mindis.id
Latest News
Thursday, August 9, 2018

Mengintip Kekuatan Partai Politik Jelang Pemilu 2019 (Jilid 1)

Baca Juga




MINDIS.ID - Pemilihan Umum tinggal menghitung bulan, setiap partai politik mulai memanaskan mesin partai. Bersiap untuk meyakinkan konstituennya agar dipilih dan menjadi partai pemenang. Banyak strategi yang digunakan, mulai dari merekrut artis dan aktor untuk menjadi calon anggota legislatif, manajemen isu di media, ataupun kampanye langsung atau door to door campaign. Tulisan ini berusaha untuk merangkum bagaimana kekuatan partai politik sejauh ini menjelang dengan menganalisis partai politik berdasarkan pemberitaan di media massa.  

1. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)    

Berbicara PKB, maka yang akan terlintas dibenak kita pastilah Nahdlatul Ulama (NU). Kekuatan partai ini masih sama dari pemilu – pemilu sebelumnya, yaitu kiai – kiai NU dan para santrinya. Selain itu, ada sejumlah tokoh yang menjadi motor partai, seperti ketua umum Muhaimin Iskandar, Menteri Iman Nahrawi dan Hanif Dhakiri. 

Namun, pilkada Jawa Timur kemarin cukup memberi luka serius bagi partai berwarna hijau ini. Suara NU terpecah akibat dua pentolannya saling tusuk, yaitu Khofifah Indar Parawansa sebagai Muslimat NU dan Gus Ipul dari GP Anshor. Untuk itu, PKB harus segera merapatkan barisan NU untuk dapat kembali berjaya di Jawa Timur, sebagai jumlah pemilih paling banyak. 

2. Gerindra 

Sebagai partai oposisi, partai ini terus meneriakan #2019GantiPresiden. Framing isu yang dibuat pun cukup baik dengan menampilkan kebobrokan – kebobrokan pemerintah. Gerindra menampilkan bahwa pemerintah Indonesia dibawah pemerintahan Joko Widodo hanya pencitraan saja, dan sebenarnya negara sedang dalam keadaan kritis. Untuk itulah, mereka memunculkan sosok Prabowo Subianto, sang ketua umum dengan latar belakang militer dengan harapan dapat menyelamatkan negara dari kehancuran. 

Problematika Gerindra adalah Prabowo dapat dikatakan sosok usang, sudah 2 kali pemilihan presiden dan kalah pula. Rakyat sedikitnya berpikir bahwa tokoh ini terlalu ambisius. Rakyat cenderung bosan dengan tokoh itu-itu saja. 

Namun tidak dipungkiri, elektabilitas Prabowo masih cukup tinggi di kalangan masyarakat.  Untuk itu, Gerindra harus dapat membulatkan suara, dimana yang memilih Prabowo maka di pilegnya memilih Gerindra. 

3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 

Sejauh ini, partai dengan kesiapan paling matang dapat dikatakan PDIP. Pemilihnya pun cenderung segaris, memilih Joko Widodo maka memilih PDIP. Para pendukung PDIP cenderung loyalis dan tidak mudah digeser. Jika tidak ada tsunami politik, maka diprediksi PDIP hampir pasti masuk ke dalam 3 besar. 

Problematika PDIP adalah bagaimana menentukan wakil presiden untuk Joko Widodo? Tidak akan sempurna kesuksesan partai besutan Megawati ini tanpa berhasil menjadikan Joko Widodo kembali menjadi presiden. Selain itu, pekerjaan rumah PDIP saat ini adalah merapihkan barisan koalisi sehingga tidak ada yang menyebrang dan bahkan dapat menarik partai pendukung Prabowo untuk mendukung Joko Widodo. 

4. Golkar 

Setelah kasus korupsi E-KTP menimpa ketua umum partai berlambang beringin ini, para elit partai Golkar langsung melakungan manuver untuk menyelamatkan partai dengan menunjuk Menteri Peindustrian Airlangga Hartanto sebagai Ketua umum.  Golkar pun dianggap sukses menjauhkan isu E-KTP terhadap elektabilitas partai, padahal tersangkanya adalah ketua umumnya.    

Golkar memang partainya para elit politik, banyak sekali tokoh – tokoh besar yang dilahirkan dari partai ini. Bahkan bisa dibilang, embrio partai Hanura dan Gerindra berasal dari partai berlatar kuning ini. Loyalis nya pun kuat, khususnya diluar pulau Jawa sehingga tidak diragukan lagi Golkar tetap bisa meraih 3 besar pada pemilu mendatang. 

5. Partai Nasdem 

Kedua ikut serta dalam pemilihan umum, partai yang dinahkodai oleh Surya Paloh ini ingin meningkatkan perolehan suaranya setelah sebelumnya harus puas diperingkat 8. Banyak manuver – manuver politik yang dilakukan oleh partai Nasdem, misalnya dengan membuat akademi bela negara, membuat hashtag politik tanpa mahar, menggaet sejumlah artis papan atas untuk menjadi bakal calon anggota legislatif, serta merangkul Anggota DPR RI yang hijrah dari Hanura karena konflik internal, seperti Arief Suditomo, Fauzi H. Amro, Dossy Iskandar, Rufinus Hotmaulana Hutauruk dan Dadang Rusdiana. 

