mindis.id
Latest News
Monday, January 23, 2017

Review Film: Assassin's Creed

Baca Juga




Genre: Action dan Thriller

Rilis: 2016

Pemain: 
Jeremy Irons sebagai Alan Rikkin
Marion Cotillard sebagai Dr. Sophia Rikkin

Sinopsis

Film ini berfokus pada seorang anak bernama Callum Lynch di era modern yang digambarkan memiliki minat di dunia olahraga ekstrim. Namun ketika pulang, ia menemukan ibunya telah tewas, sementara ayahnya yang ada di rumahnya, ternyata merupakan seorang Assassin. Callum lalu kabur menghindari orang-orang yang mengincar ayahnya.

Alur cerita Assassin's Creed lalu bergerak maju secara drastis, 30 tahun kemudian. Tanpa mengetahui bagaimana perjalanan hidup Callum Lynch setelah itu, tiba-tiba saja ia hendak disuntik mati dalam sebuah penjara. Barulah kemudian film ini menonjolkan elemen paling penting dalam ceritanya yang diadaptasi dari game, Animus Project.

Di sepanjang film, kita akan melihat Callum Lynch mendapat panduan dari Dr. Sophia Rikkin (Marion Cotillard) dan ayahnya, Alan Rikkin (Jeremy Irons) dalam menjalani Animus Project demi bisa menemukan lokasi Apple of Eden. Benda tersebut diyakini bisa menundukkan umat manusia dan menghapus korupsi di muka bumi. Aksi Callum Lynch saat memasuki memori nenek moyanynya, Aguilar. 

Review

Aksi Callum selama berada di Animus Project, diperlihatkan secara spesifik dalam film ini. Adegan-adegan tersebut menjadi keunggulan utama Assassin's Creed. Bahkan, kita juga akan melihat para Assassin melakukan parkour di bangunan-bangunan kuno abad 15.

Selain itu, panorama peperangan di beberapa momen juga cukup memanjakan mata. Setiap kali Callum kembali merasuki nenek moyangnya, kita disambut oleh penampakan burung elang. Dalam game asli, burung tersebut memegang peranan penting dalam melakukan gerakan Leaps of Faith. Namun di film ini, elang hanya muncul sebagai penghias.

Akting Michael Fassbender dan Marion Cotillard dalam film ini boleh dipuji. Terlebih lagi, Michael Fassbender sangat total dalam memperagakan beberapa gerakan bela dirinya. Jeremy Irons yang menjadi bos besar Abstergo Industries, memainkan peranannya dengan cukup baik.

Beberapa adegan kekerasan dan juga konsep gelap di dalamnya, barangkali akan terlihat keren di mata para pecinta game aslinya. Kalau ada yang mengatakan film ini sebagai salah satu adaptasi video game terbaik, rasanya tidak perlu dipermasalahkan.

Kepiawaian sutradara Justin Kurzel dengan film-film sebelumnya seperti Macbeth dan Snowtown, tampaknya tidak tertuang dalam Assassin's Creed. Meskipun dibesut oleh banyak perusahaan termasuk developer game aslinya, Ubisoft Entertainment, film yang didistribusikan oleh 20th Century Fox ini tetap memiliki banyak cacat dan kelemahan.

Sejak awal film saja, kita sudah disuguhi oleh adegan yang menimbulkan pertanyaan. Misalnya mengapa Aguilar dan para Assassin harus memotong jarinya saat bersumpah? Lalu mengapa Callum bisa dicap sebagai kriminal setelah masa kecilnya hancur? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak dijawab secara lugas hingga akhir film.

Sebetulnya, motivasi para anggota Orde Templar dalam mencari Apple of Eden cukup sederhana. Namun karena saking banyaknya intrik, konflik dalam film ini jadi terasa ganjil hingga akhir film.
Banyak juga konflik dalam film ini yang didasari atas alasan yang lemah, seolah mengesampingkan sebab dan akibat yang sangat penting bagi sebuah film. Alhasil, Assassin's Creed sukses memusingkan beberapa penonton yang lebih suka film-film dengan alur cerita beserta poin yang tak terlalu ruwet.

Nilai : 7,5 dari 10

Annisa Fadhilah
Mahasiswi Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta

  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Review Film: Assassin's Creed Rating: 5 Reviewed By: mindis.id