Latest News
Sunday, January 15, 2017

Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya dari Sampulnya Saja

Baca Juga



Sarah berasal dari Amerika dan temannya yaitu Jesse dan Kong melakukan eksperimen sosial sederhana dengan cara mengadakan kencan buta lewat Tinder. Sarah memasang foto dirinya sedang memakai bikini di pantai untuk profil akun Tindernya dan ketika Sarah memasang foto tersebut ada lima orang pria yang mengajak dia untuk kencan buta, akhirnya teman sarah mengatur pertemuan kencan buta terhadap lima pria itu.

Ketika teman Sarah sedang mengatur pertemuan, Sarah sibuk mengubah tampilannya yang tadinya dia cantik dan seksi karena tipuan make up, dia terlihat gemuk dan tua.  Lima pria tersebut kaget melihat penampilan Sarah yang terlihat gemuk dan tua ketika kencan buta berlangsung. Ada pria yang mengaku sudah menikah, ada juga pria yang meminta izin untuk pergi ke toilet di tengah kencan buta berlangsung dan tidak pernah kembali dari toilet, dan ada juga pria yang berucap kasar kepada Sarah ketika melihat tampilan Sarah saat kencan buta dan memilih untuk meninggalkan Sarah begitu saja. 

Namun, ada seorang pria yang memilih tetap melaksanakan kencan buta hingga selesai walaupun pria tersebut terlihat bingung dan kaku terhadap Sarah.  Sarah merasa membuang tenaga dan bensinya saat melakukan eksperimen tersebut tetapi Sarah senang melakukan itu meskipun merasa marah ketika ada yang berucap kasara terhadap dirinya dan kesal dengan pria yang memilih pergi diam-diam seakan tidak menghargai kencan buta. 

Eksperimen sosial yang dilakukan Sarah merupakan faktor mengapa para wanita ingin sekali tampil cantik walaupun cara yang ditempuh para wanita terkadang terlihat ekstrim dan membahayakan diri sendiri.  Bahkan salah satu netizen Korea Selatan pernah menuangkan persepsi masyarakat Korea Selatan melihat penampilan seorang wanita di salah satu situs diskusi umum di sana dan mengundang banyak netizen lain untuk berkomentar. 

Jika kamu jelek dan penyendiri, maka orang akan menjauhimu. Namun, jika kamu cantik dan penyendiri maka kamu akan terlihat misterius dan beraura. Jika kamu jelek dan baik terhadap orang lain itu hanya hal biasa. Namun, jika kamu cantik dan baik hati maka kamu akan disebut sebagai seorang malaikat. 

Jika kamu jelek dan sangat pintar maka hal itu biasa karena kejelekan wajahmu  itu akibat dari kamu kebanyakan belajar hingga lupa merawat diri. Namun, jika kamu sedikit pintar tetapi kamu cantik maka kau dilihat orang sebagai wanita sempurna. 

Jika kamu jelek tetapi berbakat maka orang hanya akan melihat bakatmu. Namun, jika kamu mempunyai bakat dan cantik maka kamu adalah manusia yang bertalenta. 

Persepsi dari salah satu netizen itu pun terasa dibenarkan oleh beberapa komentar netizen lainnya. Bahkan banyak sekali netizen yang merasakan hal itu terjadi kepadanya. Hal ini menjadi alasan mengapa di Korea Selatan banyak sekali klinik operasi plastik karena masyarakat disana ingin sekali mengubah penampilan untuk dilihat dan dihargai orang lain. Bahkan dalam melamar pekerjaan disana, penampilan sangat dilihat dan menjadi penentu diterima atau tidaknya dalam melamar pekerjaan. 

Di Indonesia terlihat seperti itu meskipun tak serasis seperti di Korea Selatan tetapi orang-orang Indonesia juga banyak berpikiran seperti salah satu netizen di Korea Selatan yang menuangkan pikiran tentang penampilan itu. 

Biasanya di Indonesia orang jelek itu sering menjadi bahan bully dan bahan candaan bahkan ejekan, itu terlihat sangat jahat. Stasiun televisi Indonesia juga terkadang menampilkan adegan bully dan ejekan terhadap orang jelek, bahkan orang Indonesia terhibur dengan adegan bully dan ejek seperti itu di televisi. 

Bully dan ejek seperti itu tidak bagus untuk kehidupan sosial karena kelakuan seperti itu bisa mengajarkan kita bahwa orang jelek itu tidak harus dihargai dan dihormati dan itu tidak bagus untuk kehidupan sosial orang jelek yang di-bully tersebut karena hal ini bisa menyebabkan rasa tidak percaya diri bahkan depresi karena menyesali kenapa dia mempunyai tampilan jelek. 

Janganlah menaruh penampilan sebagai salah satu tolak ukur kita terhadap seseorang yang baru kita temui atau yang sering kita temui. Hal yang pantas menjadi tolak ukur seseorang adalah akhlak dan pemikiran orang itu terhadap kehidupannya sendiri. 
Annisa Fadhilah
Mahasiswi Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta

  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya dari Sampulnya Saja Rating: 5 Reviewed By: mindis.id