mindis.id
Latest News
Monday, January 9, 2017

Kumunculan LGBT di Tengah Paham Gender Kaku

Baca Juga



Mengenai LGBT Indonesia mengantarkan kita pada ingatan dan sejarah bagaimana Indonesia terang-terangan menunjukkan taring intoleransi dan keganasannya pada kelompok yang bahkan lebih dibenci dibandingkan Yahudi dan hanya satu tingkat di bawah ISIS yaitu lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT.

Sulit untuk benar-benar memahami bagaimana institusi negara yang seharusnya melindungi warganya justru terang-terangan mengajukan penolakan dan ancaman kepada sesuatu yang bahkan mereka tidak pahami, dengan berlandaskan kebencian buta kepada LGBT.

Kekerasan dan diskriminasi terhadap LGBT terjadi di setiap individu LGBT. Bahkan yang tidak melakukan apa pun yang dituduhkan menularkan dan mengajak.  Pada kelompok LGBT, ketimpangan ini adalah peluru yang harus ditelan setiap hari. Peluru seperti pelanggaran hak dan kemanusiaan yang menyerang LGBT tersebut pula yang setiap hari dirayakan oleh media dan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab.

Di masa lalu, konsep laki-laki dan perempuan amat sederhana dan terkesan kaku. Laki-laki harus berburu makanan dan perempuan membesarkan anak. Sekarang, tidak ada garis yang jelas dan kaku untuk memisahkan keduanya.

Majalah National Geographic mendedikasikan satu edisi khusus Januari 2017 dengan judul besar “Gender Revolution” yang berbicara mengenai pergeseran lanskap tentang gender. Hal yang paling menarik adalah bukan hanya bagaimana perkembangan sains membantu menjelaskan pergeseran lanskap dan pembebasan gender dari kutub laki-laki dan perempuan tetapi juga memaparkan bahwa bahkan anak pada usia 9 tahun sudah mampu memahami bagaimana peran gender membentuk dirinya dalam perkembangan identitasnya.

Salah satu studi yang dilakukan oleh Fusion’s Massive Millenial Poll menunjukkan sesuatu yang menarik tentang cara generasi milenial melihat gender. Polling tersebut menunjukkan bahwa setengah dari mereka berpikir bahwa gender adalah spektrum dan beberapa orang berada di luar kategori gender kaku.

Hal ini memungkinkan kemunculan ruang-ruang berekspresi yang lebih luas dan berupaya keluar dari kotak-kotak kaku gender yang selama ini dipahami. Oleh karena itu, kita menemukan banyak ekspresi gender yang berbeda ditampilkan di laman media sosial, baik sebagai ekspresi maupun bentuk identitas diri yang fleksibel tak terikat gender kaku.

Contoh saja selebgram seperti Jovi Adhiguna (@joviadhiguna), Millendaru Prakasa (@millencyrus), Aaron Daffa (@aarondaffaa), yang memilih untuk mengekspresikan diri dengan tampilan feminim dan maskulin sekaligus, terlepas dari identitas gender dan orientasi seksualnya masing-masing atau pasangan Evelyn dan Aming yang mampu menunjukkan bagaimana gender dan seksualitas bersifat cair dan dapat saling dipertukarkan.

Annisa Fadhilah
(Mahasiswi Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta)

  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kumunculan LGBT di Tengah Paham Gender Kaku Rating: 5 Reviewed By: mindis.id