mindis.id
Latest News
Sunday, December 4, 2016

Ibu Guru Santi

Baca Juga



Santi menyibak tirai putih penutup jendela. Matanya sembab memperhatikan bocah-bocah bermain genangan air bekas hujan tadi siang. Lalu ia tersenyum, seperti ingin memanggil bocah-bocah itu tapi suara tak pernah ke luar dari mulutnya. Tenggorokannya sengau, seolah semua diplomasi pilunya tertahan di situ.

Ia menutup kembali tirai putih tadi beranjak menuju meja bulat di ujung ruangan. Santi memulai ritual sorenya. Menyeduh secangkir teh melati dengan ampas yang ia biarkan mengapung di permukaan. Menyeruputnya dengan memperhatikan papan tulis usang di samping televisi.

Beberapa tahun belakangan Santi hanya menikmati teh sorenya sendiri. Hanya berdampingan dengan kesunyian ruang tengah yang tak pernah disentuh cahaya matahari. Ia menutup pintu dan jendela rapat-rapat.

Ujang, suaminya, sudah tak tahu rimbanya. Tengah malam kadang ia terjaga, melihat Ujang tidur mendengkur di sampingnya. Tapi beberapa hari kemudian ia sudah tak tahu Ujang di mana karena tak pernah muncul batang hidungnya. Padahal nikmat teh sore ini, Ujang yang menularkannya.

“Kau harusnya memulai dari angka yang di sebelah kiri, Tin. Sini bawa buku latihanmu!” Santi teringat masa-masa jayanya. Menjadi guru adalah kebanggan. Bapak dan ibu sampai mengundang tetangga makan di rumah waktu ia lulus sekolah keguruan. Hingga ibu menjahitkan seragam pertamanya ketika pergi mengajar.

Kini seragam itu lusuh, bersemayam ditemani baju-baju serupa lainnya. Tumpukan buku pelajaran, buku silabus, buku absensi menumpuk di gudang. Sudah menguning atau bahkan hancur sisa remah-remah dimakan rayap.

Santi menandaskan hidangan teh sorenya tak bersisa. Lalu menaruh cangkir kotor di dalam bak pencucian dan kembali merenung. Menatap bocah-bocah tadi yang kini dijewer orangtuanya karena bermain kotor-kotoran. Santi terkekeh, lalu mengelus tirai jendela seolah-olah ia mengelus kepala bocah-bocah tadi yang berlumuran tanah dan air.

Begitu terus, Santi hanya melihat dunia luar dari balik tirai putih ini. Sudah lama ia tak berjalan atau sekedar menikmati angina sore di luar. Kepalanya sudah tak sanggup menanggung obrolan di luar sana. Ibu-ibu berdaster yang suka duduk berkumpul di rumah paling ujung sana. Menatapnya tak henti, Santi seakan siap bila malaikat menjemputnya sekarang. Santi tergugu, meanagisi sesak di kepalanya.

***

Santi menggores kapur membentuk tulisan halus bersambung di papan tulis. Ia teringat Ujang, sudah lama ia tidak mendengar dengkurnya. Biasanya Ujang suka menaruh uang keperluan Santi di atas televisi. Tak jelas jumlahnya, Santi sudah lama lupa cara berhitung pasti seperti itu. Atau sesekali menyetok bahan kebutuhan yang akan dikelola Mbak Putri, asisten rumah tangga mereka yang datang tiga kali seminggu.

Rumah ini hanya berputar tentang pilu Santi. Suara televisi pun hanya sesekali terdengar. Selebihnya peralatan mengajar Santi yang teronggok di tengah ruangan dan sesekali dibersihkan Mbak Putri.

Ujang pernah pulang sore hari, diantar kawan perempuan atau lelakinya memakai mobil yang berbeda. Santi malas bertanya dan Ujang tak pernah menjelaskan. Hanya kesunyian di antara mereka. Sesekali Ujang menemaninya menikmati teh sore. Tapi sebentar saja karena Santi lebih banyak diam dan termenung. Sibuk dengan labirin di kepalanya saja. Begitu terus.

***

Hari ini Santi melihat anak-anak itu heboh berdebat pelajaran sekolah mereka. Suara nyaring mereka menembus kaca dan tirai putih penutupnya. Entah keberanian dari mana Santi bergegas berlari membuka pintu rumah dan melompat mendekati mereka. Anak-anak itu tidak terlalu peduli sampai Santi memegang tangan salah satunya.

“Tante kenapa?” salah seorang dari anak-anak itu memandang Santi penuh keraguan, diikuti oleh yang lain.

“Ayo kita main sekolah-sekolahan,” kata itu tiba-tiba meloncat dari mulut Santi. Sejenak anak-anak itu terdiam dan berpandangan satu sama lain. Hingga mereka sepakat mengekor di belakang Santi masuk ke rumahnya. 

Sebenarnya anak-anak itu sering menunjuk-nunjuk jendela rumah Santi. Banyak sekali kursi-kursi kecil warna-warni, buku gambar, hingga pensil warna tersusun rapi di sampingnya. Mereka dibuat penasaran. Tapi selalu disentak oleh orang tua yang bilang kalau Santi, perempuan tengah sakit jiwa. Jangan didekati!

Santi membiarkan anak-anak itu menikmati ruang tengahnya. Menyentuh papan tulis yang biasanyanya bisa membuat ia histeris kini ia abaikan. Santi tersenyum sambil menyeruput teh sorenya. Kemudian beralih ke sofa di depan televisi untuk melihat anak-anak itu. Ia merasa damai sekali. 

“Berani-beraninya perempuan gila membawa anakku!” Tiba-tiba seorang ibu berteriak histeris. Menendang kursi kecil yang di pojok. Anak-anak yang tengah asyik itu berhamburan, berkerumun di balik pintu. Santi yang baru terpejam gelagapan. Kata-kata kembali hanya hinggap di tenggorokannya saja.

Ibu yang tadi berteriak mengundang banyak tetangga untuk mengintip dari luar. Disusul ibu-ibu yang lain menarik bahkan menyeret anak-anak mereka pulang. Tinggal Santi yang terduduk di lantai dengan bisikan-bisikan tetangga.

“Dasar guru gila!” 

Seseorang meneriakinya dari kejauhn dan seperti bom waktu, Santi berteriak sejadi-jadinya. Hingga urat-uratnya menegang, mengucurkan peluh, dan Santi rebah tak tahu mati atau pingsan.

***

Ketidakadilan memang mampu merusak hidup seseorang hingga ke titik terendah sekalipun. Santi tak sengaja membentak keras salah seorang murid laki-lakinya yang dengan berani menarik rok dan celana dalam teman perempuannya.

Di dalam hatinya Santi marah dan kesal tapi tak sampai hati bermain tangan. Rupanya sang anak mengadu yang aneh-aneh kepada bapaknya, kepala kampung yang tak pandai berkepala dingin itu. Semua orang mengutuk Santi, sekalipun Ujang memandang rendah Santi yang selama ini dikenal guru teladan nan baik hati. Karier Santi tamat. Kebanggaannya hilang. Hidupnya sudah lama mati. Perkara anak yang tak jujur.


*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: http://media.viva.co.id/
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ibu Guru Santi Rating: 5 Reviewed By: mindis.id