mindis.id
Latest News
Monday, December 5, 2016

Revolusi Chelsea dan Pembuktian Antonio Conte

Baca Juga



setelah berhasil melumat habis Tottenham Hotspurs dan Manchester United sebelumnya di Stamford Bridge, akhir pekan lalu Manchester Biru harus menahan malu dikalahkan oleh The Blues Chelsea di kandangnya sendiri. Tak heran banyak yang mengatakan bahwa Chelsea di bawah asuhan pelatih asal Italia ini menjadi calon kuat peraih trophy premier league 2016/2017. 

Pada awalnya, banyak yang meragukan Antonio Conte di Chelsea melihat bahwa sepak bola Inggris adalah liga paling sulit di dunia. Sebab, sepak bola Italia yang diusungnya dianggap tidak cocok dengan gaya bermain ala Inggris. Selain itu, sepeninggalan Jose Mourinho, Chelsea bak kapal rusak yang siap untuk hancur.

Menerima pinangan Roman Abramovic untuk menukangi tim tercintanya ini bukanlah hal mudah. Pasalnya, tuntutan Abramovic pun cukup sulit, yaitu mengembalikan piala liga ke Stamford Bridge serta merajai Eropa di musim yang akan datang. Melihat tuntutan yang begitu besar ini justru semakin membuat mantan arsitek timnas Italia ini terpacu untuk meraih sukses di Stamford Bridge. 

Yang menjadi sorotan adalah apa yang membuat Chelsea begitu perkasa musim ini. Mari kita ulas berdasarkan 3 pertandingan besarnya beberapa waktu silam, yaitu melawan Manchester United, Tottenham Hotspurs, dan Manchester City. 

Pembuktian Conte 

Conte benar - benar membuktikan bahwa strateginya ala Italia cocok untuk diterapkan di liga Inggris. Awalnya ia mencoba untuk tetap menggunakan formasi 4 -5 - 1, dimana strategi ini memang sedang tren di Eropa saat ini yang notabene merupakan formasi warisan Jose Mourinho saat menukai Chelsea. Namun, strategi ini justru tidak ampuh dimainkan dengan baik oleh Chelsea. Terbukti banyak gol kemasukan pada lini belakang Chelsea. 

Bukan Antonio Conte namanya jika tidak bisa membenahi pertahanan Chelsea. Ia memang tekenal dengan pertahan yang kuat dengan 3 beknya saat menukangi Juventus. Kini, ia berusaha mengaplikasikannya di Chelsea dengan membuat formasi yang sama di lini belakang, yaitu trio Azpilicueta, Gary Cahill, dan David Luiz. Dengan ini Conte membuktikan bahwa formasi 3 - 6 - 1 tetap bisa diterapkan di liga Inggris. 

Revolusi Chelsea

Salah seorang pakar sepak bola mengatakan bahwa sepak bola terus berkembang. Dulu, kick and rush ala Inggris merupakan strategi paling ampuh. Pernah pula Ball possesion ala Barcelona dan Pep Guardiola yang disebut dengan tiki - taka menjadi cara paling jitu. Namun, sepak bola bukanlah olah raga yang stagnan, ia terus berubah dan banyak pelatih mencoba untuk memecahkan strategi ini. 

Antonio Conte menyadari bahwa keberhasilan Leicester musim lalu adalah pertahanan yang rapih serta lini tengah yang stabil guna mensupport counter attack barisan penyerangan. Oleh karena itu, Chelsea memulangkan kembali David Luiz untuk menstabilkan barisan belakang, serta membeli Kante di lini tengah.

Dari lini belakang, absennya John Terry menjadi berkah tersendiri. Walaupun awalnya terseok - seok, David Luiz, Gary Cahill, dan Cesar Azpilicueta mulai menunjukan Chemistry mereka. Pertahanan kokoh Chelsea sebenarnya bukan karena 3 bek ini, melainkan sisi sayap serta gelandang bertahan yang kuat. 

Sebenarnya, saat bertahan formasi Chelsea berubah dari 3 - 6 - 1 dan menjadi 5 - 4 - 1. Dimana Marcos Alonso dan Victor Moses turun untuk membantu pertahanan. Jadi, pada Conte mulai menyadari bahwa dua pemain bertahan tidak cukup untuk menutup kotak pinalti Chelsea, sehingga David Luiz, Cahill serta Azpilicueta fokus berada di lini tengah, karena sisi sayap sudah di jaga oleh Alonso dan Moses. Selain itu, Conte menyadari pula bahwa serangan gelombang kedua atau tembakan di luar kotak pinalti juga sangat berbahaya. Oleh karena itu, peran Kante dalam menjaga pertahanan dapat dikatakan cukup sukses. 

Tidak hanya itu saja, Kante juga memiliki peran untuk menjaga pertahanan saat terjadi serangan balik. Premier League memang menjadi liga dimana tim di dalamnya memiliki seribu strategi, salah satunya adalah serangan balik. Antonio Conte menyadari bahwa lebih dari 50% gol yang bersarang di gawang Chelsea pada masa Mourinho akibat serangan balik. Disinilah peran Kante. Ia bertugas menutup pergerakan lawan yang hendak melakukan serangan balik. jadi, Matic yang semula bertugas sebagai gelandang bertahan kini fokus untuk membangun serangan. 

Matic bukan Fabregas, Pedro bukan Willian

Banyak para pengamat sepak bola yang bertanya, mengapa Matic? bukan Fabregas. Ataupula mengapa Pedro? bukan Willian? jawabannya adalah karena karakteristik pemain yang dicocokan dengan strategi ala Conte. Fabregas memang kuat dalam memberikan assist, mengatur permainan, serta memberikan peluang di saat lini depan Chelsea mengalami kebuntuan. Namun, Fabregas sangat lambat dalam bertahan. Karakteristik inilah yang tidak cocok untuk formasi ini dimana 2 gelandang jangkar harus siap membantu pertahanan. Matic tidak sepiawai Fabregas dalam memberikan Assist, namun ia dapat bertahan jauh lebih baik dari pada Fabregas. 

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Pedro bukan Willian ? Pada era Mou, Willian di tempatkan di posisi sayap yang seharusnya lebih sering menusuk. Pada kenyataanya, Willian terlalu lama menggiring bola sehingga serangan Chelsea menjadi lambat. Karakteristik Willian inilah yang tidak cocok dimana dua winger Chelsea harus memiliki karakteristik yang sama, yaitu menusuk kedalam. Pedro memiliki skill menusuk yang lebih baik dari pada Willian. 

Kira - kira inilah penjelasan mengapa Chelsea sangat perkasa pada musim ini. Kita lihat saja apakah harapan Abramovic dapat menjadi kenyataan di bawah tangan dingin Antonio Conte ? 

*Ahmad Hidayah 
Alumnus Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumber gambar : http://i2.mirror.co.uk/









  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Revolusi Chelsea dan Pembuktian Antonio Conte Rating: 5 Reviewed By: mindis.id