mindis.id
Latest News
Friday, August 10, 2018

Hegel dan Negara Roh Absolut

Baca Juga



George Wilhelm Friederich Hegel, adalah seorang anak dari pegawai keuangan dikerajaan Wurtenberg. Ia lahir di Stuttgart, pada tanggal 27 Agustus 1770. Ia pun bersekolah di kota kelahiranya tersebut dan selama sekolah, ia bukanlah siswa yang menonjol. Pada tahun 1788, ia memasuki Universitas Tubingen sebagai mahasiswa Teologi, dan menerima gekar doktor pada tahun 1793. Selama kuliah, ia cenderung menyukai buku – buku filsafat klasik. Oleh sebab itu, pemikirannya nanti sering kali dipengaruhi oleh Aristoteles dan Plato.   

Dari Universitas Tubingen, ia melanjutkan hidupnya menjadi guru pada sebuah keluarga aristokrat di Bem, Swiss (1793-1797) dan Frankfurt (1797-1800). Pada masa – masa inilah Hegel menuliskan karya – karya awalnya, yang mayoritas bernuansa kan agama. Pada tahun 1800, ia mendapat tawaran untuk menjadi pengajar tidak tetap di Universitas Jena dan memberikan kuliah tentang hukum alam, logika dan metafisika.  Selain menjadi pengajar tidak tetap, di Jena ia juga menjadi seorang editor di suatu surat kabar. 

Namun, pada tahun 1808, ia meninggalkan seluruh pekerjaanya ini demi menjadi seorang kepala sekolah di Nuremberg, Pada saat menjadi kepala sekolah, ia mengeluarkan sebuah buku yang membuatnya cukup terkenal yaitu Science of Logic pada tahun 1812 yang membicarakan tentang sistematika kerja dialektika. Kesuksesan hasil karyanya ini juga membuat ia mendapat gelar profesor dari Erlangen, Berlin dan Heidelberg.   

Pada tahun 1821, ia mempublikasikan karya selanjutnya yang berjudul The Philosophy of Right. Semenjak itu, ia menjadi orang yang dihormati dan berpengaruh di kerajaan Prussia. Pada bulan November 1831, ia meninggal dunia akibat penyakit kolera yang dideritanya.

Negara dalam Pandangan Hegel 

Negara dalam pemikiran Hegel adalah penjelmaan dari “Roh Absolut”. Karena itu, negara bersifat absolut yang kekuasaannya melampaui hak – hak individu.  Jika kembali kepada teori awal tentang dialektika Hegel, maka dapat dijelaskan bahwa Keluarga adalah “Roh Objektif”. Lalu muncul anti-tesis yaitu masyarakat sipil ketika individu bersifat subjektif, maka menjadi “Roh Subjektif” dan terakhir titik tengahnya menjadi negara “Roh Absolut”. 

Pelajaran teologinya selama kuliah mengilhami pemikiran Hegel tentang penamaan ini dan menggunakan istilah “Roh”. Untuk negara, Hegel menjelaskan bahwa negara merupakan “derap langkah tuhan dimuka bumi”.  Oleh karena itu, sering kali Hegel disangkut pautkan dengan totalitarianisme karena menuhankan negara. 

Berbeda dengan Marx yang melihat negara sebagai sebuah alat, Hegel melihat bahwa negara merupakan sebuah tujuan. Oleh karena itu, Hegel berpendapat bahwa bukan negara yang harus mengabdi kepada rakyat, namun justru sebaliknya. Di dalam logika Hegel, bahwa mengabdi kepada negara adalah demi kebaikan bersama.  

Hal ini dapat dipahami bahwa dari dialektika Hegel, bahwa memang ujung nya adalah negara. Artinya negara adalah bentuk paling sempurna. Selain itu, Hegel berpendapat bahwa manusia memiliki sifat bebas dan perlu diatur karena subjektifitasanya. 

Sama halnya dengan Plato, Hegel berusaha untuk menentang aliran pemikiran yang mengutamakan individualisme dengan doktrin hak asasinya. Namun, Hegel menjelaskannya lebih detail lagi, yaitu individu haruslah menginginkan negara. Karena jika seorang individu tidak menginginkan negara maka akan dianggap tidak rasional. Artinya, hak – hak individu tidak akan berarti apa – apa jika bertentangan dengan keinginan negara. 

