mindis.id
Latest News
Monday, December 5, 2016

Meme; Pintu Opini yang Terbuka Lebar

Baca Juga

opini

Keberadaan tulisan, gambar, atau video berbentuk meme di media sosial turut meramaikan viral dunia maya tersebut. Berbagai kejadian dibuatkan meme-nya, tak lupa disangkutpautkan dengan bahasa, kejadian, atau perkataan yang tengah ngetren. Ekspresi visual kreatif berdasarkan kejadian terkini meskipun disampaikan dengan balutan humor tapi tak jarang kritik tersebut menjadi bumerang di kemudian hari.

Meme pertama kali dikemukakan oleh Richards Dawkins dalam buku The Selfish Gene yang merujuk pada "unit imitasi dan transmisi budaya dalam gen" (1976). Sekarang, di mana-mana, apa pun, agaknya bisa dijadikan bahan meme

Tapi apakah selamanya kita sebagai pengguna media sosial tertawa atau bahkan ikut-ikutan membuat meme? Memang, di era digital seperti ini, pintu bagi masyarakat untuk menyuarakan opini terbuka seluas-luasnya. Tapi di situlah permasalahannya.

Acap kali, meme yang hadir di media sosial dan kemudian menjadi viral tersebut menggunakan foto atau informasi salah satu pihak. Bahkan sampai menampilkan, maaf, foto atau pose yang tidak senonoh dan tidak seharusnya menjadi tontonan umum.

Akan tetapi, bukannya di zaman “edan” ini apa saja sudah layak dinikmati? Unsur pertama yang mungkin menjadi risiko keberadaan meme adalah anonimitas. Si pembuat meme yang menghakimi salah satu pihak merasa aman dan baik-baik saja. Sebab identitas dirinya tidak diketahui publik. Maka bentuk protes dari pihak yang merasa dirugikan hanya berputar di dunia maya saja.

Pastinya, dibutuhkan perangkat hukum yang dapat menindaklanjuti risiko keberadaan meme ini. Tapi seketat apa pun, sepertinya kita sudah kebal dengan hukum mana pun. Seberapa pun berat hukumannya, tetap akan ada segerombolan orang yang melakukan pelanggaran.

Meme hanya sekadar kritik. Bisa isu sosial, ekonomi, bahkan politik. Dibuat entah hanya untuk bersenang-senang atau memang ada argumentasi tak tersampaikan dengan mulut. Namun yang disesalkan adalah, meme yang dibuat untuk menjatuhkan individu atau kelompok dengan alasan kepentingan pribadi atau kelompok juga.

Perangkat etis untuk kemudian menyaring penyebaran meme di media sosial sangat diperlukan. Tapi kesadaran anonimitas pembuat meme itu lebih diperlukan. Beropinilah dengan baik dan benar. Opini juga bentuk aspirasi dan hak setiap orang. Namun sebaiknya, jangan sampai menjatuhkan, apalagi menyudutkan pihak-pihak yang tak bersalah.

*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta


Sumber gambar: health.detik.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Meme; Pintu Opini yang Terbuka Lebar Rating: 5 Reviewed By: mindis.id