mindis.id
Latest News
Sunday, December 18, 2016

Obrolan Makan Malam

Baca Juga

makan malam bersama bapak

Malam yang cukup temaram dengan hiasan lampu dinding yang tak seberapa. Di meja bulat berukuran sedang, seorang laki-laki paruh baya tersenyum hangat kepadaku. Aku duduk berhadapan dengannya, sibuk menghitung detik, menit, hingga jam agar malam ini benar-benar cepat berlalu.

“Kau mau ini Embun? Laki-laki tadi menyodorkan potongan tahu ke atas piring makan ku. Aku tersenyum lirih dan mulai menyuapi hidangan di dalam piring. Hanya saja, malam ini sebenarnya tidak perlu ada sama sekali. 

“Maafkan Bapak. Harusnya kita tidak berdua saja, Embun,” ia menatapku sendu. “Andaikan masih ada Ibu kamu di sini.” Entah matanya memang sudah berkaca-kaca di awal atau memang ini hanya karena suasana yang mendukung saja, aku tidak bisa membedakannya.

“Sudah biasa. Aku malah menghabiskan makan malam di meja ini sendirian biasanya.” Aku berusaha menenangkan rasa bersalahnya walaupun tidak ingin. Dulu sekali, ketika malam menjelang, aku dan Ibu, kami berdua makan malam di tengah-tengah ruangan ini. Setiap aku bertanya kenapa hanya berdua, di mana laki-laki yang sering dipanggil teman-temanku Papa? Sekali pun tidak pernah ada di meja makan ini. Kegelisahanku hanya dijawab senyum tipis Ibu dan aku memakluminya. Hingga lama-kelamaan aku tidak merasa perlu lagi bertanya.

“Maafkan Bapak. Tidak pernah hadir di tengah-tengah kalian.” Lagi-lagi ia memohon maaf kepadaku. Haruskah aku memaafkannya atau hanya beranggapan pernyataannya tadi hanya angin lalu saja. 

“Aku sudah terbiasa. Dan maaf juga,” Aku menatap laki-laki paruh baya di depanku lurus, “pernah mengganggu liburan keluarga kalian dengan pengakuanku.” Hampir saja aku tersedak setelah menyelesaikan ucapan barusan.

Raut wajahnya berubah mengeras. Waktu itu aku baru lulusan ujian masuk perguruan tinggi. Ibu sudah pasti tidak memiliki biaya cukup untuk membayar uang semester fakultas kedokteran. Entah keberanian dari mana, aku menghubunginya. Dari secarik kertas yang berisikan nomor telepon yang pernah diperlihatkan Ibu. Kata Ibu, hubungi laki-laki ini jika nanti ia tidak ada, tapi aku melanggar ucapan Ibu.

“Kau anak yang tidak aku inginkan. Bilang ibumu untuk tidak melibatkan aku dalam urusan perut kalian.” 

Hingga berminggu-minggu kemudian, bila mengingat ucapan laki-laki itu ditelepon, rasa-rasanya seluruh tubuhku gemetar hebat. Aku sempat histeris dan menangis seharian. Sepertinya tidak pernah cukup ucapan orang lain untuk aku dan ibu, sampai-sampai bapakku sendiri berani mengatai kehidupan kami.

“Sungguh, Embun. Aku tidak tahu harus berbuat apa waktu itu. Tapi syukurlah, Ibumu membesarkan kamu dengan baik.” Ia tersenyum, buru-buru mengelap kedua ujung bibirnya.

“Aku tumbuh bersama trauma Ibu. Tak sekali pun aku melihat ketakutan beranjak dari wajah Ibu.” Kali ini aku benar-benar marah. Ibuku pernah menjadi korban pelecehan oleh laki-laki di depanku. Ibu tak pernah lagi punya dunia yang tenteram semenjak kejadian ia merenggut harta terbaik Ibu. Mengetahui Ibu hamil, Uwak dan Uma -orang tua Ibu- memaksa Bapak menikah dengan Ibu. Meskipun ditolak mentah-mentah oleh bapak dan keluarga. Kata uwak, kala itu keluarga Bapak hanya memberikan uang di dalam amplop coklat untuk proses melahirkan. 

“Tapi aku bersikeras Embun. Ibumu harus menikah dengan laki-laki itu. Aku tidak mungkin melihat cucuku tak punya bapak seumur hidupnya.” Ibu tidak pernah bercerita apa pun terhadapku, ia sibuk melawan rasa traumanya akibat perlakuan bapak. Namun, hingga hari ini, tak sekalipun Ibu berhenti menyayangiku.

