mindis.id
Latest News
Saturday, November 19, 2016

Masih untuk Jay

Baca Juga

kekasih

Hai, Jay, gantengku! Semenjak kamu menghilang, nafsu makanku menjadi berkurang. Pikiranku selalu dipenuhi oleh bayangan wajahmu. Hari ini tepat dua tahun hubungan kita. Apakah kamu masih mengingatnya?  

Sedih? Tentu. Aku merasakannya. Tiada hari tanpa memikirknmu dan rasa-rasanya aku ingin mengulang waktu yang kita lalui bersama. Sontak teringat peristiwa dua tahun lalu, pertemuan pertama kita.

Aku dipaksa ayah untuk ikut ke kantornya karena salah seorang rekannya mengadakan pesta pernikahan. Rencananya, kami akan berangkat dari kantor setelah jam kerja selesai. Hari mulai sore dan beberapa rekan ayah masih harus menyelesaikan perkejannya. Ih, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang saja.

“Ayah, mau berangkat jam berapa?” tanyaku. 

“Sebentar lagi. Sabar ya, Neng,” kata Ayah, “masih ada kawan-kawan yang belum selesai pekerjaannya.” Mendengar jawaban Ayah, aku merengut menahan bosan.

Selang beberapa beberapa waktu, kami bergegas berangkat menuju lokasi pesta karena sudah sangat sore. Aku yang dari tadi hanya diam di dalam mobil tiba-tiba diajak mengobrol oleh salah seorang rekan ayah. Namanya Jay. Pertama kali membuka obrolan dengannya, aku terkesan oleh pembawaannya yang asyik. Seolah perasaanku menjadi berbunga-bunga pada saat itu.

Sesampainya di lokasi, Aku dan Jay masih terlibat obrolan. Jay duduk di sebelahku dan kita menikmati hidangan bersama. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.45, aku dan ayah pamit pulang terlebih dahulu menggunakan taksi karena lokasi pesta terbilang jauh dari tempat tinggalku. Padahal jauh di dalam lubuk hati, aku masih ingin bersama Jay. Ah, sudahlah.

Setelah pertemuan tidak sengaja waktu itu, aku sering memikirkan Jay. “Ih, apaan sih, Na. Ini cuma perasaan sesaat aja,” dalam hati aku berbisik.

Aku jadi sering bertanya tentang Jay kepada ayah. Awalnya ayah sempat heran kenapa aku selalu bertanya tentang Jay tetapi lama-kelamaan ayah pasrah saja ketika aku mulai cerewet bertanya dan menjawab pertanyaanku sekenanya. 

Oh iya, ketika aku datang ke kantor ayah waktu itu, banyak rekan-rekan ayah yang meminta ID media sosial yang aku punya. Hanya Jay yang diam dan tidak bertanya apa pun tentang diriku. Tiba-tiba aku menjadi sangat penasaran terhadap Jay. 

Beberapa dari rekan ayah sudah ada yang meng-add Facebook dan BBM-ku. Hari-hari berlalu, pertemuan singkat dengan Jay ternyata mulai memudar di dalam ingatanku. Namun ketika aku mulai terbiasa tidak memikirkan Jay, telepon genggamku berbunyi. Menandakan sebuah pemberitahuan baru yang masuk. Ternyata itu adalah Jay! Ia menambahkan aku di dalam daftar teman Facebook-nya. Seketika aku meloncat kegirangan. Kembali Jay hadir untukku.

Ternyata kesenangan itu hanya berlangsung sesaat saja. Jay sudah memiliki seorang kekasih. Banyak foto mesranya yang aku lihat di halaman Facebook. Sebal!

***

Hari ini aku mendapat panggilan kerja di salah satu perusaahan yang ada di Jakarta. “Ingat, Na, jangan memikirkan Jay lagi!” Aku mewanti-wanti diriku sendiri sebelum pergi. Hari ini aku harus fokus dengan proses interview.

