mindis.id
Latest News
Monday, December 4, 2017

Kekerasan di Sekolah yang Tak Ada Habisnya

Baca Juga

kekerasan di sekolah


Saat ini menjadi masa yang cukup memprihatinkan bagi guru. Banyak cerita buruk telah mencoreng citra dari profesi guru, seperti perilaku kekerasan yang viral di media, tindak ketidakjujuran, inkompetensi profesional dan pedagogis, serta kesejahteraan hidup para guru. Banyak orang tua murid melaporkan guru atas dugaan kekerasan guru terhadap siswa dengan dalih sebagai wujud pendisiplinan.

Kekerasan dalam wujud verbal, misalnya memaki, mencemooh, dan menghujat siswa, adalah wujud kekerasan psikologis yang memiliki dampak pada perkembangan kejiwaan anak. Apalagi kekerasan fisik, sekalipun tanpa melukai. Itu adalah bentuk pencederaan atas hakikat pendidikan. Ki Hajar Dewantara (1957) mengatakan bahwa mendidik murid harus mengedepankan bahasa cinta kasih dan keteladanan. Mendidik siswa adalah bagian membangun mental kebaikan dalam dinamika kebudayaan.

Baru-baru ini juga ada beberapa kisah yang viral di media, salah satunya karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), Muhammad Haril, siswa SD Negeri 04 Gunung Kijang, Desa Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, dipukul gurunya di bagian paha hingga membiru. Orang tuanya pun langsung melaporkan perlakuan oknum guru itu kepada pihak sekolah.

Selain tindak kekerasan guru pada siswa, ternyata ada juga kasus tindak kekerasan orang tua siswa terhadap siswa. Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan beredarnya video kekerasan di ruang kelas berdurasi 37 detik. Dalam video itu terlihat seseorang diduga guru memukul dua siswa secara bergantian di ruangan kelas. Setelah ditelusuri, rupanya pelaku ada salah satu orang tua siswa.

Dan yang lebih mengenaskannya lagi, ketika terjadi kekerasan antarsiswa seperti yang terjadi di Bogor. Hilarius Christian Event Raharjo harus menghembuskan napas terakhirnya karena dipaksa berduel oleh para seniornya. Kegiatan ini dikenal sebagai gladiator. Hilarius dan seniornya dipaksa untuk saling berkelahi hingga salah satunya KO.

Motif dari gladiator ini hanyalah untuk mendapat pengakuan dari pihak lawan dan telah menjadi budaya selama empat tahun. Sangat disayangkan.

Berdasarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), penanganan kasus kekerasan di sekolah mencapai angka 34% dari total kasus yang diterima terhitung sejak pertengahan Juli hingga awal November 2017. Adapun wilayah kejadian meliputi DKI Jakarta, Sukabumi, Indramayu, Bekasi, Bangka Belitung, Kota Medan, Padangsidempuan, Muaro Jambi, Lombok Barat, Aceh dan lain-lain

Berbagai kasus kekerasan yang terjadi di sekolah membuktikan, sekolah tidak lagi jadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk menuntut ilmu. Kasus perundungan di sekolah tidak dapat diselesaikan dari satu sektoral saja. Namun, banyak pihak yang harus turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tak hanya guru, orang tua, dan siswa juga harus diberi pendidikan untuk menjauhi tindakan perundungan dan disadarkan bahayanya perundungan bagi perkembangan kejiwaan anak.

Pendidikan adalah ekspresi kebudayaan yang mengandung etik moralitas yang luhur. Pendidikan jelas tidak ada yang berkaitan dengan kekerasan. Kekerasan bukan instrumen mencerdaskan anak didik. Kekerasan dalam bahasa psikososial merupakan wujud ketidakmatangan standar emotional quality (EQ) dan spirituality quality (SQ) seorang pendidik.

Tidak ada contoh praktik terbaik di negara-negara yang memiliki kualitas pendidikan bagus dan terbaik di dunia bahwa metode pendisiplinan dengan kekerasan akan melahirkan kualitas siswa yang cerdas dan bermental bijak. Di Finlandia yang sistem pendidikannya terbaik di dunia, kekerasan dalam dunia pendidikan sangat dilarang atau diharamkan.

Orang tua dan guru harus memiliki kepekaan terhadap perubahan sikap anak yang tak seperti biasanya. Kepekaan ini penting agar dapat segera menangani pengalaman kekerasan yang menimpa anak. Jangan sampai anak-anak merasa tak memiliki orang dewasa untuk mengadu.

Guru perlu melakukan refleksi atas kritik masyarakat yang semakin nyaring terdengar saat ini. Sesungguhnya guru telah mendapat perlindungan hukum atas profesinya. Guru tidak menjadi sapi perah politik seperti saat era Orde Baru. Guru juga tidak mendapat intimidasi terkait dengan kegiatan belajar mengajar. Guru tidak mendapat pula ancaman kekerasan terkait dengan tugas pokok dan fungsi sebagai pendidik.

Jangan melakukan kekerasan di sekolah dengan alasan apa pun. Kekerasan hanya akan melahirkan budaya kekerasan. Kekerasan akan menanamkan ketakutan psikologis yang justru jauh dari visi pendidikan yang hakiki.


Nurimah Kurniasih
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: pedagogikritis.blogspot.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kekerasan di Sekolah yang Tak Ada Habisnya Rating: 5 Reviewed By: mindis.id