mindis.id
Latest News
Thursday, August 9, 2018

Mengintip Kekuatan Partai Politik Jelang Pemilu 2019 (Jilid 2)

Baca Juga



Pemilihan Umum tinggal menghitung bulan, setiap partai politik mulai memanaskan mesin partai. Bersiap untuk meyakinkan konstituennya agar dipilih dan menjadi partai pemenang. Banyak strategi yang digunakan, mulai dari merekrut artis dan aktor untuk menjadi calon anggota legislatif, manajemen isu di media, ataupun kampanye langsung atau door to door campaign. Tulisan ini berusaha untuk merangkum bagaimana kekuatan partai politik sejauh ini menjelang dengan menganalisis partai politik berdasarkan pemberitaan di media massa.

9. Partai Perindo   

Perindo memang Partai baru, namun nama Hary Tanoesoedibjo (HT) sudah terdengar sejak lama. Tahun 2011, HT didaulat sebagai Ketua Dewan Pakar dan Wakil Ketua Majelis Partai Nasdem. Namun menjelang pemilu 2014 ia mengundurkan diri dan bergabung dengan Partai Hanura. Bersama Hanura, HT langsung ditempatkan sebagai juru serang, yaitu Ketua Tim Pemenangan Pemilu (Bapilu), menggantikan Yuddy Chrisnandi. 

Namun, baru sebentar saja di Hanura, HT sudah bersitegang dengan Wiranto yang dahulu sebagai Ketua Umum. Partai Hanura saat itu mendukung Joko Widodo untuk menjadi Presiden, sedangan HT lebih memilih mendukung koalisi merah putih bersama Prabowo Subiyanto. Pembangkangan HT terhadap instruksi partai membuatnya didepak dari partai Hanura. 

Merasa masih memiliki ambisi politik yang kuat namun idealismenya selalu berbenturan dengan ketua umum partai, akhirnya bos MNC Group ini membentuk Perindo. Sebagai partai baru, HT sadar betul perlu upaya untuk memperkenalkan partai nya kepada khalayak ramai. Dengan kekuatan media yang ia miliki, Perindo melakukan marketing politik secara masif dan ini dapat dikatakan cukup sukses. Saat ini, selama masyarakat memiliki tv, tidak mungkin tidak akrab dengan mars Perindo. 
Sebagai seorang pebisnis, HT menaruh perhatian besar soal ekonomi kecil. Untuk itu, HT juga secara masif memberikan bantuan modal untuk usaha kecil. Ini dibuktikan dengan banyaknya gerobak – gerobak bertuliskan Partai Perindo. 

Sejauh ini, Perindo cukup kuat untuk menggapai sukses di pemilu 2019 mendatang. Namun, apakah keterkenalan Perindo dapat membuat partainya dipilih oleh masyarakat? Perindo masih butuh waktu untuk menjadi partai pemenang. Namun, jika hanya sekadar lolos ambang batas parlemen mungkin saja bukan perkara sulit bagi HT dan Perindo. 

10. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 

Sejauh ini dapat dikatakan hanya PPP yang tidak mengambil bagian penting dari naiknya isu pemimpin islam. PPP ibarat partai yang senyap dan sibuk membantu pemerintah. Penetrasi ketua umum Romahurmuziy sebagai Cawapres Joko Widodo pun tidak terlalu baik. Namanya masih kalah tenar dari Mahfud MD. 

Untuk itu, diwaktu yang singkat ini, PPP perlu tindakan yang lebih jelas, terukur dan efektif dan efisien mengingat pemilu sudah sebentar lagi jika masih tetap ingin menempatkan kadernya untuk duduk di parlemen. Misalnya dengan cara merangkul kelompok islam yang masih menginginkan Joko Widodo 2 periode.

11. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 

PSI dengan ketua umum Grace Natalie bersama Sekretaris Jenderalnya, Raja Juli Antoni sejauh ini cukup berhasil merangkul pemilih pemula. Strategi udara atau melalui sosial media untuk branding partai juga dinilai cukup baik. Konten-konten yang ditampilkan menarik sehingga PSI lekat dengan anak muda. Apalagi, Tsamara Amany sebagai ketua DPP PSI yang berparaskan cantik sering muncul di media-media tanah air dan membuat partai ini semakin terkenal. 

