mindis.id
Latest News
Monday, January 16, 2017

Menulis karena “Passion” atau “Latah”?

Baca Juga

menjadi penulis

Sejak beberapa tahun terakhir, kemunculan beberapa komunitas menulis online di media sosial mulai menjamur. Setidaknya, komunitas ini bisa dikatakan cukup produktif dalam menemukan bibit penulis baru. Maka tak heran jika tujuan akhir dari komunitas ini adalah menemukan penulis-penulis baru walaupun untuk novel terbitan indie atau elektornik. 

Namun, seiring perjalanan komunitas menulis di media sosial, pihak penerbit buku atau novel mencari penulis baru dari beragam media sosial seperti blog, Twitter, Ask.fm, atau Wattpad. Biasanya dilihat dari kualitas tulisan atau jumlah pengikut yang banyak. Tak jarang, pembelinya tentu mereka yang sudah menjadi penggemar tetap “seleb medsos” ini.  

Akan tetapi, bisakah kita memilah, menulis itu tren atau memang sebuah passion? Katakanlah, penulis-penulis yang namanya sudah membumi hari ini seperti Dewi Dee Lestari, Windri Rahmadina, Ika Natassa, dan sederet penulis lainnya, memulai karier menulis mereka dari nol. Beragam penolakan dari penerbit hingga berusaha menjaga produktivitas menulis agar karyanya dikenal oleh masyarakat. 

Lalu bagaimana dengan mereka yang tiba-tiba saja bisa menghasilkan sebuah buku hanya karena terkenal dan buku berisi sepeti curhatan atau beberapa pengalaman hidupnya? Tidak, kita tidak mengatakan kalau karya tersebut tidak bermanfaat dan sebagainya, hanya saja, mungkin, sekarang memang eranya penulis bermunculan karena jumlah pengikut di media sosialnya. Banyak yang mengira, menjadi penulis masalah “sim salabim” saja, lalu lahirlah sebuah karya. 

Tidak ada yang salah mengenai kelahiran penulis baru ini, tentunya pembaca yang bijak juga bisa memilah mana karya yang lahir karena passion yang terus dilatih atau karena “latah” dan ikut-ikutan melahirkan sebuah karya. 


*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: tekooo.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Menulis karena “Passion” atau “Latah”? Rating: 5 Reviewed By: mindis.id