Latest News
Monday, November 27, 2017

Ketar - Ketir Pembuat Satire "Setya Novanto"

Baca Juga



MINDIS.ID - Belakangan, betebaran meme mengenai salah satu tokoh politik yang sekarang tengah ditahan KPK, Setya Novanto. Banyak meme yang menggambarkan Novanto yang kebal hukum lewat gaya bahasa parodi, tak lama setelah ia memenangkan sidang praperadilan. 

Kehebohan mencuat bukan karena meme-nya, namun karena Novanto dan pihaknya memperkarakan meme-meme yang diduga mencemarkan nama baiknya. Mengutip Republika.co.id, Kuasa Hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi, melaporkan sejumlah akun media sosial. Akun yang dilaporkan itu memuat meme yang dinilainya menyebabkan citra buruk bagi kliennya itu.

Tidak berakhir disitu, tak lama setelah Novanto lolos dari jerat hukum, ia kembali terkena musibah, yaitu mobil yang dikendarainya menabrak tiang listrik di bilangan Permata Hijau. Kejadian itu sontak membuat warganet seolah lupa akan meme-meme yang pernah diperkarakan. Mereka kembali membuat lelucon sindiran yang berkaitan dengan tiang listrik. Beberapa tagar bahkan sempat menjadi trending topic Indonesia di twitland, salah satunya tagar #SaveTiangListrik yang menjadi trending teratas beberapa jam setelah kecelakaan.

Fredrich Yunadi selaku kuasa hukum Novanto, menurut Kompas.com, kembali reaktif menanggapi meme-meme terkait kecelakaan itu. Pihaknya bahkan dikatakan akan melaporkan kembali para pembuat meme. Ia mengatakan, saat ini anak buahnya tengah memilah akun-akun media sosial mana saja yang akan dilaporkan.

Apakah langkah lanjutan ini akan membuat para kreator ketar-ketir dan lebih berhati-hati dalam membuat konten terkait isu apapun?

Dihakimi Kreatifitas

Warganet nampaknya puas dibuat tertawa oleh para pembuat meme yang kritis isu. Namun, setelah kreatifitas mereka diperkarakan, suasananya berbeda. Entah karena tawa mereda atau karena semakin mengundang gelak tawa. Pelaporan itu rasanya menggelitik. Tak semua setuju, khususnya yang menikmati itu sebagai satire dan bukan penghinaan.

Karena apa yang disampaikan pada meme yang awal-awal beredar masih pada batasnya. Hal yang disampaikan hanyalah pengungkapan fakta-fakta hiperbolik dalam parodi situasi. Setidaknya, sindiran semacam ini lebih bisa diterima daripada komentar orang-orang yang berkata-kata kasar untuk menyalahkan pihak tertuduh.

Yang perlu dicatat, di luar meme tersebut, telah terbentuk pemikiran dari warganet terhadap posisi Novanto. Gambaran bahwa Novanto adalah sosok di balik skandal korupsi megaproyek KTP-el telah telanjur tertanam, meski pengadilan saat itu belum memutuskan.

Penghakiman seperti ini membuat bentuk sindiran apapun seolah layak ditertawakan. Kasusnya kurang lebih sama saat masyarakat menanamkan gambaran bahwa Jessica adalah satu-satunya sosok di balik kematian Mirna.

Popularitas tiang listrik yang melejit buat saya cukup disayangkan. Bukannya berempati pada musibah yang terjadi, banyak dari warganet yang malah membela objek kecelakaannya. Tiang listrik mendapat empati cukup besar dari warganet. Biar bagaimana pun, parah atau tidak, kecelakaan tetap kecelakaan.

Agaknya, sikap masyarakat dalam peristiwa kecelakaan ini agak berlebihan ketimbang pada peristiwa pra-peradilan. Meme yang ditemukan saat pra-peradilan secara tidak langsung menunjukkan “kesaktian” Novanto yang lolos hukum setelah ditetapkan tersangka oleh KPK. Sindiran itu didasarkan fakta bahwa: Setya Novanto lolos hukum.

Berbeda pada meme yang ditemukan saat peristiwa kecelakaan, lebih banyak terdapat sindiran secara langsung, yang malah menunjukkan “kekecewaan” atas peristiwa tersebut. Juga beberapa tudingan yang mempertanyakan peristiwa tersebut, seperti mengapa airbag mobil tidak mengembang, jika itu memang kecelakaan fatal yang menyebabkan luka di kepala. Bahkan beberapa orang menuduh peristiwa tersebut bukanlah kecelakan melainkan adegan drama belaka.

Suara Berdasar Fakta

Seperti yang sudah dikatakan Henri sebelumnya, bahwa satire sewajarnya tidak mengandung tudingan. Satire bisa saja mengandung fakta yang dilebih-lebihkan. Sumber lain mengatakan, satire juga tidak boleh mengandung labelling, atau pemberian sebutan (label) tertentu terkait kondisi seseorang.

Karena peristiwa ini, sebagai kreator perlu bersikap lebih wawas diri. Bagaimana cara mereka menyikapi permasalahan agar tidak menyinggung pihak tertentu, perlu dipertimbangkan. Sulit memang. Kebebasan berekspresi dan hak mengemukakan pendapat, terkadang dibatasi oleh hak orang lain juga. Sebab, perlu digaris bawahi bahwa kebebasan bukan berarti bebas tanpa aturan, tapi harus dalam koridor yang benar dan taat aturan. 

Dengan perkembangan teknologi, yang membuat segalanya lebih mudah, misalnya dalam membuat satire ataupun menyebarkan informasi, masyarakat seharusnya bisa lebih bijak. Bagi si kreator, penting untuk membuat konten yang bermanfaat dan bukan untuk permusuhan, pencemaran nama baik apalagi ujaran kebencian. Dilain pihak, si penerima informasi, sebaiknya lebih bijak dalam menyebarkan mana konten. Penting untuk menyaring mana konten yang boleh disebar mana yang tidak. 

Putu Raditya 
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta 


Sumber Gambar : Tribunnews.com 
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ketar - Ketir Pembuat Satire "Setya Novanto" Rating: 5 Reviewed By: mindis.id