mindis.id
Latest News
Wednesday, December 14, 2016

Perbedaan dan Omong Kosong

Baca Juga

omong kosong

Kini kasus perpecahan karena perbedaan tengah berkecamuk. Bahkan kepercayaan di hati pun ikut diperdebatkan. Saya tidak tahu, siapa yang menyulut dan menyiram minyak tanah di atasnya. Tapi sepertinya, penghujung tahun selalu penuh dengan warna-warna baru.

Akan tetapi, tidakkah pernah kita berpikir mengapa negeri ini kaya? Iya, karena kita beragam. Kita berbeda. Kita tidak ada yang sama. Maka semua hal yang menjadi perbedaan tersebut adalah kekayaan. Namun, tak semua orang pandai menjaga harta kekayaannya. Tak semua orang mahir bermain tanpa berutang. Tak semua orang kaya bisa hidup tanpa keserakahan.

Setelah sekian lama, saling menghargai yang diajarkan sedari kita masih “kicik” bau ingus, kini menjadi omong kosong. Tiba-tiba saja kita, termasuk saya, menjadi sangat sensitif terhadap semua perbedaan yang ada. Tak dipungkiri, kadang kita juga menggolongkan diri kepada pihak tertentu walau hanya pikiraan sesaat.

Lalu saya mulai berpikir, sebenarnya seperti apa harusnya kita bertindak terhadap perbedaan yang ada? Mungkinkah saling diam saja? Atau ikut-ikutan berpartisipasi? Atau memang harus memaksa orang yang berbeda menjadi sama?

Saya tidak tahu jawaban pastinya seperti apa. Namun, apakah ini karena sedang berada di ibu kota? Makanya semua jenis manusia menjadi tumpah ruah? Semua isu-isu seperti terbangkalai menuntut pihak-pihak untuk terlibat? Bisa saja, jauh di pelosok sana, orang-orang sudah biasa berbeda. Berbeda agama, ras, suku, atau yang lainnya sehingga ketika kita sibuk dengan isu perpecahan karena perbedaan, mereka justru menertawakan? Ada apa dengan orang perkotaan yang sibuk berkomentar di dunia maya ini?

Ah tidak juga, mungkin di sana juga terjadi perpecahan karena keberagaman tapi tak ada yang peduli. Ketika isu perpecahan lebih hangat ketimbang isu bencana alam, ya mungkin wajar saja. Betapa banyaknya kata mungkin yang saya tulis di sini karena memang saya tidak yakin tentang itu.

Setidaknya saya hanya berpikir bahwa keberagaman itu biasa. Tak perlulah pusing. Cukup diam dan biarkan saja. Urusan si A biarkan jadi hak dia, dan urusan si B tak perlu juga diganggu gugat. Tak usah ada orang-orang yang mengoceh atau sintimentil terhadap urusan orang lain apalagi sampai berkoar-koar di sana-sini. Sepertinya kita butuh seseorang yang tahu kapan harus diam dan kapan harus biacara. Tak usah tersulut dengan isu-isu yang berbeda di media sosial. Cukupkan saja dengan urusan kita di dunia nyata dan berusahalah tentang hal-hal yang seharusnya dikejar. Semoga, pendidikan karakter kembali lebih giat menanamkan tentang keberagaman dan menghargai. Hargai saja, maka semua beres.
 


*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta


Sumber gambar: loyarburok.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Perbedaan dan Omong Kosong Rating: 5 Reviewed By: mindis.id