Latest News
Thursday, December 1, 2016

Brunch, Gaya "Bule" yang Masuk ke Indonesia

Baca Juga

brunch

Orang “bule” sana mengenal istilah brunch, yang merupakan gabungan dari kata breakfast (sarapan pagi) dan lunch (makan siang). Kata ini pertama kali muncul di Inggris pada 1896 dan dipopulerkan oleh majalah Hunter‘s Weekly.

Brunch adalah aktivitas menyingkat waktu sarapan dan makan siang sekaligus dalam satu waktu. Umumnya dilakukan mulai pukul 10.00 hingga 15.00. Aktivitas ini sedang naik daun dilakukan di hari libur, saat hang out, ataupun hari kerja biasa. Berbagai restoran bahkan berlomba-lomba menawarkan paket brunch, dari hidangan lokal hingga ala western.

Gaya hidup ini memang berasal dari kultur penduduk luar negeri yang memanfaatkannya untuk menambah energi dan bersosialisasi. Adaptasi budaya ini terlihat dengan kehadiran gerai makan semacam The Coffe Bean & The Leaf.

Di Indonesia, sarapan seperti tradisi yang sudah mendarah daging. Walau hanya dengan mengonsumsi sepotong lontong dan segelas teh manis hangat. Beberapa waktu lalu saya sempat tergelitik dengan postingan seorang teman di media sosial. Bukan kali ini saja, ia terbilang cukup sering update dengan captionMenu Brunch hari ini…” beserta foto. Hampir setiap minggu ada.

Seperti biasa, masyarakat kita sering tersentak bila mendengar istilah yang ada sangkut-pautnya dengan “bule” di dalamnya. Benar tidak? Hanya saja, ini mungkin memang sudah eranya, kultur asing mulai terbiasa bagi sebagian orang.

Hanya perlu diluruskan saja bahwa brunch bagi orang-orang di luar sana merupakan salah satu bentuk menjalin relasi bisnis. Begitu juga mungkin dengan perusahaan-perusahaan berkala internasional di Indonesia mulai lazim dengan hal tersebut.

Akan tetapi bagi kita yang biasa saja, sebenarnya lebih baik mana, brunch atau sarapan? Brunch, boleh dibilang kurang cocok dengan lifestyle kita. Waktu yang tepat untuk sarapan adalah sebelum pukul 09.00 pagi. Sarapan bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi, kewaspadaan, dan persediaan energi yang cukup.

Selain itu, menurut studi di American Journal of Clinical Nutrision, ketika melewatkan sarapan berarti meningkatkan risiko diabetes tipe 2 sebesar 20% karena kadar kolesterol dan tingkat sensitivitas insulin yang buruk.

Tawaran paket hemat brunch yang ditawarkan berbagai kafe memang menggiurkan. Apalagi ketika dipakai untuk update di media sosial, terlihat keren. Akan tetapi, tak selamanya brunch adalah solusi untuk lifestyle yang sehat. Apalagi hanya untuk sekadar visualisasi di dunia maya. Lha, sampai urusan perut pun harus dipertaruhkan?

*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

sumber gambar: brunch.london
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Brunch, Gaya "Bule" yang Masuk ke Indonesia Rating: 5 Reviewed By: mindis.id