Beberapa jam berlalu setelah interview, telepon genggamku berbunyi. Aku mengeceknya. Ternyata Jay. Ia mengirim pesan di halaman Facebook-ku. Perasaan senang kembali menyeruak di dalam dadaku. Seperti kembang api tahun baru. Meledak-ledak.

Mulai detik itu, Jay selalu mengirim pesan dengan kata-kata lembut dan penuh perhatian. Ia mengirimkan nomor telepon genggamnya agar komunikasi ini tidak terbatas di dunia maya saja. Padahal aku sudah mulai bekerja di kantor namun keinginan untuk di samping Jay terus menggebu. Aku jadi sering bertanya kepada Jay tentang lowongan pekerjaan di kantornya. Akhirnya informasi yang kutunggu datang, Jay mengabarkan bahwa kantornya sedang membutuhkan karyawan baru. Senang sekali rasanya. 

Ayah kaget ketika tiba-tiba saja aku berada di lobi kantor. "Neng, kamu mau ngapain disini?" tanya ayah dengan raut bingungnya.

"Aku ada panggilan kerja, Yah."

"Setahu Ayah, di sini lagi penuh deh. Nggak ada lowongan pekerjaan,” ucap ayah semakin bingung. “Ah, sudahlah,” kata ayah kemudian sambil berlalu begitu saja dari hadapanku.

Tidak tahu harus berkata apa untuk hari ini, setelah interview, aku langsung diterima bekerja di kantor ini. Mungkin karena ayah juga bekerja di sini.

Hari-hariku menjadi semarak kembali. Tentunya, setelah aku bisa melihat Jay hampir setiap hari. Kami, aku dan Jay, jadi sering pergi jalan berdua. Sesekali Jay mengajakku makan malam yang menurutku romantis sekali

Tetap saja kesenanganku hanya sebatas ini. Jay sudah memiliki kekasih yang semakin hari membuat perasaanku berantakan. Kadang perasaan bersalah menyerbuku walaupun akhirnya Jay lebih memilih aku. 

Masalah demi masalah menghampiri hubungan kami yang pada awalnya baik-baik saja. Rasanya aku ingin berlari menjauh dari kehidupan Jay. Tapi tidak mungkin, kami sudah bertunangan. Meskipun ujungnya hubungan kami menjadi hancur lebur dimakan waktu.

Rasanya aku mau pergi jauh untuk meninggalkan Jay. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Hubungan kami sudah terlalu jauh. Saat ini kami sudah bertunangan. Akan tetapi hubungan tetap saja tidak bisa dipaksakan. Beberapa hal membuat kami akhirnya harus berpisah. Salah satunya karena tekanan dari orang tua Jay yang selalu menuntut banyak hal. Salah satunya, mereka berharap aku memiliki pendidikan yang setara dengan Jay, S-2. Padahal aku baru saja lulus S-1 beberapa bulan yang lalu. 

Orang tua Jay yang kaya itu semakin menjadi-jadi dalam membuat persyaratan. Perlahan aku berjalan mundur. Mengakhiri semuanya dengan Jay. Bukan berarti aku tidak mencintai Jay. Aku berasal dari keluarga sederhana dan baru memulai karierku. Tidak ingin dipaksa dan diatur, seperti orang tua Jay lakukan padaku. Aku menjauh dari Jay dan menerima tawaran mutasi dari kantor. 

Saat ini aku sudah berada di Kalimantan sedangkan Jay masih di Jakarta. Aku harus melakukan semua ini demi kehidupan kami. Aku tidak ingin bertengkar terus dengan Jay atau pun orang tuanya.

Aku harus merelakan yang semestinya direlakan. Aku sadar apa pun yang dipaksakan tidak akan  dapat berjalan dengan baik. Selalu ada masalah yang hadir di tengah hubungan kami.

Maafkan aku Jay, aku harus pergi meninggalkanmu. Walaupun hati ini tidak rela, aku masih mencintaimu dari kejauhan.

Salam sayang. 
Naluri, mantan kekasihmu.


Novellia Narulita
19/10/16
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Masih untuk Jay Rating: 5 Reviewed By: mindis.id