mindis.id
Latest News
Tuesday, December 13, 2016

Dialog dari Sisi Jendela

Baca Juga


Suatu hari menjelang sore.

Aku duduk termangu di dekat jendela perpustakaan. Sunyi dan tenang. Ruangan ini tersekat-sekat oleh rak menjulang tinggi dan aku berada di sudut ruangan untuk mencari kenyamananku sendiri. Suasana yang memungkinkan untukku membaca buku mencari literasi dan menyelesaikan tugas yang tertunda.

Hanya aku, rak buku, dan kaca jendela di hadapanku.

Tugasku belum selesai tetapi aku memutuskan untuk menghentikannya sejenak ketika menyadari ada seseorang yang menghampiriku. “Boleh aku duduk di sini?” tanyanya. Aku mengangguk.

Kami duduk berhadapan, aku menghentikan kegiatanku membaca buku dan memperhatikan sosoknya, “ada yang bisa kubantu?” tanyaku.

“Ya, kuharap kau bisa membantuku,” ujarnya.

Tanpa sadar aku menahan napas sejenak. Perhatianku tak lepas dari sosoknya yang terlihat tenang namun membuatku bertanya-tanya. Siapa dia? Apa yang ingin dilakukannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku bisa membantunya?

Ada jeda singkat di antara kami. “Akhir-akhir ini aku merasa terganggu,” ia memejamkan matanya. Aku masih menunggu kelanjutan ucapannya. Ia menghela napas kemudian kembali menatapku. “Dengan keberadaanku sendiri,” ujarnya melanjutkan.

“Maaf?” Aku mengerutkan dahi, kupikir aku telah salah mendengar ucapannya. 

“Kuharap kau bisa menyelesaikan permasalahanku.” 

Ia tidak mengulangi perkataannya, itu artinya tidak ada yang perlu dikoreksi dari ucapannya sebelum ini.

Aku berdehem, “Kau tahu kan, aku bukan mahasiswa Psikologi. Kurasa aku tidak bisa memberi saran untukmu, apalagi menyelesaikan masalahmu,” ucapku.

“Ya, aku tahu.”

“Lantas kenapa kau menemuiku, memintaku untuk dapat menyelesaikan masalahmu?”

“Entahlah, kurasa kau adalah orang yang tepat untukku berbagi cerita.”

Aku tertawa rendah, “Bagaimana dengan teman dekat? Sahabat? Pacar? Atau orang tuamu, mungkin? Kenapa tidak kau coba berbagi pada mereka?” tanyaku.

“Aku tidak bisa.”

Dialog ini sedikit menbuatku waswas, tatapannya yang seolah mengintimidasiku membuatku tak dapat berpaling darinya barang sejenak. Aku hanya berusaha menjadi lawan bicara yang baik dan bijak. Selagi ia berpendapat bahwa aku orang yang tepat, aku akan mencoba untuk mendengarkan serta membantunya, itupun kalau bisa.

“Baiklah, sekarang ceritakan padaku.”

 “Aku hanya berpikir, apakah arti dari keberadaanku saat ini? Kenapa aku ada di sini? Siapa yang menginginkanku ada di sini? Untuk apa aku ada di sini? Dan siapa aku sebenarnya?” Ia menghela napas. “Aku merasa asing, dan selalu terasingkan dari duniaku sendiri.”

Aku memejamkan mata, mencerna baik-baik perkataanya.

“Aku merasa bahwa aku bukanlah diriku, aku melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak kuinginkan.”

Aku kembali menatapnya, dan yang kudapatkan sekarang hanya sorot matanya yang kosong. Ia diam, aku pun demikian. Aku menunggunya untuk melanjutkan, tapi kurasa ia tidak berniat melanjutkan sebelum aku memberikan gagasanku.

“Apa yang kau rasakan saat ini?” tanyaku pada akhirnya.

