Latest News
Friday, December 2, 2016

Gali Lubang-Tutup Lubang Kebijakan untuk Kemacetan Jakarta

Baca Juga

macet jakarta

Berbicara mengenai kemacetan, terlebih untuk kota seperti Jakarta yang super sibuk dan padat, memang tidak pernah ada habisnya. Saya yang seorang perantau datang ke ibu kota, ternyata macet yang disuguhkan di layar kaca dengan keadaan mobil berbaris panjang dan diam di tempat itu bukanlah ilusi tayangan saja. Benar-benar ada.

Berbagai kebijakan dilakukan, tidak untuk menghilangkan kemacetan ibu kota, cukup untuk menguranginya saja, tapi ternyata selalu ada celah yang menggagalkannya. Ada kebijakan three in one (3 in 1) namanya, kebijakan dari mantan Gubernur Jakarta, Sutiyoso, membatasi mobil pribadi yang lewat di kawasan tertentu atau dikenal dengan istilah “Kawasan Pembatasan Penumpang”. Di mana hanya mobil pribadi yang berpenumpang tiga orang atau lebih yang boleh lewat.

Akan tetapi, akhirnya kebijakan ini dihapus pada Mei 2016 karena merembat ke sektor-sektor lain, seperti sosial dan ekonomi. Masyarakat Indonesia sangat jeli terhadap peluang bisnis apa pun. Seiring berjalannya program ini, bermunculanlah “joki 3 in 1” yang akan memandu penumpang hingga melewati “Kawasan Pembatas Penumpang” dengan tarif tertentu.

Seperti sumber uang, joki biasa kemudian kalah saing dengan “joki 3 in 1 plus plus” yang tidak hanya memandu penumpang hingga lewat wilayah tersebut, namun juga “melayani” penumpang hingga hotel-hotel atau tempat persinggahan. Mirisnya, joki “plus plus” ini kebanyakan masih berusia belia, sekitar 1820 tahun.

Lalu bergantilah kebijakan 3 in 1 dengan sistem “Ganjil Genap” yang mulai diberlakukan pada 30 Agustus 2016. Kendaraan dengan plat nomor ganjil beroperasi di tanggal ganjil dan nomor genap beroperasi di tanggal genap. Kecuali bagi sepeda motor, mobil aparatur pemerintah, mobil angkutan umum, dan sebagainya.

Sebenarnya kebijakan seperti ini sudah lebih dulu diberlakukan di beberapa negara, seperti di Kolombia, tepatnya di Bogota. Program yang diberi nama “Pico y Placa” memiliki sistem yang lebih kompleks. Penunggang kebijakannya sampai mengacak digit terakhir plat nomor setiap tahunnya agar tidak ada yang berbuat curang.

Tapi ya, sekali lagi, mengembangkan sistem untuk mengurangi kemacetan Jakarta ini seperti gali lubang, tutup lubang. Ada saja cara untuk mengelak atau mengakalinya. Mungkin ini hanya masalah kesadaran dan tanggung jawab. Jangan mengeluh tentang kemacetan jika jumlah pengguna kendaraan roda empat atau roda dua tumbuh subur setiap harinya bak padi baru disiram pupuk.

Alih-alih bermimpi memiliki kota tertib dan asri, menggunakan sepeda, dan keramahn bagi pejalan kaki, lama-kelamaan mungkin saja ruas jalan diperlebar hingga tempat bagi pejalan kaki hanya tinggal “sepucuk dua pucuk”. Sekali lagi, ini hanya perihal kesadaran saja.


*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: uniqpost.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Gali Lubang-Tutup Lubang Kebijakan untuk Kemacetan Jakarta Rating: 5 Reviewed By: mindis.id