Pada akhirnya-laki-laki yang kupanggil Bapak itu-tak pernah pulang lagi ke rumah. Kata Uwak, ia pergi ketika aku berusia tiga tahun. Tanpa jejak dan tanpa peninggalan. Meninggalkan Ibu yang tak pernah sembuh dari traumanya dan aku, yang masih kecil tak tahu apa-apa.

“Kenapa dulu meninggalkan aku dan Ibu?” Pertanyaan yang selama ini hanya ada di dalam pikiran akhirnya aku keluarkan juga. Semenyakitkan apa pun itu, aku harus tahu sebabnya.

Mimik wajahnya kembali berubah, “Bapak tak punya pilihan Embun. Menikahi Ibu bukan keinginan Bapak tapi kau sudah terlanjur ada.” Ia tersenyum menatapku.

Aku benar-benar geram. Kenapa makan malam ini harus ada? Ingin rasanya aku melempar semua hidangan ini ke hadapan laki-laki paruh baya itu. Kemudian pergi dan tak pernah menggubris panggilan teleponnya.

“Harusnya Bapak punya pilihan. Tetap di sisi Ibu.” Aku menyanggah dengan penuh penekanan. Namaku, Embun, hanya diberikan oleh Ibu yang melahirkan sendirian di bidan dekat rumah. Nama itu terucap tak sengaja karena waktu itu pagi dan berembun tebal. Laki-laki di hadapanku ini entah ke mana. Uwak dan Uma baru datang keesokan harinya dari kampung halaman ibu.

Ia tersenyum getir, kembali menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya. Aku bersumpah untuk semua waktu yang pernah dilalui bersama Ibu, tak sekali pun aku menginginkan makan malam dan memelihara dendam di dalam hatiku. Tapi melihat laki-laki di hadapanku menyayangi perempuan lain dan anak-anak yang dijaga dengan sepenuh hati, Aku tak pernah memakluminya. Mengabaikan seberapa pun ibu meminta untuk mengabaikannya.

“Bagaimana dinas rumah sakit, Embun? Bapak yakin, Ibu memberikan pendidikan yang baik.” Ia mengalihkan pembicaraan. Mencoba menenangkan emosiku dengan pertanyaan lain.

Ketika ia menolak memberi uang semester awal, Aku menunda perkuliahan dua tahun. Kami, Aku dan Ibu, bersusah payah mengumpulkan uang untuk sekolahku. Lalu mengulang membuka buku kembali untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi. Ibu tak pernah memberikan kehidupan yang mewah tapi beliau mencukupiku. Tentu, sesekali dengan tatapan kosong pertanda trauma tak pernah sembuh dari dirinya.

“Pekerjaanku baik-baik saja dan Ibu mendidik aku dengan baik. Tak ada yang perlu Bapak khawatirkan.” Aku berharap makan malam ini segera usai.

“Waktu meninggalkan kalian dulu, sebenarnya Bapak takut kau hidup tak layak. Tahu kan, trauma ibumu suka kambuh.” Ia menyudahi menyantap hidangan dan meminum air putih di samping piring. Akan tetapi, aku hanya ingin membanting gelas di hadapannya. Berani-beraninya ia menyinggung penyakit ibu!

“Ibu sakit karena Bapak. Kalau Bapak bisa lebih terhormat memperlakukan Ibu, Aku tak perlu lahir, kalian tak perlu menikah, Uwak dan Uma tak perlu kehilangan harga diri untuk memohon ke orang tua Bapak,” napasku tersengal-sengal menahan amarah, “Bapak yang lebih duluan merenggut kehormatan Ibu. Ibu hanya korban!” Aku menyudahi menyuap nasi dan menatap Bapak dengan penuh amarah. 

Laki-laki paruh baya di depanku menitikkan air mata, lalu lekas menyekanya. “Sungguh Embun, Bapak sungguh menyesal. Tak sekali pun aku alpa mengingatmu. Aku selalu mencari tahu tentang dirimu. Selalu Embun.” Kali ini, ia membiarkan air mata mengalir di pipinya. 

“Sudahlah Pak, makan malam ini tak perlu ada. Aku dan Ibu tak perlu kau sesali. Sudahi saja.” Aku membereskan barang-barang bersiap pergi sebelum amarahku kembali meledak-ledak. Harusnya memang dendam tak perlu ada.

“Bapak, terima kasih sudah memberiku Ibu yang luar biasa hebat.” Aku menyalami laki-laki paruh baya tadi, berharap perkataanku tak mengguncang emosinya. “Dan kalau Bapak mencari tahu tentangku, harusnya tak usah meletakkan tahu di piringku. Aku sama dengan Bapak, alergi kedelai. Aku juga tidak pernah akan mengoperasi istri Bapak, sekali pun sudah ada makan malam ini.” ***


*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: allnitegraphics.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Obrolan Makan Malam Rating: 5 Reviewed By: mindis.id