mindis.id
Latest News
Sunday, December 4, 2016

Risah dan Bocah-Bocah Papua; Mendidik Tak Mengenal Batas

Baca Juga

pengajar SM3T

Perihal mengajar dan mendidik, agaknya tak segampang yang diucapkan dan dilihat. Di dalamnya ada hati nurani dan kepekaan yang bekerja untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Tak menyoal suku, ras, asal, agama, dan aspek lainnya, memberikan pengajaran dan pendidikan tetaplah salah satu implementasi dari sila ke-5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Siapa pun orangnya, di mana pun tempatnya, dan seperti apa pun rupanya, ia berhak memperoleh pendidikan.

Berbagai program dicanangkan pemerintah, permasalahan anak-anak nan jauh di pelosok sana, tak satu pun tangan-tangan pendidik menyentuh mereka. Persoalan ekonomi dan sosial tetap menjadi alasan utamanya. Kemudian, mereka yang terketuk pintu hatinya mulai meninggalkan kehidupan perkotaan yang semuanya serba ada dan bersusah payah menuju pelosok yang sekali pun, baru kali ini mereka mendengar namanya.

Haritsah Salim, 27, terbang jauh ke pelosok Merauke, menyentuh anak-anak di sana untuk tetap mendapatkan haknya. Lewat Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T), Risah, panggilan akrabnya, meninggalkan Kota Pekanbaru berangkat menuju Papua bersama rekan-rekan lainnya.

Alasan utamanya sederhana, ingin melepaskan zona nyaman dan berharap akan menemukan sesuatu yang baru untuk masa mudanya sekarang. Persoalan izin dengan orang tua pun seperti birokrasi yang sulit. Dua bulan menjelang keberangkatan, ia harus membujuk dan meyakinkan orang tuanya bahwa nanti, mengajar di Papua sana, tetap akan baik-baik saja. Tak mudah, tapi siapa sih orang tua yang tidak akan terketuk dengan niat baik anaknya? Gayung pun bersambut, orang tua akhirnya mengizinkan Risah berangkat bahkan yang paling sibuk membantu urusan tetek-bengek keberangkatannya.

Risah ditempatkan di SD YPPGI Hitigima, Distrik Asotipo, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, lebih dikenal dengan nama Lembah Baliem yang dikelilingi gunung. Pertemuan pertama, Risah disambut hangat oleh murid dan penduduk sekitar. Disalami, dipeluk-peluk, hingga dikasih sayur dua karung. Oalah. Tapi hangatnya sambutan mereka bertolak belakang dengan kondisi yang ada.

Anak kelas enam sekolah dasar yang harusnya sudah mahir membaca, ini bahkan masih ada yang tidak bisa membaca. Tidak ada balutan seragam ala anak sekolahan. Mereka tidak mandi, tidak gosok gigi, dirambut pun masih tersangkut serbuk-serbuk rumput, sisa alas tidur mereka, hingga kaki telanjang dipenuhi lumpur. Berangkat ke sekolah mereka harus naik turun bukit dan menyeberangi sungai. Bau badan mereka bukan main.

Anak-anak itu tak hapal lagu Indonesia Raya. Di sana tidak pernah upacara bendera semenjak 25 tahun yang lalu. Mereka bahkan tidak tahu kalau mereka hidup di Negara Indonesia.

Hingga esoknya, Risah datang ke sekolah membawa tentengan berisi sikat gigi, odol, dan sabun mandi. Ia berinisiatif membuat kampanye kebersihan. Anak-anak tidak pernah luput dari dunia bermain. Odol pun dimakan dan membilas muka menggunakan sabun mandi saking wanginya.

Hidup di Papua ternyata mahal. Harga kebutuhan bisa berbeda tiga kali hingga lima kali lipat dibanding daerah lain. Suhu rata-rata berkisar 1618 derajat. Pernah di suatu musim hujan, suhu menginjak angka enam derajat dan minyak goreng pun turut membeku saking dinginnya. Mungkin karena kondisi yang seperti itu, budaya ramah tamah masih melekat dalam masyarakatnya. 

Memang, dengan kondisi tersebut, tidak ada jalan yang lebih baik selain melibatkan diri secara langsung. Datang dan hidup di tengah-tengah mereka barulah membuka mata hati bahwa anak-anak Papua ini jauh tertinggal di banding anak “perkotaan”. Padahal mereka anak Indonesia, berhak diperhatikan juga.

Risah menjalani kehidupan barunya bersma bocah-bocah Papua. Ia terlibat dalam kehidupan mereka. Sampai Suatu hari, di balik jeruji besi mobil evakuasi, ia melihat perang antarsuku yang tengah berkecamuk membawa parang panjang, panah, kapak, dan sejenisnya.

Anak-anak Papua, bukan mereka yang salah. Bukan pemerintah yang kurang berusaha mengirimkan guru-guru ke sana. Hanya saja, beberapa yang tak tahu diri, hingga tak pernah menunaikan kewajiban datang ke sekolah namun paling cepat dalam menjemput hak. Apalagi kalau bukan gaji per bulan?

Begitu terus waktu berjalan, ternyata masa pengabdian telah habis. Bocah-bocah Papua yang histeris menangis melihat gurunya pergi. Mayarakat yang meraung karena harus kehilangan salah satu panutan mereka. Tas noken, asli Papua, dipersembahkan bagi guru terbaik mereka.

Meski tidak tahu, apakah sepeninggal Risah dan kawan-kawan, pendidikan tetap berjalan baik atau malah kembali kekebiasaan semula. Sekolah sekali liburnya seminggu. Kini Risah tengah mempersiapkan diri, menimba ilmu, untuk menjadi GGD (Guru Garis Depan) di Universitas Negeri Medan, yang nantinya juga akan ditempatkan di pelosok.

“Buat saya, menjadi pengajar bukan masalah mengajar saja tapi lebih kepada mendidik. Mengajar mungkin hanya mentransfer ilmu sedangkan mendidik juga membimbing, mengarahkan, agar mereka berkelakuan baik dan juga ikut mendewasakan siswa,” ucap Risah.

Ya, melalui guru, pendidik, dan pengajar, pemimpin menjadi pemimpin, dokter menjadi dokter, ilmuwan menjadi ilmuwan. Dengan guru, kemustahilan menjadi harapan untuk dilalui. Semoga ada Risah-Risah lain yang tengah memantapkan hati, mengepak barang, dan berangkat ke ujung Indonesia sana. Mencerdaskan anak bangsa, dan memuliakan moral mereka.

*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

2 comments:

  1. Spechless bacanya, Kak Risah, saya emang salut banget. Sbg seorang guru saya mungkin hanya sbg pengajar tidak semaksimal kak risah yg sudah sedia pergi jauh utk mengajar dan mendidik anak bangsa.

    ReplyDelete

Item Reviewed: Risah dan Bocah-Bocah Papua; Mendidik Tak Mengenal Batas Rating: 5 Reviewed By: mindis.id