mindis.id
Latest News
Monday, August 27, 2018

Mari Berkenalan dengan Komunitas Samin

Baca Juga

suku samin


MINDIS.ID - Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ribuan suku yang mendiami hampir seluruh pulaunya. Dari sekian banyak suku, pernahkah kalian mendengar Suku Samin? Atau dikenal juga dengan Komunitas Samin. Suku Samin, adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di daerah Blora provinsi Jawa Tengah dan dusun Jepang di Bojonegoro provinsi Jawa Timur.

Pemukiman Suku Samin ini berada di tengah hutan, mereka sengaja menjauhkan diri dari kehidupan keramaian dan menjalankan tradisi hidup mereka yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Mereka memperlakukan alam dengan baik. Mengambil kayu bakar hanya seperlunya dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Mereka lebih banyak berjalan kaki, sejauh apa pun yang mereka tempuh. Serta hanya sedikit yang bisa berbahasa Indonesia. Semua ini mereka jalani karena sesepuh mereka, Samin Surosinteko merupakan penentang keras materialisme dan kapitalisme yang dibawa oleh kolonial Belanda.

Orang Samin berbicara menggunakan bahasa Kawi yang dikombinasikan dengan dialek setempat. Suku Samin mengalami perkembangan dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup. Di daerah Pati dan Brebes, terdapat pecahan suku Samin yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar, yang telah meninggalkan tatacara hidup suku Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal Wong Sikep, mereka yang dulunya fanatik, kini meninggalkan tata cara hidup dan keyakinan suku Samin yang dahulu dan memilih agama resmi, yaitu agama Budha-Dharma. Daerah penyebaran dan para pengikut ajaran Samin pertama kali tersebar di daerah Klopoduwur, Blora provinsi Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang ke dua desa hutan kawasan Randublatung kabupaten Bojonegoro provinsi Jawa Timur.

Warga Samin mempunyai prinsip tersendiri untuk menjalani hidup. Kadang kala, keberadaan mereka terasing di wilayahnya sendiri. Komunitas Samin memiliki lima aturan, yaitu tidak bersekolah, tidak memakai peci, tapi memakai "iket", yaitu semacam kain yang diikat di kepala, tidak berpoligami, tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut, serta tidak berdagang. Namun, beberapa dari aturan itu mulai tidak dijalankan seiring berkembangnya zaman. Seperti anak-anak Samin yang mulai bersekolah. Banyak warga juga yang mulai bersosialisasi dengan masyarakat luar

Ajaran dan kepercayaan Saminisme, muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri yang akhirnya terbentuk suatu komunitas tersendiri serta kepercayaan dan tata cara hidup tersendiri, dan komunitas mereka ini disebut Suku Samin.

Samin sendiri bermula dari R Surowijoyo yang dididik oleh orang tuanya, Raden Mas Adipati Broyuningrat, untuk mengenal lingkungan kerajaan. Setelah Surowijoyo beranjak dewasa, ia mulai memikirkan penderitaan rakyat dari bangsa penjajah. Pada tahun 1840 R Surowijoyo mendirikan perkumpulan pemuda yang diberi nama “Tiyang Sami Amin”. Dari perkumpulan itulah muncul istilah “Samin.” Samin sendiri memiliki arti bersama-sama membela negara. Dalam perkumpulan ini, pemuda diajarkan tingkah laku yang baik terhadap sesama, jangan sampai melakukan hal yang semena-mena.

Agar komunitas tetap utuh, setiap malam Jumat Legi (manis), mereka berkumpul, mendengarkan petuah-petuah dari pemuka Samin. Dalam acara tersebut juga dibahas mengenai berbagai hal yang terjadi pada bulan sebelumnya. Bagi yang tidak mematuhi peraturan Samin, maka yang bersangkutan akan mendapatkan sanksi berupa dikucilkan dari komunitas itu.

Kini, Samin yang dulunya tertutup dengan dunia modern mulai mau membuka diri. Pada 22 Desember 2017 lalu, Samin mengadakan festival seni dan budayanya untuk pertama kali. Festival ini diprakarsai oleh masyarakat Samin sendiri. Festival tersebut diawali dengan sarasehan pada 21 Desember.

Pada Sarasehan itu dibahas prinsip hidup dan perjuangan Ki Samin Surosentiko dalam melawan penjajahan kolonial Belanda. Selanjutnya ada pementasan kesenian reog, jaran kepang, dan karawitan Samin Laras. Semuanya dilakukan warga Komunitas Samin.

Berdasarkan keterangan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, festival Samin akan dijadikan agenda wisata tahunan untuk menarik wisatawan.



Nurimah KurniasihPoliteknik Negeri Jakarta

sumber gambar: nusantara.news
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Mari Berkenalan dengan Komunitas Samin Rating: 5 Reviewed By: mindis.id