mindis.id
Latest News
Friday, December 9, 2016

Menerima Berita Hoax Itu Ibarat Menggenggam Racun

Baca Juga

berita hoax

Lagi-lagi saya ingin bercerita tentang Indonesia ini. Diibaratkan gambar lingkaran kecil-lingkaran besar, maka Indonesia ini matanya hanya setitik tapi mulutnya seluas wajah. Sekarang apa-apa bisa menyebar cepat dan tak ada saringan. Belum pasti melihat, belum yakin apa benar, tapi segalanya sudah diketahui lebih dahulu.

Kekuatan jari melebihi kekuatan pesawat terbang. Tinggal pencet tombol “enter” semua orang tahu ceritanya. Kasus seperti ini, saya seolah dirajam sosial media. Padahal info tersebut hanya “hoax” semata. Tidak tahu asal usul dan kebenarannya tapi semua bisa saja berlagak tahu.

Apalagi di saat negeri ini dilanda kisruh pemilihan kepala daerah. Semua informasi datang seperti banjir bandang. Akan tetapi yang namanya banjir, tentu membawa sampah. Tinggal dipilah, mana sampah dan mana yang benar berguna.

Seumpama informasi itu datang, harusnya semua bisa lebih kritis membacanya. Benar tidak ya seperti ini? Agaknya kasus ditipu berita hoax layaknya minum kopi bersianida. Ujung-unjungnya membunuh kebenaran.

Dalam UU ITE Nomor 11 Tahun 2008, dijelaskan ada sanksi hukum bagi penyebar berita hoax ini. Namun sampai sekarang, berita hoax tetap mengalir begitu saja, lalu entah siapa penyebar dan entah siapa yang akhirnya dijadikan tumbal.

Ketidakjujuran penyebar berita atau informasi ini bisa jadi sebagai senjata yang memecahbelahkan bangsa Indonesia. Sekarang orang tengah sibuk berkubu-kubu, menyuaraka diri tentang merasa paling benar. Seharusnya tidak apalah berbeda seditikit, karena berbeda pula Indonesia menjadi kaya.

Modus berita hoax ini sebenarnya beragam. Mungkin kepentingan pribadi atau memang ingin menyampaikan suatu kebenaran tapi tidak tahu caranya. Jadi, ya dibuat saja menurut kita (penulis) tanpa ada data yang valid dan sah. 

Ketika semua sudah tersebar, ya mau diapakan lagi? Umpama orang terhasut maka akan susah lagi mengembalikan akal pikirannya ke keadaan semula. Lantas di sini siapa yang harus kita salahkan? UU ITE yang tidak tegas? Penyebar berita hoax? Atau saya, kita semua, yang kadang kurang pandai mengolah informasi.

Berpikir secara rasional bukan satu-satunya cara dalam menyikapi hoax. Kita harus telaten menyulut informasi tadi, membuka ruang untuk keabsahan faktanya. Walau kadang geram juga jika tahu dibohongi oleh berita hoax seperti ini, tapi berhenti menggunakan media sosial di era milineal rasanya akan jadi sangat ketinggalan zaman. 

Menerima berita hoax, apalagi sampai mempercayainya, itu seperti menggenggam racun. Bisa jadi kita yang terluka atau orang lain yang kena getahnya. Sama-sama butuh diteliti dan dipahami.


*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: komputerlamongan.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Menerima Berita Hoax Itu Ibarat Menggenggam Racun Rating: 5 Reviewed By: mindis.id