mindis.id
Latest News
Friday, December 9, 2016

Peringatan Hari Antikorupsi: Penting Tidak Penting?

Baca Juga

hari anti korupsi

Bangsa Indonesia tengah memperingati Hari Antikorupsi, 9 Desember 2016. Berbagai lembaga mulai menyuarakan berbagai kegiatan untuk memperingati hari tersebut. Entah dari parade, perlombaan, seminar, hingga Riau yang didaulat sebagai tuan rumah Hari Antikorupsi Sedunia ini tengah berbenah diri.
  
Saya sebenarnya tidak ngeh dengan peringatan tersebut hingga membuka postingan salah satu teman di media sosial. Lagi-lagi, media sosial. Tiba-tiba saya merasa peringatan antikorupsi ini percuma. Hanya menambah sederet kegiatan yang ujung-ujungnya menghambat aktivitas lainnya.

Mengapa demikian? Dari Januari 2016 sampai Juni 2016, IWC mencatat 210 kasus ditangani dan 500 orang ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi dari tiga institusi penegak hukum. Wow! Padahal sepanjang tahun sebelum-sebelumnya selalu diperingati hari yang sama pada waktu yang sama pula.

Slogan “Antikorupsi” menyebar di mana-mana. Mulai dari spanduk besar di jalan raya, tulisan mural di gang-gang kecil, hingga toilet pun ditempel sticker bertuliskan “Antikorupsi”. Namun tetap, wabahnya tak bisa dihentikan. Jadi tak usah muluk-muluklah.

Bukan berarti saya tidak peduli dengan kesejahteraan bangsa ini karena memang koruptor itu makan hak yang bukan miliknya. Bisa jadi orang-orang pinggiran sana yang harusnya sejahtera jadi malah makin terpinggirkan, yang kaya makin berfoya-foya, yang miskin tetap berebut raskin.

Tak perlulah menggembar-gemborkan Hari Antikorupsi yang mungkin akan berakhir sia-sia. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun jika bisa, jangan berkata kepada semua orang yang datang, “Jangan pernah korupsi”. Namun tanamkan di sanubarinya betapa melaratnya hidup orang lain gara-gara si koruptor ini. Tunjukkan cara bagaimana pastinya mencegah korupsi ini, jangan itu-itu saja yang dibahas tiap tahun.

Padahal sebenarnya kita juga koruptor. Walau belum sekelas yang menciduk uang rakyat hingga miliaran itu. Telat datang dari waktu perjanjian berarti sudah korupsi waktu. Telat bayar utang berarti korupsi lagi. Lalu banyak korupsi-korupsi lainnya yang sebenarnya adalah cikal bakal tapi dimaklumi. Semisal deadline kerja pukul enam sore tapi selesai pukul tujuh malam. Lha! Sudah korupsi lagi.

Jadi, bukan Hari Antikorupsinya yang harus disalahkan. Tapi di sini, di dalam dada, belum ada rasa menghargai orang lain. Jangan ajarkan orang lain untuk memelihara materi, tapi cara menjaga amanah agar merasa cukup. Tidak, bukan menggurui, tapi ini lebih kepada nasihat untuk diri sendiri. Yuk, berdoa untuk Indonesia. Semoga budimu sedamai hamparan pasir di sepanjang bibir pantai negara kepulauan ini.   


*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: micecartoon.co.id
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Peringatan Hari Antikorupsi: Penting Tidak Penting? Rating: 5 Reviewed By: mindis.id