PSI juga membranding sebagai partai yang anti korupsi, ditandai dengan kampanye anti korupsinya dan tidak ada satu orang pun Bacaleg PSI yang pernah terkena kasus korupsi. Ini membuktikan PSI sebagai partai baru namun bersih dan tidak memiliki dosa politik. 

Satu hal yang menjadi kendala PSI adalah ketika Sekretaris Dewan Pembinanya, Sunny terjerat kasus korupsi. Namun, dengan sigap Sekjen PSI, Raja Juli Antoni langsung menetralisir masalah tersebut dan tidak berimbas pada citra partai. 

Yang perlu menjadi perhatian penting PSI adalah serangan udara dinilai hanya bisa meraup suara di tingkat atas secara efektif dan efisien, tapi tidak untuk di tingkat lokal seperti DPRD. Di level daerah, sosok elit lokal menjadi penting. Untuk itu, perlu merangkul elit lokal untuk dapat menjadi bakal caleg PSI, sehingga suara PSI tidak hanya di tingkat nasional tapi juga di level daerah. 

12. Partai Amanat Nasional (PAN) 

Menarik melihat bagaimana pergerakan PAN yang bolak-balik antara opisisi dan koalisi. PAN cenderung sangat pragmatis dan melihat sisi mana yang menguntungkan. Bahkan, PAN sempat menggagas poros ketiga bersama dengan PKB, dan kini dikaitkan dengan Demokrat.

Sebenarnya, PAN cukup hebat dalam membuat gebrakan saat Amien Rais vokal di media – media. Namun sayangnya, Partai ini seakan sibuk sendiri dan lupa menyodorkan tokoh untuk dimajukan di Pilpres. Sehingga, di waktu-waktu sisa barulah ia menyodorkan nama Ustaz Abdul Somad walaupun Sang Ustaz juga secara gamblang menolaknya. PAN seakan kehabisan akal untuk menyodorkan nama tokoh. Sebaiknya, lupakan pilpres, fokus mendukung satu calon, perkuat partai dan fokus pada pileg, serta lakukan lobi politik untuk mendapatkan jatah menteri. 

13. Partai Hanura 

Setelah Golkar dan PPP mengalami kegoncangan hebat akibat dualisme, kini partai yang didirikan oleh Menteri Koordinator Hukum dan HAM, Wiranto juga mengalami hal serupa. Hanura memiliki dua kubu, yaitu Oesman Sapta Odang (OSO)-Harry Lotung Siregar dan Daryatmo-Sarifuddin Suding. Kubu OSO dan Daryatmo pun saling tuding dan saling pecat sehingga berdampak pada retaknya partai hingga masuk sengketa ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Namun, masalah ini setidaknya sudah cukup mereda melihat para punggawa kubu Daryatmo mulai pindah partai. Tinggal bagaimana OSO kembali merapatkan barusan dan bersiap untuk membawa Hanura kembali eksis di Senayan. 

Tak lama, Hanura kembali ditimpa masalah pelik terkait pencalonan DPD yang tidak boleh beranggotakan partai politik. OSO tidak menampik bahwa sejatinya DPD memang tidak boleh berasal dari Partai Politik, namun ia menyayangkan sikap Mahkamah Konstitusi yang ketuk palu di akhir-akhir masa pendaftaran. Lebih parahnya lagi, Hanura kembali diterpa masalah administrasi di KPU sehingga hanya sembilan nama yang dianggap KPU memenuhi syarat bakal calon anggota legislatif Partai Hanura. 

Sebenarnya, Partai Hanura karakteristiknya memang bukanlah partai elit nasional melainkan elit daerah. Terbukti, dari 16 anggota DPR fraksi Hanura, sembilan anggotanya memiliki jumlah pemilih yang jauh lebih besar daripada yang mencoblos lambang partai. Artinya, Hanura memang buruk dalam branding partai tapi cukup baik dalam merekrut elit lokal. OSO pun dinilai tokoh yang mampu mengangkat Hanura di kancah nasional, sebagai ketua DPD dan wakil ketua MPR. 

