mindis.id
Latest News
Monday, May 15, 2017

Kisah Tan Malaka di Tanah Kapitalis

Baca Juga




Tan Malaka, seorang negarawan dan filsuf bangsa yang pernah dimiliki Indonesia. Sejarah hidupnya dan karya – karyanya patut untuk dipelajari sampai sekarang. Menurut penulis, ada 2 karya terbaiknya, MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika) dan GERPOLEK (Gerakan Politik Ekonomi). Dari dua karyanya ini tersirat bahwa paham Marxisme sangat melekat dalam pemikirannya. Ia menganggap bahwa penjajah adalah para kapitalis dan rakyat Indonesia adalah proletariat. Oleh karena itu, Revolusi proletariat adalah jalan paling realistis untuk mengusir para penjajah dari negeri Indonesia. 

Penulis berpendapat bahwa apa yang dipahami, diresapi, dan dituangkan Tan Malaka dalam karya –karyanya tak lepas dari perjalanan hidupnya. Setidaknya ada 2 tempat penting dimana Tan Malaka menyadari bahwa komunisme adalah ideologi terbaik untuk dianut bangsa Indonesia. 
Pertama adalah saat ia berada di Belanda. Tan Malaka ke negeri kincir angin tersebut dalam rangka memperoleh pendidikan. Ia disekolahkan oleh seorang mantan gurunya yang bisa disebut juga sahabatnya, Horensma. Horensma melihat bakat terpendam dalam diri Tan Malaka. Oleh karena itu ia merasa bahwa sayang jika Tan Malaka hanya bersekolah di Indonesia. 

Bukan waktu sebentar bagi Tan Malaka untuk belajar di Belanda, yaitu 7 tahun dan di dua kota berbeda. Pertama ia berada di Kota Harleem. Harleem bukanlah sebuah kota mewah. Banyak penduduk miskin disana. Ia merasakan betul betapa susahnya hidup di kota ini saat ia divonis mengidap penyakit Pleuritis. 

Setelah keadaannya membaik, ia pindah ke Bussum. Berbeda dengan Harleem, kota ini sangat mewah. Karena dibiayai oleh pihak Belanda, Tan Malaka di Bussum pun meroleh fasilitas yang sangatb baik. Namun ia tidak terlelap dalam gemerlap fasilitas ini. Ia justru mendapati bahwa terjadi gap yang begitu jauh antara Bussum dan Harleem. Tinggal di dua kota dengan karakteristik yang berbeda membuat ia menyadari bahwa terjadi ketidakadilan bagi para kaum miskin. Disinilah awal ia mulai mempelajari Marxisme sebagai sebuah ideologi terbaik. 

Setelah 6 tahun memperoleh pendidikan di Belanda, ia pun memutuskan untuk kembali ke kampung 
halaman. Sebenarnya, ia hanya memperoleh beasiswa untuk 2 tahun di Belanda. Namun karena penyakit pleuritis yang dideranya, membuat hutangnya cukup banyak. Oleh karena itu, sekembalinya ia ke tanah Minang, ia harus bekerja demi membayar hutang – hutangnya selama di Belanda. 

Memperoleh gelar sarjana pendidikan dari negeri Belanda membuatnya tidak sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Ia ditawari bekerja di kota Deli, Sumatera Utara sebagai tenaga pengajar untuk para buruh tambang yang mayortias adalah penduduk lokal. Tanpa pikir panjang, ia pun mengambil tawaran tersebut. 

Di kota Deli, paham Marxisme semakin melekat dalam jiwanya. Ia melihat bagaimana perlakuan para kapitalis asing terhadap kaum buruh (proletariat). Deli adalah tanah subur yang ditumbuhi komoditas Teh, Tembakau dan Kelapa Sawit. Selain itu, Deli juga memiliki kekayaan bumi seperti timah dan biji besi. Banyaknya kekayaan alam yang dimiliki oleh Deli membuat para pengusaha yang hampir seluruhnya adalah orang Belanda mendadak menjadi milarder. Dan siapa yang paling menderita? Tentu saja buruh yang semuanya adalah kaum pribumi. Wajar jika Tan Malaka menyebutnya sebagai “Surga kaum Kapitalis, dan Neraka kaum Proletariat”      

Para kaum buruh di upah sangat kecil dengan jam kerja yang sangat menyiksa. Dengan upah yang kecil ini tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari para buruh. Lalu kaum buruh ini diperbolehkan untung berhutang. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi sang buruh untuk tidak memperpanjang kontraknya. 
Tidak hanya itu saja, para tuan besar ini pun membuat meja judi. Para buruh yang diupah sangat kecil ini pun berusaha untuk meraih keberuntungan dari sana. Namun, sejatinya ini adalah strategi yang dilancarkan oleh para tuan besar. Para buruh tidak pernah menang, dan uang pun kembali mengalir ke kantong tuan besar. 

Dua tempat inilah yang membentuk pemikiran Tan Malaka bahwa revolusi proletariat yang digagas oleh Marx menjadi jalan terbaik untuk meraih kemerdekaan. Ia sangat terinspirasi dari perkataan Marx yaitu “Lonceng kematian hak pribadi kaum kapitalis telah berbunyi. Kini perampok mulai dirampok”   

Ahmad Hidayah 

Mahasiswa Magister Ilmu Politik UI    

Sumber : Buku “Catatan Tan Malaka dari Balik Penjara” karya Badrudin

Sumber gambar : http://www.panjimas.com/

  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kisah Tan Malaka di Tanah Kapitalis Rating: 5 Reviewed By: mindis.id