Nasdem berpikir bahwa tokoh – tokoh yang dipilihnya adalah orang – orang yang telah memiliki elektabilitas, seperti artis dan politisi Hanura tersebut. Tinggal bagaimana meyakinkan konstituen mereka bahwa mereka adalah kader Nasdem. Dengan mesin partai yang bergerak sangat hebat sampai saat ini, diyakini Nasdem akan membuat gebrakan pada pemilu 2019 mendatang. 

6. Partai Garuda 

Entah partai gurem atau medioker, suara partai Garuda nyaris tidak terdengar. Bahkan Ketua Umumnya pun bukan berasal dari kalangan politisi top, yaitu Ahmad Ridha Sabana, mantan politisi Gerindra dan Direktur Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Tapi tidak dipungkiri, bahwa partai ini siap untuk ikut berkompetisi karena telah memenuhi syarat dari KPU, yaitu diantaranta memiliki kepungurusan di seluruh provinsi, memiliki kepengurusan paling sedikit 75% dari jumlah kabupaten/kota di provinsi, memiliki kepengurusan paling sedikit di 50% jumlah kecamatan, menyertakan paling sedikit 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusan parpol tingkat pusat, dan memiliki anggota paling sedikit 1.000 atau 1/1.000 dari jumlah penduduk.  

Secara teori, mungkin partai ini sulit untuk lolos ambang batas parlemen, namun bisa saja sebenarnya partai ini secara realistis tidak menargetkan duduk disenayan tapi hanya mengantarkan kader – kadernya duduk di parlemen tingkat DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota. Dan hal ini sah – sah saja, karena fungsi partai politik adalah mengantarkan kadernya meraih kekuasaan. 

7. Partai Berkarya 

Keluarga Cendana kembali terlibat dalam pemilu bersama Partai besutan Tommy Soeharto. Berkarya membangun isu bahwa Golkar yang sekarang sudah berubah dengan lahirnya Golkar paradigma baru. Tommy bersama jajaran elit partai berusaha merangkul masyarakat yang merasa bahwa orde baru dibawah naungan Presiden Soeharto lebih baik daripada pasca reformasi. 

Yang perlu menjadi perhatian bahwa tidak sedikit para elit politik yang duduk dikursi kekuasaan saat ini adalah mantan aktivis 98 yang berusaha menjatuhkan Soeharto dan tentunya tidak ingin kembali kebebasan dibungkan. Untuk itu, Berkarya dapat menjadi musuh bersama di jajaran elit politik. 

Melihat hal ini tentu tidak mudah bagi Berkarya untuk dapat membuat gebrakan. Prediksi, lolos dari ambang batas parlemen saja sudah cukup. Mungkin alangkah baiknya jika partai ini lebih fokus untuk memenangkan kadernya di tingkat DPRD. 

8.  Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 

PKS menjadi salah satu partai yang penetrasinya cukup baik sampai sejauh ini. Sebagai oposisi, ia terus meneriakan #2019GantiPresiden. Ini membentuk opini di masyarakat bahwa pemerintah hari ini yang dekat dengan media hanya sebagai bentuk pencitraan dan PKS berusaha memberika pandangan alternatif. Manuver ini pun cukup efektif, dibuktikan dengan munculnya nama – nama yang siap merebut kekuasaan. 

Sebagai Partai politik berbasiskan islam, PKS juga dinilai berhasil membentuk opini publik untuk memunculkan nama – nama ulama untuk menjadi Presiden ataupun Wakil Presiden. Semenjak kasus pilkada DKI Jakarta yang menimpa Ahok, dan ada pula Gerakan 212, isu pemimpin agama terus terdengar. Alhasil, banyak nama – nama dari kelompok islam yang bermunculan, seperti Salim Segaf Aljufri dan uztad Abdul Somad. 

Sejauh ini, branding partai dengan membentuk opini publik tentang kepemimpinan islam sudah cukup baik. Bahkan dapat dikatakan, mesin partai terbaik sejauh ini adalah PKS. Namun sayangnya, kelemahan dari oposisi adalah lupa membentuk tokoh yang kuat. Padahal, momen – momen #2019gantipresiden dan 212 sangat baik jika memunculkan satu nama untuk menjadi capres maupun cawapres. Untuk itu, kemungkinan PKS sukses di pileg sangat besar, namun sulit untuk masuk dalam bursa Presiden dan Wakil Presiden.

Next


Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu politik, Universitas Indonesia 
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

12 comments:

Item Reviewed: Mengintip Kekuatan Partai Politik Jelang Pemilu 2019 (Jilid 1) Rating: 5 Reviewed By: mindis.id