“Sendiri, khawatir… Aku merasa berada dalam sebuah kotak yang membatasiku.”

“Apa yang ingin kau lakukan?”

“Entahlah, ada banyak hal. Tapi aku tidak bisa melakukannya.”

Aku merogoh tas dan mengeluarkan buku sketsa serta pensil. “Coba kau gambarkan pohon dan orang di sini,” kataku sambil memberikan buku sketsa serta pensilku padanya.

“Apakah ini semacam tes psikologis?” ia bertanya.

“Ya, kurasa begitu.”

“Kau bilang, kau bukanlah mahasiswa Jurusan Psikologi, bagaimana kau bisa menilai?” tanyanya.

“Sudah, lakukan saja. Aku akan mencari literatur mengenai itu,” jawabku sambil lalu.

Selagi ia kuberikan waktu untuk menggambar apa yang kukatakan tadi, aku memutuskan untuk mencari informasi mengenai tes psikologi gambar yang kudapat sewaktu SMA dulu.

Ada beberapa hal penting yang menjadi acuan tes psikologi gambar ini. Pohon dan orang. bagaimana seseorang menggambarkan pohon, apakah tinggi, rendah, berada di sisi kanan atau kiri, berdaun rimbun atau tidak, memiliki batang yang besar atau tidak, dan sebagainya. Serta bagaimana seseorang menggambarkan orang di dalamnya, apakah orang yang digambarkan berada di sisi kanan atau kiri pohon, apakah sama tinggi dengan pohon, apakah orang yang digambarkan adalah perempuan atau laki-laki, dan sebagainya. Banyak penjelasan dari tiap detailnya.

“Ini.” 

Aku menatapnya, ia telah menyelesaikan gambarnya, aku berhenti membaca literatur dan melihat apa yang dikerjakannya.

Gambar sosok perempuan, berambut panjang dan menghadap ke belakang. Kedua tangannya terangkat ke atas seperti batang pohong yang bercabang, lengkap dengan daun-daun di puncaknya. Bentuk tubuhnya tertutupi rambut yang tergerai, tetapi bagian bawahnya bukanlah kaki, melainkan akar yang menjalar.

Sejenak aku merasa takut, entahlah. yang kulihat bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan lewat buku. Aku menilai ini sebagai bentuk penolakan darinya. Ia menolak orang lain untuk dapat menilai dirinya.

“Kenapa kau menggambar ini?” tanyaku.

“Karena kau yang menyuruhku,” jawabnya enteng.

“Kau tahu aku melakukannya untuk mengetesmu, kan?”

“Ya, jelas. Kau mengatakannya sebelum ini.”

“Lantas apa maksud dari gambar ini?” 

“Kau yang menilaiku, bukannya begitu?”

“Ini omong kosong, aku menilai ini sebagai bentuk penolakan darimu.”

Aku menatapnya, ia menatapku tak kalah intens. Hening sejenak sebelum ia akhirnya berkata. 

“Ya, kau benar. Aku menolak orang lain menilai diriku.” Ia menghela napas dan memejamkan matanya. “Aku menolak orang lain menilai diriku hanya terbatas pada parameter-parameter yang ada.”

Semuanya terasa berjalan lambat, setiap kata-katanya terekam jelas oleh pendengaranku. Kalimat terakhirnya seolah menjadi mantra yang membuatku tercengang sepersekian menit. Anehnya, kata-kata itu terus berulang dalam pikiranku.

Bagaimana aku bisa menilai seseorang dengan parameter-parameter tertentu? Padahal sangat banyak hal yang bisa dijadikan acuan, bagaimana aku bisa menilai seseorang dari hal yang belum dan atau terkondisikan keadaanya? Bagaimana aku bisa menilai seseorang hanya dari sudut pandang diriku, padahal keberadaan orang itu tentu ada di antara orang-orang lainnya yang memiliki sudut pandangnya juga.

