mindis.id
Latest News
Monday, July 30, 2018

Jarimu, Harimaumu!

Baca Juga



Populernya media sosial dewasa ini menjadi sebuah kemajuan paling signifikan dalam berkomunikasi. Semua orang dapat berbagi informasi kapan pun dan di mana pun mereka berada. Seakan dunia hanya ada di ujung jari, dalam hitungan detik semua informasi dapat diakses. Segala sesuatu pun menjadi serba digital, mulai dari transaksi, pesan tiket, pesan makan, hingga mencari jodoh.

Dengan segala kemudahan ini, semua orang mampu menuangkan isi pikiran mereka di media sosial. Malah, sekarang ini orang lebih sering bekomunikasi melalui media sosial daripada berbicara langsung dengan orang lain. Di tempat-tempat nongkrong seperti kafe atau restoran, banyak pemandangan orang lebih sibuk berbicara di media sosialnya dibandingkan dengan yang di hadapannya.

Setiap postingan yang ada di media sosial, akan membawa seseorang untuk berkomentar. Di situlah letak keseruan bermain media sosial. Semua orang bebas memberi komentar apa pun, sesuai apa yang mereka pikirkan. Setiap orang pasti memiliki opini mereka masing-masing, mulai dari hal-hal kecil sampai ke hal-hal besar yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan. Sebagai makhluk sosial, manusia akan mencari orang yang memiliki pendapat dengannya untuk mendukung komentarnya.

Kita sering melihat suatu postingan di Instagram yang memiliki ribuan komentar, atau mungkin komentar-komentar warganet terhadap suatu topik tertentu di platform media sosial lain. Sadarkah kita bahwa komentar-komentar kita bisa saja dibaca oleh siapa saja dan dapat mempengaruhi orang lain? Terutama jika komentar itu berisi hal yang negatif, sekecil apa pun permasalahannya itu.

Terkadang, terjadi perdebatan di kolom komentar yang mengundang kontroversi. Contohnya seperti di kolom komentar pada artikel-artikel berita, terutama di artikel politik. Masyarakat akan terus menyuarakan pendapat mereka apabila mereka tidak menyukai suatu tindakan atau kebijakan pemerintah. Mulai dari cara yang halus, hingga menggunakan kata-kata kasar.

Memberikan komentar tentu hal yang baik, tetapi tetap harus ada aturan yang perlu diperhatikan. Kenapa? Karena, efek dari berkomentar sangatlah kuat, terutama komentar dalam postingan individu. Kebebasan berpendapat sendiri memang ada hukumnya. Pasal 28 E ayat 3 UUD 1945 menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat. Sebagai manusia yang memiliki hati nurani, ada baiknya kita dapat memberikan pendapat, kritik, dan saran yang membangun, bukannya dengan menyampaikan komentar-komentar atau pendapat yang penuh kebencian dan kata-kata tidak pantas.

Apalagi saat ini sudah didukung dengan adanya Undang-undan No.11 tahun 2008 mengenai Internet dan Transaksi Elektronik, di mana mengatur banyak hal tentang etika dan tata cara menggunakan Internet dengan baik, seperti misalnya tentang postingan yang mengandung unsur pornografi, SARA, berita hoax, plagiarisme, stalking, dan lain-lain.

Seperti yang pernah ramai di media sosial kala itu. Kasus meninggalnya seorang artis Korea Selatan, Kim Jonghyun, yang menjadi bahan ejekan sebagian warganet Indonesia. Ketika para fans sedang berkabung, ada beberapa orang yang mengejek kematian sang idola sebagai bahan gurauan, dengan mengatakan, “Untuk apa menangisi satu plastik yang bunuh diri? Dia sudah pasti masuk neraka.” Bahkan beberapa komentar mengaitkannya dengan perang di Palestina, yang mana tidak ada kaitannya sama sekali.

Ucapan-ucapan seperti itu menuai kritik dari berbagai kalangan, bahkan bukan hanya dari para fans Jonghyun. Hal ini tentu sangat tidak pantas dan tidak etis, kematian seseorang bukanlah hal yang pantas untuk dijadikan bahan lelucon.

Apabila tidak suka dengan sesuatu yang beredar di internet, ada fitur yang dapat digunakan untuk tidak melihatnya lagi, yaitu block. Jika tidak setuju dengan suatu pendapat, katakan dengan jelas dan berikan poin-poin pendukung tanpa menggunakan kata-kata tidak pantas. Hindari menggunakan kalimat yang menyindir karena dapat menimbulkan tafsiran ganda, selain itu tulisan juga dapat dibaca siapa pun, sehingga orang lain dapat merasa tersinggung.

Yang harus diketahui warganet jika ingin mem-posting komentar adalah, apakah komentar ini memang perlu dan pantas untuk diutarakan di publik? Ini jelas penting bagi kedua belah pihak agar tidak terjadi kesalahpahaman. Karena seringkali, pelaku yang tidak paham etika komunikasi dunia maya akan menyerang opini kita secara membabi-buta, seolah dia merasa benar.

Jangan hanya karena berbeda genre, harus merusak moral kemanusiaan dengan kata-kata tidak pantas. Padahal, hal seperti itu dapat dihindari dengan cukup mudah. Asal kita mau membuka pikiran akan pendapat orang lain dan mempertimbangkan dengan matang efek dari tulisan kita, media sosial akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk saling berbagi, bukan untuk mencari sensasi. Semakin buruk ucapan Anda, maka akan semakin rendah Anda di pandangan orang lain

Perlu disadari bahwa kita harus bertanggung jawab atas segala tindakan kita. Baik secara lisan maupun tertulis. Komentar negatif yang mungkin hanya terdiri dari beberapa kata singkat dan terlihat sepele, masih dapat mempengaruhi pikiran seseorang. Bahkan, tidak sedikit orang yang mengalami depresi karena komentar negatif yang mereka baca. Selain itu, cobalah untuk melihat dari perspektif lain, tempatkan diri pada posisi orang yang menerima komentar negatif.

Mari menjadi pribadi yang lebih sopan dan santun dalam berkomunikasi di media sosial. Tidak adanya batasan dalam berkomunikasi seharusnya tidak pula menjadikan kita manusia yang tidak memiliki etika berkomunikasi yang baik. Justru, dengan ketiadaan batasan yang jelas terkait kesopansantunan ini, kita harus mawas diri dalam mem-posting  sesuatu ataupun berkomentar di media sosial.

 
Nurimah Kurniasih
Politeknik Negeri Jakarta


Sumber gambar:  BatamRaya.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Jarimu, Harimaumu! Rating: 5 Reviewed By: mindis.id