Latest News
Monday, December 4, 2017

Ketika Duta Bukan Panutan

Baca Juga

panutan


Aneh, ketika seseorang berbuat kesalahan, bukan mendapatkan hukuman atau sanksi sosial, tetapi justru dijadikan sebagai tokoh panutan.

Kembali lagi menjadi sebuah perbincangan hangat di Indonesia, fenomena selebriti menjadi duta. Mengingat selebriti adalah seorang tokoh publik yang sudah dikenal oleh masyarakat, pantas saja jika selebritas dijadikan duta karena tanpa disadari akan menaikkan “nama” atau branding dari kegiatan atau organisasi yang diwakilkannya. Namun, apa jadinya jika sang selebritilah yang melakukan kesalahan? Lalu, bukannya mendapat hukuman justru didapuk sebagai duta.

Duta adalah panutan, duta adalah gambaran terbaik dari suatu kegiatan atau organisasi yang bisa dijadikan contoh oleh khalayak. Duta mempunyai tanggung jawab untuk mengamalkan apa yang sudah diberikan kepadanya.

Berawal dari bermain kuis di program Dahsyat RCTI, ketika itu Zaskia Gotik ditanya "Apa lambang Pancasila sila kelima?" , dan ia menjawab "Bebek Nungging". Hal ini menjadi viral karena dianggap sebagai kasus penghinaan terhadap sila di pancasila. Alih-alih mendapatkan hukuman atau teguran,  ia justru mendapatkan gelar sebagai “Duta Pancasila” yang diberikan oleh fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ada kasus lain yang datang dari Nadine Chandrawinata, kecintaannya terhadap alam dan lingkungan pantas menjadikannya sebagai Duta Hak Asasi Manusia Bidang Lingkungan. Akan tetapi, tiba-tiba saja Nadine menerima endorse dari proyek Meikarta yang diketahui banyak melanggar pasal hukum dan tengah menjadi kontroversi. Warganet yang melihat pun mengatakan bahwa Nadine kurang konsisten terhadap gelar yang disandangnya dan mudah tergiur terhadap bayaran yang besar.

Kasus yang sedang menjadi perbincangan hangat, Dewi Persik kembali mendapatkan komentar buruk dari warganet. Dewi Persik tertangkap kamera sedang adu argumen dengan petugas pintu busway karena mobilnya masuk jalur Transjakarta di kawasan Pejaten Village, Jakarta Selatan. Namun, sama seperti beberapa kasus sebelumnya, bukan diberikan sanksi atau ikut mempermasalahkan, Sandiaga Salahuddin Uno, Wakil Gubernur DKI Jakarta justru berniat ingin menjadikan Dewi sebagai Duta Lalu Lintas.

Selain selebriti, ada juga kasus orang yang melanggar aturan tetapi malah dijadikan duta. Kasus yang menjadi viral ialah foto yang diunggah oleh salah satu dari lima pendaki gunung yang menjadikan bunga edelweis sebagai properti di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Akibat unggahan ini, mereka dihujat oleh warganet. Tanpa disangka, bukannya diberikan denda atau sanksi sosial, kelima pendaki gunung tersebut justru diangkat sebagai Duta Pelestarian Edelweis oleh pihak pengelola Gunung Rinjani.

Pengangkatan seseorang menjadi duta karena melakukan suatu kesalahan sebenarnya kurang tepat dilakukan. Seorang duta seharusnya mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengamalkan apa yang dibebankan kepadanya dan memahami betul gelar yang disandangnya. Bukan justru orang yang pernah berbuat salah, melanggar, atau bahkan sampai mengejek.

Jika dilihat dari segi kasus pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa selebriti, banyak yang mengatakan bahwa mereka memang pantas dijadikan sebagai duta. Dilihat dari segi public figure yang dapat menjadi contoh di masyarakat. Harapannya ialah semua kata yang keluar dari mulut selebriti dapat cepat diterima oleh masyarakat karena mereka mempunyai dampak yang besar.

Ada yang berpendapat juga bahwa hukuman menjadi duta seperti ini ialah hal yang wajar, karena tidak semua kesalahan harus berakhir di penjara. Peran duta pun akan membuat orang belajar dan memperdalam gelar yang ia sandang.

Orang-orang yang melanggar memang harus diberikan tanggung jawab dan kesempatan untuk belajar dan memperdalam hal yang ia langgar, juga gelar yang ia sandang. Tapi, dijadikan duta bukan suatu penyelesaian yang baik. Justru, dengan dilakukannya hal seperti ini, tidak membuat efek jera.

Jika dilihat kembali dari segi hukum, bisa dilihat adanya ketidakadilan sosial dari hukum yang berlaku. Orang yang salah jika sesuai dengan hukum, seharusnya diberi sanksi, ganti rugi, bahkan bisa dimasukkan ke penjara. Masih banyak orang-orang yang pantas diberikan gelar sebagai duta, karena prestasi mereka dan pengetahuan mereka yang mendalam terhadap suatu hal.

Masyarakat dapat beranggapan bahwa hukum di Indonesia ini sudah tidak berjalan sesuai dengan keadilan. Dari berbagai kasus pengangkatan duta dari tokoh-tokoh yang melanggar aturan ini, sudah terlihat jelas bagaimana ketidakadilan hukum. Ke depannya, akan berdampak pada masyarakat yang tidak patuh terhadap hukum yang ada. Mereka merasa bahwa hukumnya tidak adil sehingga mereka akan melakukan pelanggaran yang bisa juga serupa.

Harapan untuk ke depannya, pengangkatan duta akan lebih baik jika dilihat dari orang-orang yang memang pantas dan berprestasi, bukan orang yang pernah melanggar aturan. Karena orang yang berprestasi dan paham akan suatu hal lebih pantas untuk dijadikan panutan.


Syifa Hoirunnisa
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: sales-initiative.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ketika Duta Bukan Panutan Rating: 5 Reviewed By: mindis.id