Latest News
Sunday, October 23, 2016

Mengkritisi Strategi Bisnis MLM

Baca Juga



beberapa tahun belakangan ini, beberapa perusahaa baik dalam negeri maupun luar negeri menggunakan strategi bisnis yang disebut dengan multi level marketing atau yang dikenal dengan sebutan MLM. Bisnis ini memang cukup menggiurkan jika melihat pelaku - pelakunya yang sudah sukses. Mulai dari hadiah mobil mewah yang diperoleh di usia muda, hingga liburan menggunakan kapal pesiar. 

Menurut hemat saya, strategi bisnis ini sangat efektif dan efisien bagi sebuah perusahaan. Efektif disini artinya adalah setiap orang bisa menjadi sales dengan iming - iming bonus yang diperoleh jika berhasil mengajak orang lain untuk bergabung. Strategi persuasif seperti inilah menurut pandangan saya sangat efektif mengingat orang Indonesia sangat mudah sekali terpengaruh, ditambah lagi orang yang membujuk adalah teman dekat sendiri. Selain itu, strategi ini juga dinilai sangat efisien. Mengapa demikian? sebab perusahaan tersebut tidak perlu lagi mengeluarkan biaya iklan. Pasalnya, setiap orang yang menjadi member akan menjadi sales secara tidak langsung. Bayangkan saja, jika berhasil meraih 100 orang, maka secara tidak langsung perusahaan tersebut memiliki 100 sales. Sangat efisien bukan ? 

Sebenarnya, sebagai sebuah strategi bisnis, MLM sangatlah baik untuk diterapkan. Namun, semakin kesini saya menilai ada sesuatu yang salah dalam strategi bisnis ini. Setidaknya saya mencoba untuk memberikan dua poin alasan mengapa saya mengatakan demikian, yaitu bisnis segitiga yang artinya menguntungkan bagian atas saja dan membeli produk tidak lagi karena membutuhkan atau menginginkan produk tersebut melainkan karena ingin menjadi member sehingga bisa mendapatkan bonus seperti yang dijanjikan. Mari kita bahas satu persatu. 

Pertama adalah umumnya strategi bisnis MLM ini berbentuk segitiga. Setiap orang yang diajak akan berada di bagian bawahnya atau yang biasa disebut dengan kaki - kaki. Oleh karena itu, bagian yang paling atas tentu akan merasa sangat menguntungkan. Tidak perlu bekerja sudah bisa mendapatkan bonus. Semakin tinggi dalam organisasi tentu semakin sejahtera. Bayangkan saja bagaimana owner perusahaan tersebut. Dapat dipastikan akan tersenyum manis melihat uang yang masuk ke rekeningnya setiap hari karena selalu ada yang menjadi member baru tanpa harus bekerja keras.

Yang kedua adalah orang yang paling diuntungkan dalam bisnis ini tentu saja perusahaan. Mereka tidak perlu repot - repot menggaji sales. Setiap orang yang masuk adalah sales. Selain itu, dengan iming - iming bonus, seseorang akan mudah masuk menjadi member yang artinya membeli produk yang dijual perusahaan tersebut. Disinilah menurut saya hal yang salah dalam bisnis ini. Karea konsumen tidak lagi membeli barang sebagai sebuah keinginannya atau kebutuhannya melainkan sebagai syarat untuk menjadi member yang nantinya bisa mencari konsumen lainnya untuk mendapatkan bonus. 

Oleh karena itu, saya memprediksi strategi bisnis ini nantinya akan mati dengan sendirinya ketika kaki - kaki yang paling bawah sudah tidak ada lagi. Sebab, produk ini laku di pasaran bukan karena keunggulan produk melainkan hanya sebuah iming - iming manis sang sales. 



*Ahmad Hidayah 
 Alumnus Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 

Sumber gambar : http://skylarkconceptinc.com/
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Mengkritisi Strategi Bisnis MLM Rating: 5 Reviewed By: mindis.id