Latest News
Saturday, May 20, 2017

Antara Kafir dan Radikal

Baca Juga



Pilkada rasa pilpres. Begitulah ungkapkan masyarakat terkait pilkada DKI Jakarta kemarin. Semua orang berbicara semaunya soal jagoan mana yang akan mereka dukung ataupun pilih. Walaupun sebenarnya, banyak pula pendukung para pasangan calon tidaklah ber-KTP DKI Jakarta. 

Saya akan sedikit bercerita. Tempo hari saya berjumpa dengan dua kawan lama saya. Awal pembicaraan masih seputar cerita – cerita tentang masa lampau, hingga akhirnya dimulailah perdebatan panas soal politik, tepatnya Pilkada DKI Jakarta. Untuk mempermudah penjelasan, saya akan menamain teman saya  dengan inisial A dan B. 

Teman saya A mengatakan bahwa B adalah kafir karena mendukung Ahok. Sebaliknya, teman saya B mengatakan bahwa A adalah orang –orang radikal yang tidak bisa tinggal di alam demokrasi yang dimana pluralisme sangat dijunjung tinggi. B juga mengatakan bahwa pemikiran radikal A adalah penjelasan mengapa paham radikal, pendirian negara islam, serta ISIS tumbuh sumbur di bumi Indonesia. 

Perdebatan ini pun berembet panjang. Tidak ada yang mau kalah satu sama lain dan merasa bahwa pendapatnya paling benar. Yang satu sibuk mengkafirkan orang, yang satunya lagi sibuk mengatakan radikal dan benih – benih perpecahan. 

Setidaknya, menurut hemat saya kedua teman saya ini mencerminkan masyarakat Jakarta saat ini. Masyarakat Jakarta terbagi atas dua kelompok, yaitu kelompok radikal atau kelompok yang senang melabeli orang lain dengan istilah “kafir” dan kelompok kafir yang sering dianggap kelompok – kelompok pluralisme. 

Menurut analisis saya, sebenarnya ada poin – poin plus dan minus yang bisa dilihat dari fenomena ini. Poin plusnya adalah perbincangan soal agama menjadi isu yang menarik untuk dibahas. Bahkan, kelompok – kelompok islam mulai tidak malu – malu lagi berbicara soal perbaikan akidah dan moral bangsa yang sudah sangat menyimpang dari ajaran – ajaran islam. 

Namun ada pula sisi buruknya. Naiknya isu – isu agama membuat kelompok – kelompok islam radikal mulai tidak malu – malu lagi untuk tampil. Mereka kini dengan gamblang mengutarakan bahwa pancasila dan demokrasi sudah tidak relevan lagi dan menuntuk berdirinya negara islam yang berlandaskan hukum syariah. Hal inilah yang menjadi cikal bakal perpecahan bangsa yang berujung pada perang seperti apa yang terjadi di suriah. 

Oleh karena itu, penting sekali untuk menjaga toleransi umat beragama. Jangan cepat menjastifikasi orang lain sebagai kafir. Dan jangan pula menolak dalam pembahasan yang berbau agama. Biarkan aroma segala perdebatan ini mengalir di alam yang sehat, bukan untuk memusuhi atau menghujat yang berbeda pandangan. Justru inilah poin penting dalam alam demokrasi. 

Ahmad Hidayah 
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia 

Sumber foto : Merdeka.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Antara Kafir dan Radikal Rating: 5 Reviewed By: mindis.id