mindis.id
Latest News
Wednesday, May 10, 2017

Cap Buruk Untuk PKI

Baca Juga



“Lonceng kematian hak milik pribadi para kapitalis telah berbunyi. Kini perampok mulai dirampok”

Belakangan ini isu – isu kembalinya paham komunis mulai sering kembali dibicarakan. Paham yang dianggap biang kerok ini mencuat lantaran salah seorang putri Indonesia yang mengenakan baju berlambangkan palu arit. Ada pula para petani yang berdemo menolak pembangunan pabrik juga diaanggap komunis. Padahal, belum tentu mereka paham konsep komunisme seperti bayangan Karl Marx.  

Komunis dianggap sebagai sebuah paham yang buruk, kasar, anti-ketuhanan, serta selalu menimbulkan masalah. PKI dianggap dalang dari segala kerusuhan yang terjadi. Begitulah sejarah melabel paham komunisme hingga gini.

Penulis percaya betul ungkapan bahwa “sejarah ditulis oleh para pemenang” Andai saja Amerika Serikat dengan paham demokrasinya kalah pada perang dingin, akankah paham demokrasi bisa tumbuh subur seperti sekarang ini? Penulis pikir tidak. Lalu di Indonesia, presiden Soeharto dengan pasukan orde barunya berusaha membuat PKI sebagai dalang dari segala ketidakstabilan politik di Indonesia pada saat itu yang berujung pada SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret). 

Mari kita kembali ke sejarah. Perlu diingat bahwa perjuangan bangsa Indonesia bukan bermula dari kota – kota besar. Perjuangan bermula dari tingkat paling bawah, yaitu penduduk pribumi di desa – desa. Lalu siapa yang mampu menggandeng para kaum bawah ini? Jawabannya tentu PKI. PKI hadir dari desa – desa kecil. Kelas pekerja kecil seperti petani dan buruh. Lalu apa yang mereka dapat kini? Mereka hilang dari sejarah. Yang ada hanya catatan hitam para anggota PKI.   

Menurut analisis penulis, alasan pemberantasan PKI dan labeling buruk terhadapnya tak lepas dari anti-komunis yang dilancarkan oleh kelompok pendukung Soeharto. Soeharto butuh prestasi, oleh karena itu PKI dijadikan alasan untuk dapat menduduki kursi nomor satu pemerintahan melengserkan Soekarno yang disinyalir lekat dengan Uni Soviet. Bahkan, waktu itu dikenal dengan istilah MJK (Moscow, Jakarta, Peking) 

Selain itu, perlu dilihat pula situasi politik dunia pada saat itu. Dua negara adikuasa, Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba – lomba menanamkan ideologinya kepada negara – negara dunia ketiga (negara – negara yang merdeka setelah perang dunia ke dua). Jadi wajar saja jika isu ideologi menjadi isu paling hangat pada saat itu. 

Sebelum tragedi Supersemar, angkatan darat Indonesia banyak dibantu oleh angkatan perang Amerika. Mereka membantu Indonesia dalam penumpasan paham komunis demi memenangkan perang dunia kedua. Jadi wajar saja, demokrasi dan kapitalisme tumbuh subur setelah Soeharto menjadi presiden. Perlu dilihat situasi politik saat itu, Soeharto menjadi orang paling berprestasi di Indonesia, dan Soekarno dianggap gagal karena membawa Indonesia pada krisis ekonomi. Para elit politik pada saat ini berbondong – bondong meninggalkan Soekarno karena dianggap tidak bisa melihat perkembangan politik global. 

Yang dapat disimpulkan oleh penulis adalah paham komunisme yang dianggap jahat hari ini tidak terlepas dari isu politik dalam maupun luar negeri. Bahkan orang yang teriak anti-komunis hari ini tidak sepenuhnya paham konsep Komunisme seperti yang dicita – citakan Marx. Memang benar, demokrasi adalah paham yang terbaik diantara yang terburuk. Tapi perlu diingat, bukan berarti paham komunisme dan marxisme haram untuk dipelajari. Setidaknya paham ini sangat layak untuk dijadikan sebuah kajian ilmiah. 

Ahmad Hidayah   
Mahasiswa Magister Ilmu Politik UI 

Sumber gambar : https://www.hidayatullah.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Cap Buruk Untuk PKI Rating: 5 Reviewed By: mindis.id