“Baiklah, jika kau membutuhkan gagasanku terkait apa yang menjadi permasalahanmu, ini hanya dari sudut pandangku. Oke?”

Ia mengangguk dan mendengarkan.

“Ketika kau bertanya siapa kau sebenarnya, jawabannya adalah kau. Kau adalah dirimu sendiri, yang mencoba untuk menutup diri. Kau adalah kau dengan pemikiranmu sendiri, kau adalah kau yang perlahan membangun duniamu sendiri, kau adalah kau yang besembunyi. Itulah kenapa kau mempermasalahkan keberadaanmu, karena kau ada untuk dirimu sendiri. Itulah mengapa kau merasa bahwa kau tengah berada dalam sebuah kotak, sendiri dan khawatir. Kau khawatir untuk melihat dunia luar, khawatir karena merasa asing dan terasingkan, padahal kau sendiri yang membuat itu tertuju padamu, kau mengasingkan dirimu sendiri.”

Hening sejenak

“Kau merasa bahwa kau bukanlah dirimu sendiri? Itu berarti kau tengah merasa jenuh atas apa yang selama ini kau lakukan. Banyak hal yang ingin kau lakukan, bukan tidak bisa, hanya saja kau tidak ingin mencobanya!”

Aku menatap matanya. “Karena itulah, lakukan sesuatu yang membuatmu menjadi dirimu sendiri, lakukan sesuatu bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk orang lain, dengan begitu keberadaanmu akan lebih bermakna. Lihatlah sekitarmu, keluarlah dari dalam kotak itu. Sapa mereka, berjalanlah bersama mereka. Karena sejatinya kita berada di sini, saat ini adalah anugerah dari Tuhan yang tak terelakan. Di mana tugas kita adalah membangun jalan yang terbaik untuk kembali kepada-Nya. Jangan sia-siakan hidupmu hanya diam untuk menunggu, banyak hal yang bisa kau lakukan selagi menunggu.”

“Baiklah.” 

Ia menghela napas dalam.

“Berjanjilah padaku,” kataku sambil mengacungkan jari kelingkingku di hadapannya. “Jadilah orang yang bermanfaat dan menebar kebahagiaan pada orang lain. Hidupmu bukan hanya milikmu, tapi juga milik orang yang mengasihimu, orang yang berharga bagimu.”

Kulihat ia mengagguk singkat, lemah namun kuyakin penuh kepastian. Aku tersenyum, dan ia juga tersenyum padaku.

“Oh iya, mengenai kenapa aku memilihmu untuk membagi ceritaku, karena....“

“Hey!” 

Aku tersentak dan menoleh pada orang yang dengan lancang mengagetkanku. 

“Ada apa?” kataaku sambil menoleh pada sosok yang hadir dari sisi rak buku belakang tubuhku.

“Sudah jam enam sore, perpustakaan akan tutup,” ujarnya.

“Baiklah,” kataku sambil menghela napas dalam.

Penjaga perpustakaan kadang terlihat menyebalkan, tapi aku sudah biasa mendengar ocehannya. Aku merapikan buku dan perlengkapanku yang berserakan di meja seraya meliriknya singkat.

Hmm, tadi aku berbicara dengan siapa?” tanyaku.

Aku duduk termangu di dekat jendela perpustakaan. Sunyi dan tenang. Ruangan ini tersekat-sekat oleh rak menjulang tinggi. Aku berada di sudut ruangan untuk mencari kenyamananku sendiri. Suasana yang memungkinkan untukku membaca buku, mencari literasi dan menyelesaikan tugas yang tertunda.

Hanya aku, rak buku, dan kaca jendela di hadapanku.


Eka Melinda 
Belajar untuk menulis dan menulis untuk belajar hal baru. 
Bukan mahasiswi Jurusan Sastra.

Sumber gambar: exofanfictionindonesia.wordpress.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Dialog dari Sisi Jendela Rating: 5 Reviewed By: mindis.id