mindis.id
Latest News
Sunday, September 11, 2016

Mengapa Kita Harus Malu?

Baca Juga


Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, Indonesia adalah negara yang kental dengan adat ketimuran yang dimilikinya. Di mana salah satunya adalah “rasa malu.” Rasa malu yang memang sudah membudaya dalam kehidupan sehari-hari, karena memang sudah sedari dini kita diajarkan dan ditanamkan untuk memilikinya. Akan tetapi, terkadang muncul beberapa pertanyaan terkait rasa malu yang tak jarang cukup membuat resah diri kita. Apa sih rasa malu itu? Apa perlu kita memiliki rasa malu? Bukankah rasa malu hanya akan menghambat saja? Nah, biar enggak makin bingung mari kita singgung sedikit tentang “rasa malu” dan bagaimana seharusnya kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

1. Rasa malu
Mungkin sebagian dari kita menganggap rasa malu itu perlu dan sebagian lainnya berpendapat jika rasa malu itu tidak perlu dan harus ditinggalkan. Itu sah-sah saja, tetapi biar kita tidak salah dalam bertindak ada baiknya kita mengetahui arti dari kata malu itu sendiri.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, malu memiliki arti merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan dan sebagainya).

Sudah ada gambaran kan, setidaknya dari penjelasan KBBI tersebut kita dapat mengambil simpulan bahwa malu itu adalah perasaan tidak enak di dalam hati yang timbul apabila kita melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang. Misalnya Kurang baik, kurang sopan, kurang adil, kurang bijak dan banyak lagi lainnya. Tapi kenapa wanita-wanita sekarang suka berpakaian yang kurang-kurang ya? Mungkin karena yang lebih-lebih itu terlihat kurang gemes ya?

2. Perlunya rasa malu
Layaknya akal yang diberkahi kepada setiap manusia, rasa malu juga demikian adanya,  dianugerahkan kepada manusia bukan kepada hewan atau makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan.

Rasa malu sejatinya hadir dari hati nurani setiap manusia, guna menunjang hubungan interaksi sosial, yang dalam konteks ini rasa malu akan mencegah dan membatasi kita dalam melakukan tindakan yang dapat  menyakiti, melecehkan bahkan mengambil milik orang lain yang bukan menjadi hak kita.

Terbayang jika kita tidak punya rasa malu, seolah-olah tidak ada perbedaan sifat yang membuat kita bisa berbangga dari makhluk-makhluk hidup tersebut. Namun, ironisnya belakangan sering kita jumpai pihak-pihak yang rela melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji untuk mencapai kepentingan dan kepuasannya sendiri tanpa memikirkan akibatnya terhadap orang lain.

3. Rasa malu bukan penghambat
Pernah suatu kali saya mendengar sebuah pernyataan yang kurang lebihnya berbunyi, “Jika kita ingin maju, jangan malu”. Pertama kali mendengar pernyataan itu, terus terang agak sulit untuk memahaminya. Apakah itu bermaksud, kita harus mengenakan pakaian minim untuk mencapai sukses, atau kita harus korupsi untuk bisa menjadi kaya? Akan tetapi jauh di dalam hati, saya pribadi sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut.

Bukan kepada dua pertanyaan yang muncul itu, melainkan kepada alasan dari pernyataan, “Jika kita ingin maju, jangan malu”. Saya menyimpulkan, mungkin maksud dari ungkapan itu ialah malu untuk mengakui kalau diri kita masih butuh belajar dan menimba ilmu, serta malu untuk mengakui kalau diri kita masih kurang dan perlu untuk berusaha lebih giat lagi. Mengapa demikian? Karena sejatinya rasa malu tidak pernah menghambat kita untuk melakukan suatu kebaikan melainkan yang terjadi adalah sebaliknya. Rasa malu menjadikan kita tetap menjaga kebaikan-kebaikan, nilai-nilai dan norma-norma yang sudah tercipta di dalam masyarakat. Rasa malu membentengi kita dari perilaku mencuri dan tindak tidak terpuji lainnya.

Perlu digarisbawahi, rasa malu berbeda dengan rasa takut. Jika kita pernah diminta untuk menyampaikan pendapat atau mengangkat tangan untuk sekadar bertanya, seringkali kita menahan diri bahkan tak jarang lebih memilih hingga ditunjuk. Rasa takut inilah yang seharusnya kita hilangkan dari diri kita karena nantinya dapat menghambat kemajuan bahkan cenderung membawa kemunduran pada diri kita.

Sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus mengaplikasikan budaya malu yang memang sudah menjadi jati diri negeri ini sejak lama. Menghidupkan kembali adat-adat ketimuran yang kian terkikis dimakan waktu. Bukan tanpa alasan, faktanya di balik cerita kesuksesan negara-negara maju ialah kesadaran diri mereka akan budaya malu serta penerapannya yang teramat dijunjung tinggi, sehingga mereka mampu melakukan sesuatu dan menjalankan apa-apa yang diamanatkan dengan sebaik-baiknya. Jadi sudah tahu kan, mengapa kita harus malu?

*Yuga Andika Ramadhan
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Pamulang, Tangerang Selatan

Sumber gambar: pendekartinta.wordpress.com
  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Mengapa Kita Harus Malu? Rating: 5 Reviewed By: mindis.id