Latest News
Tuesday, January 17, 2017

Kekerasan dan Penganiayaan Kali Kedua

Baca Juga

kekerasan dan penganiayaan

Sebuah tugu memorial yang berada di halaman kecil kampus STIP Jakarta bertuliskan, “Hindari tindak kekerasan agar tidak terulanglagi peristiwa 12 Mei 2008 yang mengakibatkan Taruna Agung Bastian Gultom meninggal dunia”. Namun peringatan tetaplah sebuah slogan, kekerasan tetap terjadi melanda Amirullah yang tewas dianiaya seniornya sedangkan lima rekan lainnya menderita luka memar. 

Agaknya, nyawa memang tak pernah ada artinya dibanding senioritas dalam perguruan tinggi ini. Meski beberapa kasus telah menyeret nama baik tetapi ujung-ujungnya tetap sebuah nyawa menjadi korban. Aturan penempatan tingkat yang dipisahkan tetap menimbulkan celah-celah kecil bagi senior untuk mencari-cari kesalahan yuniornya. Mentang-mentang latihan fisik kuat, nyawa orang pun diadu dengan otot hasil kerja keras tersebut. 

Terjadinya kasus penganiayaan berujung maut ini kembali mencoret kredibilitas perguruan yang berada di bawah binaan Kementerian Perhubungan ini. Ironisnya, sebuah pesan bertuliskan, “Ingat! Sekolah ini akan ditutup jika terjadi kekerasan,” berada tak jauh dari lokasi penganiayaan yang menewaskan Amirullah Adityas Putra. 

Kejadian serupa ini tentunya menjadi tindak lanjut dan evaluasi bagi kita—terutama pihak perguruan tinggi dan Kementerian Perhubungan, terhadap kinerja serta pengawasan beberapa pihak. Sebab, beberapa kasus sebelumnya diberitakan dan cukup menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat terhadap perguruan tinggi ini. Meski STIP tak pernah kekurangan jumlah pelamar, tentunya kualitas dan hasil yang diinginkan harus sesuai dengan perlakuan yang didapatkan. Terulangnya kejadian penganiayaan hingga menyeret korban jiwa ini adalah bukti bahwa kasus-kasus sebelumnya tak juga memberikan efek jera bagi beberapa pihak terkait hingga harus kembali terulang. 

Pada akhirnya, yang harus tetap diusahakan adalah kinerja pengawasan dan penetapan standar peraturan terhadap seluruh taruna dan pihak-pihak penyokong di belakangnya. Kejadian ini adalah daftar hitam bagi sederet kasus penganiayaan yang dilakukan oleh anak muda “terdidik” terhadap sumpahnya sebagai seorang taruna. Semoga hanya Raisa yang ada "kali kedua", kasus ini jangan lagi. 


*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: solopos.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kekerasan dan Penganiayaan Kali Kedua Rating: 5 Reviewed By: mindis.id