasarjana Universitas Indonesia 


Sumber Gambar : Youtube Smart News Indonesia 


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

20 comments:

Item Reviewed: Pentingnya Keterlibatan Perempuan di Parlemen Rating: 5 Reviewed By: mindis.id