mindis.id
Latest News
Monday, August 13, 2018

Mengenal Seasonal Affective Disorder

Baca Juga

seasonal affective disorder


Pada 18 Desember 2017 lalu, seorang artis asal Korea Selatan, Kim Jonghyun, ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah apartemen. Berdasarkan penyelidikan polisi, Jonghyun yang merupakan anggota boygroup SHINEE bunuh diri dengan menghirup asap monoksida dari briket batu bara. Ia diduga bunuh diri karena depresi, dugaan ini juga dikuatkan dengan sebuah pesan yang Jonghyun titipkan ke temannya. Di dalam surat itu, Jonghyun mengatakan ia memiliki depresi sangat berat dan tak sanggup lagi menahan bebannya. Selain itu, pada 2015 Jonghyun mengatakan bahwa ia memiliki penyakit mental Seasonal Affective Disorder atau SAD, yang memicu semakin besarnya keinginan Jonghyun untuk mengambil jalan pintas.

Lalu, apa itu SAD? SAD adalah penyakit mental yang mempengaruhi mood seseorang berdasarkan iklim atau cuaca. Dalam sebuah interview pada 2015 silam Jonghyun mengungkapkan, "Aku semakin merasa depresi selama musim gugur dan musim dingin sejak aku kecil. Ibuku akan selalu perhatian dengan cara membuatkan makanan kesukaanku daripada bertanya apa yang terjadi padaku saat itu.”

Melansir dari Kompas.com, psikiater Ika Widyawati SpKJ, yang mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berkata bahwa depresi ini umumnya terjadi di negara yang memiliki empat musim. Di negara seperti Indonesia hampir sangat jarang terjadi. Iklim lingkungan yang dilihat manusia setiap hari sangat berpengaruh pada mental.

SAD diakibatkan oleh ketidakseimbangan kimia dalam otak yang disebabkan kekurangan cahaya matahari. Meski penyebab gangguan ini tidak bisa dipastikan selalu sama, tapi porsi cahaya dan mekanisme regulasi hormon di otak diduga sebagai sebab utama gangguan ini. Cuaca mendung dengan kadar cahaya yang menurun dinilai membuat tubuh memproduksi hormon melatonin, hormon yang menyebabkan rasa kantuk. Setidaknya, manusia perlu mendapat suplemen vitamin D atau terpapar sinar matahari minimal satu jam agar terhindar dari SAD.

Melansir dari Fox News, Dr Sanam Hafeez PsyD, psikolog klinis di New York mengatakan, "Orang dengan SAD juga memiliki ketidakmampuan untuk mengatur neurotransmitter yang bertanggung jawab atas mood, serotonin dan kelebihan produksi hormon melatonin, yang mengatur siklus tidur. Ini menjelaskan mengapa orang dengan SAD sering lelah.”

SAD biasanya semakin memuncak di musim salju, penderitanya akan merasa depresi yang sangat berat dan kembali normal ketika memasuki musim semi. Sindrom SAD ini umumnya lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria. Penyakit ini sering terjadi pada orang yang berusia antara 15 sampai 55 tahun di daerah yang musim dinginnya lebih banyak dibanding panas.

Beberapa gejala yang ditunjukkan saat seseorang mengalami SAD. Misalnya, lesu di pagi hari, suasana hati tertekan dan selalu merasa kesepian, selalu menyendiri, mudah marah, atau mudah tersinggung. Semuanya semakin parah begitu memasuki musim gugur atau musim salju.

Salah satu cara untuk menangani SAD adalah dengan banyak berkomunikasi dengan orang sekitar atau dokter ahli, dengan begitu perasaan dapat tersalurkan dengan baik. Selain itu, terapi cahaya juga dapat membantu menyembuhkan, mengingat SAD memuncak di musim salju yang minim akan cahaya matahari.


Nurimah Kurniasih
Politeknik Negeri Jakarta


Sumber gambar: globalwomenconnected.com 

  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Mengenal Seasonal Affective Disorder Rating: 5 Reviewed By: mindis.id