Latest News
Wednesday, November 30, 2016

Manneqiun Challenge; Eksistensi Diri?

Baca Juga

eksistensi diri

Media sosial memang tidak pernah luput dari fenomena-fenomena baru yang terus bermunculan. Meskipun tidak bertahan lama, kemunculannya tetap mencuri perhatian dari pengguna aktif dunia maya. Jumlah like dan vierwers seketika mem-bludak hingga menjadi obrolan di mana-mana. Tidak berapa lama, menyusut dan tergantikan dengan kehadiran yang baru.

Bagi penikmat tayangan Youtube, tentu tidak asing dengan kemunculan vlog (video blogging). Pemilik akun tak dikenal tiba-tiba menjadi tenar karena vlog-nya mencuri perhatian pengunjung. Entah karena memang bermutu dari segi isi, tampilan life goals yang kekinian bagi remaja, hingga sosok yang memang sudah terkenal sebelumnya. 

Terus berkembang, kreativitas muncul tanpa batas. Vlog kini dihiasi dengan kehadiran berbagai challenge. Sebut saja mannequin challenge, viral media sosial yang baru populer sejak 27 Oktober lalu. Penggugah pertamanya adalah sekelompok murid di Edward H White High School, Florida, Amerika Serikat. Tiba-tiba saja tantangan mematung layaknya manekin dilakukan oleh berbagai pihak. Mulai dari anak kecil usia tiga tahun, orang tua, karyawan biasa, hingga politikus sekaliber Hillary Clinton tidak ketinggalan melakukan challenge ini.

Mannequin challenge menjadi kehebohan baru di media sosial, setelah sebelumnya Samyang challenge, runningman challenge, PPAP, dub dance, dan lain-lain. Seperti nasib pendahulunya, fenomena ini juga tidak akan bertahan lama dan hanya menunggu waktu saja.

Tapi bolehkah saya menyebut kemunculan berbagai fenomena di media sosial ini sebagai eksistensi diri? Eksistensi diri di sini merujuk kepada usaha yang dilakukan untuk memperoleh pengakuan dari orang lain. Media sosial-lah yang membantu penggunanya untuk mendapatkan hal tersebut.

Contohnya, pemilik video blogging. Mungkin terselip harapan akan adanya jumlah like dan viewers yang banyak atau subscriber yang terus meningkat. Secara tidak langsung, pengunjung vlog akan memberikan pengakuan bagi pemilik akun tentang eksistensinya di media sosial. Dengan begitu, akan ada perasaan diterima di lingkungan sosial tanpa perlu berinteraksi secara langsung.

Saya tidak yakin, apakah hal tersebut merupakan dampak positif atau dampak negatif, tetapi setidaknya challenge-challenge yang terus bertebaran adalah kreativitas tanpa batas. Pengguna media sosial tidak akan pernah kehabisan ide untuk tetap eksis di dunia maya. Lalu, mari kita menunggu. Selanjutnya fenomena apalagi?
*Miftahur Rahmi
Mahasiswa Jurnalistik
Politeknik Negeri Jakarta

Sumber gambar: kompasiana.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Manneqiun Challenge; Eksistensi Diri? Rating: 5 Reviewed By: mindis.id