mindis.id
Latest News
Tuesday, August 15, 2017

Post-Truth: Ketika Opini Lebih Sakti dari Bukti

Baca Juga

post-truth

Beberapa bulan lalu, saya terkejut ketika salah seorang murid saya protes karena jawaban yang dipilihnya salah. “Pak, bukannya jawabannya C? Kok malah B? Pilihan C kan yang paling panjang teksnya. Harusnya itu jawabannya”. Kira-kira begitu katanya. Protes ini jelas membuat saya mengernyitkan dahi. Apalagi, dasar murid tersebut meyakini jawabannya benar, hanya karena jawaban yang dipilihnya itu memiliki teks paling panjang.
Usut punya usut, akhirnya saya tahu bahwa murid saya itu mendapat “ilmu” singkat menjawab soal Bahasa Indonesia dari internet. Keingintahuannya membuatnya berselancar membabi buta di mesin pencari dengan mengetikkan kata kunci tertentu. Hasilnya, dia mendapatkan cara bahwa pilihan terpanjang pada soal Bahasa Indonesia biasanya adalah jawaban yang benar. Logikanya, si pembuat soal tidak mungkin repot-repot menulis pilihan panjang jika itu bukan pilihan yang benar. Saya memang tidak menampik logika itu. Akan tetapi, penekanannya ada pada kata “biasanya”. Bisa saja si pembuat soal ingin menulis dengan cara yang tidak biasa.
Dari peristiwa di atas kita dapat melihat fenomena unik di mana seseorang mempercayai sesuatu berdasarkan pada keyakinan personalnya saja. Setelah mempelajari beberapa literatur, saya pun menemukan istilah yang dekat dengan fenomena ini: post-truth. Kamus Oxford mendefinisikan istilah tersebut sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Istilah post-truth menurut penjelasan Kamus Oxford digunakan pertama kali pada 1992. Istilah itu diungkapkan oleh Steve Tesich di majalah The Nation ketika merefleksikan kasus Perang Teluk dan kasus Iran yang terjadi di periode tersebut.
Istilah post-truth sendiri sebenarnya sudah dipakai sebelum 1992, namun dalam pengertian yang sedikit berbeda dan tidak berimplikasi pada makna kebenaran yang menjadi tidak relevan. Ralph Keyes dalam bukunya The Post-truth Era (2004) dan komedian Stephen Colber memopulerkan istilah yang berhubungan dengan post-truth, yaitu truthiness, yang kurang lebih, sebagai sesuatu yang seolah-olah benar meski tidak benar sama sekali.
Sepertinya, tidak bisa dipungkiri bahwa kita memang sedang berada dalam era post-truth. Selain ditandai dengan merebaknya berita hoax di media sosial, era post-truth juga ditandai dengan kebimbangan media dan jurnalisme, khususnya dalam menghadapi pernyataan-pernyataan bohong. Hal ini sempat terasa saat momen pilkada lalu. Bahkan, semakin sering media menyiarkan berita-berita bohong terkait salah satu calon, hal itu justru bisa membuat nama calon tersebut semakin populer.
Butuh langkah serius agar kita tidak terbawa arus post-truth. Terlebih, penggunaan media sosial yang semakin masif. Jika seseorang yang berpendidikan tinggi saja dapat terbawa arus post-truth, lalu bagaimana dengan adik-adik kita yang kini bahkan sudah akrab dengan media sosial pada usia sekolah dasar? Ini masalah serius, dan setiap masalah harus dicari penyelesaiannya. Namun pemblokiran berbagai media sosial bukanlah langkah yang sepenuhnya tepat. Jika kita takut terbawa arus sungai, maka kita harus belajar untuk berenang. Membendung arus sungai, hanya akan mendatangkan bah yang besar nantinya. 

Wallahu’alam.
Nicky Rosadi
Penulis Secangkir Teh, Bidadari Pemeluk Subuh, dan Bahasa Indonesia Masa Kini
Dosen Universitas Budi Luhur Jakarta
Editor Bahasa Koran Sindo
Sumber gambar: https://www.nytimes.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Post-Truth: Ketika Opini Lebih Sakti dari Bukti Rating: 5 Reviewed By: mindis.id