Modal finansial OSO juga cukup kuat untuk melakukan pengembangan partai. Sebab, OSO adalah seorang pebisnis sukses. Namanya pun kuat di Kalimantan Barat dan Sumatera Barat. Jika tidak ada keretakan internal, mungkin partai ini tidak akan kesulitan melewati ambang batas 4%. 

14. Partai Demokrat 

Sejauh ini, tidak ada isu yang dikembangkan oleh partai Demokrat untuk meningkatkan elektabilitas partainya. Namun, Partai ini sudah turun gunung ke daerah-daerah untuk menyosialisakan partainya bersama dengan ketua Badan Pemenangan Pemilu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Hal ini terkesan, Demokrat sungguh-sungguh ingin menjadikan AHY sebagai penerus sang ayah. 

Perlu diingat bahwa pendukung AHY pun cukup banyak, melihat tokoh ini tidak memiliki catatan buruk dalam dunia politik dan terkesan sebagai tokoh yang masih segar. AHY sebagai simbol politikus muda yang memiliki kemampuan dan pemilihnya pun adalah orang-orang yang jenuh akan tokoh usang. 

Namun yang patut menjadi perhatian adalah bagaimana partai Demokrat membendung isu yang dilemparkan lawan politik, misalnya seperti “AHY hanya ambisi dari SBY”, atau “Kalah di Jakarta kok malah mau jadi Wapres. Minimal ya DPR atau Menteri dulu”. Demokrat harus bisa menjawab segala tantangan ini jika ingin menunjukkan kekuatannya pada Pileg 2019 mendatang. 

15. Partai Bulan Bintang (PBB) 

Sempat tidak lolos verifikasi sebagai peserta pemilu 2019, akhirnya Bawaslu meloloskan partai yang diketuai oleh Yusril Ihza Mahendra ini. Yusril memang bukan sembarang politikus, namanya cukup dikenal di kalangan elit sebagai politikus kelas kakap. Namun sayang, namanya belum setenar itu untuk bisa mengangkat nama PBB. Alhasil, partai ini gagal lolos ambang batas pada pemilu sebelumnya. Realistisnya, PBB harus bisa merangkul elit lokal dan merebut kursi DPRD sebanyak-banyaknya dan tidak berharap banyak di level DPR RI. 

16. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 

Selain PBB, ada pula PKPI yang akhirnya diloloskan untuk menjadi peserta Pemilu 2019. Sama seperti sebelum-sebelumnya, kekuatan dan modal utama PKPI adalah para purnawirawan. PKPI sebenarnya bisa ambil bagian penting dalam pemilu 2019, yaitu menggandeng Gerindra yang terus meneriakkan Indonesia dalam keadaan darurat. Untuk itu, perlu pemimpin-pemimpin yang tegas dan berasal dari kalangan militer, dan ini ditawarkan oleh PKPI.

Melihat peta kekuatan partai politik di atas berdasarkan informasi pemberitaan di media massa, berikut dipaparkan kemungkinan hasil Peringkat Pemilu 2019:

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 
2. Partai Gerindra 
3. Partai Golkar 
4. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 
5. Partai Demokrat  
6.  Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
7. Partai Nasdem   
8. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 
9. Partai Perindo 
10. Partai Amanat Nasional (PAN)  
11. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 
12. Partai Hanura 
13. Partai Berkarya 
14. Partai Bulan Bintang (PBB)
15. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 
16. Partai Garuda 

back


Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia



*tulisan ini dibuat berdasarkan pandangan penulis dengan cara pengumpulan data di media massa. Tidak ada kajian ilmiah dalam pembuatannya. 
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Mengintip Kekuatan Partai Politik Jelang Pemilu 2019 (Jilid 2) Rating: 5 Reviewed By: mindis.id