mindis.id
Latest News
Friday, August 17, 2018

Asian Games dan Bambu Runcing

Baca Juga



Sehari setelah Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-73, Asian Games pun dimulai. Namun jauh sebelum perhelatan akbar ini dimulai, komentar miring sempat nyaring terdengar. Pasalnya, saking semangatnya menjadi tuan rumah, warga mengekspresikan kegembiraan mereka dengan mengibarkan bendera negara peserta hanya menggunakan sebilah bambu. Entah mengapa banyak orang di Indonesia menyukai hal-hal yang miring. Harga miring, hajar miring, kapal miring, Kapten! Barangkali, Anda tengah membaca tulisan ini dengan kepala miring? Tak apa, topi boleh miring tapi otak jangan.

Entah sejak kapan masyarakat kita jadi pandai melihat sesuatu dari segi pesimistik. Bukannya mengangkat malah sering menurunkan. Bukannya mengapresiasi malah malah senang menghakimi. Seolah tak bisa melihat sesuatu untuk membanggakan, namun lihai menjelekkan. Kehadiran media sosial, seakan menjadi pupuk penyubur penyebar kebencian.

Kembali saya soroti komentar pedas terkait bambu yang digunakan sebagai media pengibar bendera negara peserta Asian Games. Jika kita mau berpikir filosofis, bambu memiliki peran penting dalam perjuangan negara kita. Semua tahu, bambu runcing adalah senjata perlawanan kita terhadap penjajah. Bambu runcing menjadi simbol betapa kuat dan hebatnya semangat para pejuang dalam mengusir penjajah. Kalau dinalar dengan logika, apa bisa sebilah bambu menghalau selongsong peluru? Jadi, ini bukan soal bambunya tapi semangat juangnya.

Anggap saja, sebilah bambu yang lurus menjulang itu merupakan representasi dari negara kita. Melambangkan kesederhanaan, namun punya semangat juang yang tinggi. Kita memang tidak punya teknologi, tapi kita punya ambisi. Kita mungkin tidak diperhitungkan, tapi kita bisa buat perhitungan. Siapa lagi yang harus mengoptimiskan sebuah negara kalau bukan warganya?

Kita mungkin terlalu sering mengecilkan negara kita sendiri, itu masalahnya. Padahal, negara kita adalah negara yang besar. Buktinya, negara kita mampu menampung beragam suku dan budaya tanpa terpecah belah. Sekalipun ada isu pergerakan perlawanan, semua bisa diredam dan negara tetap berjalan dengan aman. Kita malah sibuk membandingkan negara kita dengan negara tetangga yang luasnya bahkan tak lebih luas dari satu pulau di Indonesia.

Kita juga mungkin terlalu sering memiskinkan negara kita sendiri. Kalau mau dipikir, sejak kapan ada pedagang yang mau menjual dagangannya kepada orang miskin? Bukannya untung, malah buntung. Tapi coba lihat negara kita. Pintunya yang luas terbuka, memungkinkan pedagang mana saja masuk dan menjajakan dagangannya di negeri ini. Jangankan barang yang murah, barang mahal saja laku di sini. Kalau mereka mencari uang di negara kita, jadi sebenarnya siapa yang punya banyak uang? Kita, atau mereka? Siapa yang kaya? Kita, atau mereka? Berhentilah menganggap kita ini miskin, justru kita jauh lebih kaya dari mereka.

Pola pikir seperti ini yang sebenarnya perlu kita ubah. Mengapa kita perlu memperbesar satu keburukan jika punya sepuluh kebaikan? Atau, sekalipun antara kebaikan dan keburukannya satu banding satu, mengapa hanya keburukannya yang kita pikirkan. Itu juga hanya dipikirkan, bukan diselesaikan agar didapat kebaikannya.

Oleh karena itu, tak perlulah memikirkan keburukan dan kejelekan akan suatu keputusan dan kejadian. Mari kita kuatkan negara kita dengan melihat apa pun yang terjadi di negara ini dari sisi positifnya saja. Pernyataan dan anggapan negatif tentang negeri ini hanya akan melemahkan harga diri bangsa. Jadikan momentum kemerdekaan dan perhelatan akbar ini sebagai batu loncatan kita dalam membentuk negara Indonesia yang superior. Merdeka Indonesia! Merdeka bangsa kita!


Nicky Rosadi
Penulis novel dan dosen di salah satu universitas swasta di Jakarta


Sumber gambar: istimewa
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Asian Games dan Bambu Runcing Rating: 5 Reviewed By: mindis.id