mindis.id
Latest News
Saturday, November 5, 2016

Jika Tuhan Mahakuasa, Perlukah Dibela?

Baca Juga

mikir

Baru setengah cangkir saya menikmati kopi di warung dekat rumah, tiba-tiba Bang Midun datang dan duduk di sebelah saya. Dia langsung menyalakan TV dan mengambil remote. Di warung ini, siapa pun memang bebas menyalakan dan menentukan apa yang akan ditontonnya. Terpenting, tidak ada protes dari pengunjung lain. Bang Midun beruntung, kali ini hanya saya satu-satunya pengunjung warung. Ia mesti tahu kalau saya tidak begitu tertarik menonton TV.

"Ngapain tuh orang mau-mauan panas-panas, teriak-teriak, ngabisin waktu, ngabisin tenaga buat ngebelain Tuhan? Tuhan kan mahakuasa, ngapain dibela? Emang mereka-mereka bisa apa? Biarin aja Tuhan yang bales kalau emang ada yang salah," kata Bang Madun ketika menonton berita laporan demo beberapa waktu lalu.

Saya tertarik dengan argumen Bang Midun ini. Saya langsung berhenti mengamati smartphone saya dan beralih ikut menonton berita bersama Bang Midun. Luar bisa, Kota Jakarta yang bisanya dipadati ribuan kendaraan, saat itu penuh oleh ribuan manusia. Ribuan manusia yang berarti ribuan kepala, ribuan kepala berarti ribuan pemikiran, dan dari ribuan pemikiran itu, mereka semua memiliki satu tujuan yang sama. Tujuan itulah yang menyatukan mereka. Seperti kata Bang Midun, "Membela Tuhan".

"Emang kalau mau ngebelain mesti yang lebih kuat dari yang dibela ya, Bang?" tanya saya kepada Bang Midun.

Bang Midun menatap saya. Kali ini pandangannya beralih kepada saya. Tak lagi mengamati berita di TV.

"Sekarang begini, Bang. Ada temen saya, dihajar orang kampung sebelah. Dia babak belur, ngadu ke saya, ya saya belain. Saya samperin tuh orang yang berani bikin bonyok temen saya. Saya berani ngebelain karena saya lebih kuat dari temen saya," kata Bang Midun dengan bangga.

Bang Midun memang preman kampung yang paling ditakuti. Hampir semua orang memilih untuk menghindar jika harus berhadapan dengannya. Salah-salah, bisa remuk tulang di badan, dihajar olehnya.

"Kalau menurut saya, membela itu suatu bentuk nyata kedekatan kita, kesetiaan kita, dan loyalitas kita kepada yang dibela. Apa pernah Abang membela orang yang nggak kenal atau nggak deket?" kata saya kemudian.

Bang Midun diam sejenak. Matanya mengawang ke atas. Bukan mencari cicak, tapi terlihat mencoba mengingat sesuatu. "Pernah," katanya kemudian. "Kalau orang itu benar, pasti saya bela," katanya melanjutkan.

"Kalau begitu, yang Abang bela kebenarannya, bukan orangnya? Ngapain kebenaran dibela kalau Abang aja tahu itu benar?" kata saya kembali bertanya.

Lagi-lagi Bang Midun diam. Selanjutnya, dia hanya tertawa sambil menepuk-nepuk pundak saya. Kemudian dia pun memesan kopi. Sepertinya kini dia mengerti ke mana jalan pikiran saya. Ya, esensi membela bukanlah siapa yang lebih kuat dari siapa. Tidak harus melulu soal berkorban jiwa dan raga.

Membela merupakan wujud loyalitas kita kepada apa yang kita bela. Jika kita memiliki kedekatan rasa, merasa terikat terhadap sesuatu, kita tentu akan membela "sesuatu" itu. Pada prinsipnya, seperti apa yang dikatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, membela berarti menjaga, merawat, dan memelihara.

Ada kata membela negara, artinya, kita menjaga agar negara yang kita cintai ini tidak jatuh ke tangan bangsa lain, tidak dilecehkan dan direndahkan oleh bangsa lain, juga memiliki citra yang baik di hadapan bangsa lain. Dalam hal ini, jelas harus ada dasar "cinta kepada negara" terlebih dahulu baru kemudian kita tergerak untuk membela negara kita. Jika tidak ada "cinta kepada negara" kita tidak akan pernah peduli negara ini akan jatuh ke tangan siapa, kita tidak akan menjaganya, merawatnya, dan memelihara keutuhannya. Kita akan bersikap apatis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan negara ini.

Bentuk membelanya pun beragam, bisa dengan menjaga nama baik negara, bisa dengan "merawat" budayanya, atau  bisa juga dengan memelihara peninggalannya. Membela tidak harus bersinggungan fisik. Membela bisa melalui pemikiran ataupun sikap dan pencitraan. 

Oleh karena itu, jika Tuhan Mahakuasa, perlukah untuk dibela? Sebelum menjawab pertanyaan ini, bertanyalah dulu kepada diri kita sendiri, "Adakah cinta kita kepada Tuhan?" 

Wallahua'lambissawab.

Nicky Rosadi
Penulis Secangkir Teh, Bidadari Pemeluk Subuh, dan Bahasa Indonesia Masa Kini
Dosen Universitas Budi Luhur Jakarta
Editor Bahasa Koran Sindo

Sumber gambar: Bintang.com
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

2 comments:

Item Reviewed: Jika Tuhan Mahakuasa, Perlukah Dibela? Rating: 5 Reviewed By: mindis.id