Keinginan individu di dalam masyarakat sipil dianggap Hegel sebagai sebuah bentuk subjektifitasnya. Subjektifitas ini tidaklah berbentuk satu, melainkan ada disetiap pemikiran masyarakat sipil dengan rasionalitasnya. Jika terjadi keadaan dimana rasionalitas manusia bertentangan dengan rasionalitas negara, maka negara akan menundukan rasionalitas tersebut. Sebab, kepentingan negara diatas segalanya. Rasionalitas negara bukanlagi bentuk dari subjektifitas melainkan objektifitas ditambah dengan akal-budi sehingga Hegel menyebutnya dengan istilah “Roh Absolut”. Untuk itu, Hegel menjelaskan bahwa pendukuan rasionalitas masyarakat sipil terhadap roh absolut negara sebagai sebuah bentuk penyatuan antara masyarakat sipil dengan negara.  

Filsafat negara atau dasar sebuah negara menurut Hegel murni atas otoritas negara dan bukan ranah masyarakat sipil. Jika ada sebuah pandangan bernegara yang dapat merusak dasar negara, maka negara berhak untuk mengambil tindakan. Hanya negara yang boleh menentukan teori dan filsafat negara, dan hanya negara yang boleh menentukan mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap merusak.  

Negara sebagai entitas politik terbagi atas 3 bagian  yaitu pertama Kekuasaan untuk menentukan dan mendirikan yang universal (Legislatif). Kedua, Kekuasaan untuk menggolongkan kasus – kasus tunggal dan bidang – bidang khusus (Eksekutif). Ketiga Kekuasaan subjektifitas, sebagai keinginan dengan kekuasaan dari keputusan yang tertinggi yaitu Raja.  Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Hegel setuju dengan konsep monarki konstitusional. 

Fungsi legislatif seperti yang dijelaskan Hegel adalah untuk membuat peraturan di dalam negeri. Sebab, konteks negara pada saat Hegel hidup peran negara hanya sebatas pada urusan pertahanan negara dari serangan luar dan militer. Untuk urusan dalam negeri Hegel menyerahkan pada legislatif. Anggota legislatif disini dimaksud Hegel terdiri dari para masyarakat sipil yang merupakan tuan tanah atau kelompok kelas menengah. Masuknya masyatakat sipil kedalam legislatif menurut Hegel sebagai sebuah bentuk penyatuan antara masyarakat sipil dengan negara.

Kritikan Terhadap Pemikiran Hegel 

Penulis mencoba untuk mengkritisi beberapa pemikiran Hegel tentang negara dan masyarakat sipil. Pertama adalah tentang dialektika Hegel tentang masyarakat sipil dan negara. Hegel menjelaskan bahwa masyarakat sipil adalah anti-tesis terhadap keluarga yang menurut Hegel keluarga masih bersifat objektif karena cinta dan kasih sayang sedangkan saat tumbuh dewasa dan masuk ke dalam masyarakat sipil, manusia cenderung lebih subjektif. Namun, Hegel tidak menyadari bahwa subjektifitas seseorang sering kali dipengaruhi oleh faktor keluarga. Sebab, pembentukan pemikiran dan cara pandang seseorang terbentuk oleh lingkungan terdekat dan terkecil yaitu keluarga. 

Kedua adalah Hegel secara bias menjelaskan tentang hak – hak individu masyarakat sipil. Hegel berpendapat bahwa negara memiliki kewenangan yang absolut sehingga hak – hak individu masyakat sipil tidak ada harganya di depan kekuasaan negara. Namun, disatu sisi Hegel percaya bahwa sifat dasar alamiah manusia adalah bebas. Artinya, Hegel menjelaskan bahwa masyarakat tidak dalam kondisi dimana ia bebas, melainkan terkurung dalam aturan yang dibuat oleh negara. Manusia menjadi bebas untuk tidak bebas. Walaupun Hegel berdalih bahwa negara merupakan rasional karena mengedepankan akal-budi. 

Ketiga adalah kecenderungan Hegel menciptakan absolutisme negara membuat lahirnya totalitarianisme. Hegel yang menyembah negara dengan mengatakan bahwa negara adalah “derap langkah tuhan” dimuka bumi membuat pemaksaan terhadap kecintaan seseorang kepada negara. Hegel tidak sadar bahwa kecintaan itu tidak bisa dipaksa dan harus berjalan dengan hukum alam. Pemaksaan ini dapat menyebabkan pemberontakan dan justru akan menciptakan kekacauan. Namun, pemikiran Hegel ini wajar sebab Hegel sangat dipengaruhi oleh pemikiran politik Plato yaitu mengedepankan ide dan seorang yang utopis.



Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia 



Sumber Gambar : https://footnotes2plato.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Hegel dan Negara Roh Absolut Rating: 5 Reviewed By: mindis.id