mindis.id
Latest News
Thursday, December 29, 2016

Dendam dan Ketakberhargaan Nyawa

Baca Juga

dendam

Harga nyawa memang tak bisa diukur dengan apa pun tetapi bisa dilenyapkan dengan alasan dan beragam cara. Bisa jadi memelihara dan memupuk dendam ibarat memelihara bom waktu—sewaktu-waktu akan meledak. Maka tak heran jika psikolog berpendapat bahwa dendam adalah titik mula dari beragam jenis penyakit, dari stres hingga hipertensi. Namun dendam tetaplah dendam, tetap akan diwujudkan.

Agaknya di Indonesia, dendam orang-orang tertentu memang harus beradu nyawa. Belum tewas berarti dendam belum tuntas. Tak sedikit kasus yang membunuh hingga menganiaya korban secara sadis karena dendam yang disemai. Hingga kasus yang sedang marak di berbagai pemberitaan hari ini, diusut penyebabnya bisa juga karena dendam, walaupun penyelesaiannya belum tuntas oleh pihak terkait.

Menurut beberapa psikolog dunia, dominan dendam muncul dari perasaan cemas yang merambat ke mana-mana hingga menimbulkan rasa tidak percaya diri yang mendongkrak emosional untuk menjatuhkan orang lain yang dianggap sebagai sumber kecemasan. Maka tak heran jika dendam harus jatuh-menjatuhkan atau bunuh-bunuhan karena rasa cemas atau mungkin tidak percaya diri tadi.

Tapi bagaimana dendam akibat masa lalu yang dulunya pernah mengalami masa-masa sulit akibat ulah seseorang? Memang, batasan dendam ini tak bisa diukur dan tak bisa diketahui kenapa sebenarnya. Bukan berarti kita tidak boleh merasa marah atau sakit hati karena dua sikap tersebut akan muncul secara alami di dalam diri. Namun, saat ego yang tersentuh perasaan dan kemudian disimpan, itulah yang akhirnya berujung dendam.

Lagi-lagi ini perasaan moral yang harusnya sudah dipupuk sedari kecil. Dendam terhadap kebaikan atau kemajuan seseorang bisa jadi menjadi energi positif untuk menjadi lebih baik lagi, namun dendam yang dipelihara karena rasa percaya diri dan menganggap orang lain tak setara adalah dendam yang akan meledak sewaktu-waktu. Barangkali, pelaku penganiayaan atau pembunuhan tanpa sebab itu lupa bahwa sesuatu terjadi berulang dengan kadar yang setimpal.


*Miftahur RahmiMahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: beritaunik.net
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Dendam dan Ketakberhargaan Nyawa Rating: 5 Reviewed By: mindis.id