mindis.id
Latest News
Sunday, January 29, 2017

Kampanye Tak Mempengaruhi Posisi Awal Pemilih

Baca Juga



Pada 1940-an, peneliti dari Universitas Columbia menyelenggarakan penelitian mengenai perilaku pemilih di Amerika. Mereka hendak mencari tahu apakah efek iklan kampanye terhadap preferensi pemilih. Belakangan, hasil penelitian tim dari Columbia University ini dikenal sebagai teori sosiologis tentang perilaku pemilih.

Disebut demikian, mereka menemukan bahwa ternyata pemilih pada dasarnya sudah memiliki posisi awal yang tidak berubah walaupun kampanye gencar dilakukan. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa keputusan memilih dibentuk faktor-faktor sosiologis dan loyalitas terhadap identitas sosial politik. Kesimpulan ini datang dari studi mereka yang dilakukan melalui dua survei berulang terhadap responden yang sama yang dipilih secara acak di dua counties (setingkat kabupaten dalam struktur administrasi di Indonesia), atau dikenal sebagai survei panel.

Survei pertama dilakukan di Erie Country di negara bagian Ohio, di tengah kampanya capres dan cawapres Roosevelt dan Wilkie 1940. Sementara survei kedua dilakukan di Elmira County di negara bagian New York, di tengah pertarungan pilpres antara Truman dan Dewey di 1948.

Studi Universitas Columbia ini menemukan bahwa atribut sosiologis, baik level individu (misalnya 
agama dan status sosial ekonomi) dan juga level agregat (seperti wilayah dan tempat tinggal), merupakan penentu yang sangat penting yang bisa menjelaskan hasil dari pemilihan di Amerika Serikat.

Selain itu, studi itu juga menemukan respon pemilih terhadap kampanye, pemilih pada dasarnya mencari kandidat yang memiliki karakteristik sosiologis yang sama dengan mereka. Berdasarkan studi 1940, Lazarsfeld dan Berelson membangun apa yang mereka sebut sebagai index of political predisposition, yang pada dasarnya merupakan tabulasi silang (cross-tabulation) dari pengelompokan agama (Katolik dan Protestan), tempat tinggal (urban dan rural), dan pekerjaan.

Mereka menemukan bahwa pemilih dengan karakter beragama Protestan, tinggal di wilayah rural dan memiliki status sosial ekonomi yang mapan akan cenderung memilih Partai Republik/kandidat Partai Republik. Sementara, pemilih dengan karakter beragama Katolik, tinggal di wilayah urban cenderung akan memilih Partai Demokrat.

Ada dua pelajaran relevan untuk kita di Jakarta dari studi Universitas Columbia bertahun-tahun lalu itu. Pertama, studi itu pada dasarnya menyampaikan bahwa pemilih memiliki posisi awal yang mengakar terhadap kandidat atau partai. Posisi itu didasari tradisi keluarga ataupun identitas sosial. Oleh karena itu, memilih bukanlah proses pengambilan keputusan mendukung siapa.

Sebaliknya, masa pemilu justru merupakan masa untuk mengonfirmasi identitas sosial dari para pemilih. (Pippa Norris, 1998). Sebagai akibatnya, pemilih relative memang tidak terpengaruh oleh kampanye.

Kedua, studi itu memperlihatkan bahwa pemilihan adalah tindakan sosial yang terjadi di tengah konteks sosial tertentu, seperti konteks struktur sosial, agama, dan lain-lain.

Titik inilah penggunaan kerangka pemikiran dari hasil penelitian panjang Universitas Columbia ini yang beberapa bagian di antaranya relevan untuk memahami pola pemikaran yang demikian tajam pada para pemilih dalam proses pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Annisa Fadhilah
Mahasiswi Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta


Sumber gambar : http://smeaker.com/
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kampanye Tak Mempengaruhi Posisi Awal Pemilih Rating: 5 Reviewed By: mindis.id