mindis.id
Latest News
Monday, December 12, 2016

Balada Harbolnas dan Perilaku Konsumtif

Baca Juga



Berkembangnya cara dan budaya hidup masyarakat bisa jadi menimbulkan berbagai hal baru. Salah satunya daya konsumsi mayarakat yang kian hari kian meningkat. Tak serupa membeli sesuatu karena butuh tetapi lebih karena ingin.

Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2016 yang diselenggerakan lebih dari 200 e-commerce di Indonesia akan mulai pada tanggal 12 Desember. Banyak di antara kita mungkin yang sudah melihat berbagai iklan atau promo belanja bersileweran di media sosial. Betapa masyarakat kita tak pernah diam dengan hal-hal yang berbau potongan harga.

Tetapi di lain sisi, Harbolnas seperti lahan bagi baru perkembangan industri online di Indonesia. Banyak pengangguran atau ibu rumah tangga mungkin kini beralih ke industri rumahan yang dipasarkan secara online. Seperti hal apa pun, semuanya selalu menampakkan dua sisi.

Konsumtif atau keinginan berlebih terhadap suatu barang atau benda memang seperti sudah mendarah daging. Seiring era milenial menawarkan berbagai keramahan di depan mata, agenda belanja-belanja seperti bisa dilakukan kapan dan dimana saja. 

Di balik itu, tak sedikit peristiwa betapa buruknya sikap konsumtif ini. Sebelumnya ada beberapa kasus yang berdampak dengan sifat konsumtif. Ada kalanya berbelanja hingga menelan korban jiwa karena terpengaruh diskon yang ditawarkan. Atau kasus penipuan berbelanja online yang tidak sedikit. Lagi-lagi karena tergiur harga.

Melihat itu semua, Saya pribadi kadang juga terpatok kepada harga bukan kepada barang. Nilai suatu barang tidak lagi dilihat dari manfaatnya melainkan dari nilainya. Hal seperti ini, tentu memicu para pebisnis untuk menikmati “lahan” yang ada.

Perilaku konsumtif seperti bagian penunjang kegiatan berkembangnya berbagai tradisi berbelanja di Indoensia. Berbagai merek baru dan pusat perbelanjaan terus tumbuh tiada henti. Tidak akan berhenti karena masyarakat akan selalu menuntut keinginannya terpenuhi.

Tidak ada yang salah dengan Harbolnas dan segala diskon-diskonnya. Akan tetapi, perilaku konsumtif memang tidak pernah dianjurkan. Rasa tercukupi dan mencukupi adalah hal penting yang mulai ditinggalkan.

Perilaku konsumtif sanagat dekat dengan keborosan. Pegeluaran menjadi tidak seimbang dengan pemasukan sehingga segala pentuk ketimpangan sosial ekonomi terus bertambah. Kaya akan bertambah kaya sedangkan melarat tetap melarat. Kadang kita suka memaksakan diri menjadi mampu untuk memiliki sesuatu padahal memperolehnya ,jauh panggang dari api, sangat susah.

Banyak di luar sana, anak meminta ini-itu kepada orangtua tanpa paham bagaimana harus memperoleh uang untuk membelinya. Pasar hanya menunjukkan keunggulan dan kelebihan suatu barang tapi tidak dengan bagaimana usaha untuk memperolehnya. Diskon dan potongan harga memang membutakan, tetapi nilailah suatu barang karena kepentingannya bukan karena menyoal harga miring yang tertera.

*Miftahur Rahmi 
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta 

Sumber Gambar : http://www.teknologi.co/


  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Balada Harbolnas dan Perilaku Konsumtif Rating: 5 Reviewed By: mindis.id